MERINDUKAN HUBUNGAN INDUSTRIAL YANG MEMANUSIAKAN

MERINDUKAN HUBUNGAN INDUSTRIAL YANG MEMANUSIAKAN

Oleh Muhammad Julijanto

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَائِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لِيُخْرِجَنَا مِنَ الضُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ وَيَجْعَلَنَا مِنْ خَيْرٍ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهِ وَاحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَ الْمَخْلُوْقَاتِ. اَللَّهُمَّ صَلٍّى عَلَى مُحَمَّدِ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّابَعْدُ.
فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَيْثُ مَاكُنْتَ وَاتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً -٢٩-
وقَالَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: “لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنيَاهُ لِاَخِرَتِهِ وَلاَ اخِرَتَهُ لِدُنيَاهُ حَتَى يُصِيْبَ مِنْهُمَا جَمِيْعًا, فَاِنَّ الجُّنْيَا بَلَاغٌ اِلَى الاَخِرَةِ, وَلاَ تَكُونُوْا كَلًّا عَلَى النَّاسِ”. رواه ابن عساكر.
Jamaah Jum’ah Rohimakumullah
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-NYA yang tak terhingga kepada kita sekalian semoga kenikmatan tersebut dapat kita daya upayakan semaksimal mungkin untuk kemaslahatan dan kemanfaatan di dunia ini.
Sholawat serta salam kita haturkan untuk Baginda Rasulullah Muhammad Saw atas segala suritauladan dan ajarannya, sehingga kita dapat menikmati keindahan dan keagungan serta ketentraman hidup di dunia terutama upaya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dengan cara bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Marilah kita saling berwasiat tentang iman dan takwa kepada Allah Swt. Sebab iman dan takwa adalah kunci sukses mengarungi samudera kehidupan. Dengan mentaati perintah dan menjauhi larangannya. Semoga samakin hari keimanan dan ketakwaan kita semakin baik.
Jama’ah Jum’ah Tamu undangan Allah yang berbahagia
Kemarin kita memperingati hari buruh internasional. Buruh merupakan aset yang luar biasa bagi perusahan, buruh merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dimuliakan dan dihormati hak-hak politik dan sosialnya dalam kehidupan sosial.
Seiring dengan keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan dan pengusaha, buruh menjadi penopang utama yang menjalankan sistem dalam perusahaan tersebut, sehingga menjadi tanggung jawab dan kewajiban mutlak perusahaan untuk memperhatikan keberadaan dengan pemenuhan berbagai kebutuhan dasar dan hak-hak sebagai buruh maupun karyawan.
Masalah
Apa yang dihadapi oleh buruh dalam perjuangan hak-hak buruh berdasarkan peraturan perundang-undangan yang terbaru beserta konvensi yang sudah dirativikasi Indonesia dan hal tersebut merupakan standar kesejahteraan buruh dalam memenuhi hajat kehidupannya?. Bagaimana pandangan agama Islam dalam persoalan perburuhan dan hubungan muamalah yang benar berdasarkan hak-hak asasi manusia?. Bagaimana hubungan mualamah yang dituntunkan oleh ajaran Islam, sehingga nilai-nilai ajaran Islam bisa memberikan pencerahan dan solusi di tengah keringnya pemahaman keagamaan yang melanda masyarakat saat ini?.
Pembahasan
Tanggal 1 Mei diperingati sebagai hari buruh internasional diberikan kesempatan kepada buruh untuk memperjuangkan hak-hak asasinya baik tentang kesejahteraan, jaminan kesehatan, jaminan hari tua, hak mendapatkan pelayanan pendidikan buat keluarganya dan hak mengekspresikan kebebasannya dalam berserikan dan menyampaikan pendapat di depan umum…buruh merupakan aset bangsa, buruh merupakan aset pengusaha. Sehingga hubungan buruh, negara dan pengusaha mempunyai relasi yang mutualisme simbiosisme. Sudah menjadi semestinya pengusaha memperlakukan buruh sebagai mitra yang sejajar dan saling membutuhkan. Bukan sebaliknya hubungannya saling menguasai bahkan seperti hubungan predator yang berusaha meniadakan…hubungan yang benar antara buruh dengan pengusaha akan menimbulkan harmonis dan keselarasan serta menjaga hubungan humanisme yang terjalin lebih baik, sebab pengusaha akan memanusiakan buruh dan memenuhi segala hak buruh sebagai manusia mulia yang harus diangkat harkat dan martabatnya dengan penghargaan hak-hak buruh dipenuhi secara manusiawi, dengan tanpa memberikan kerugian bagi pengusaha…keuntungan perusahaan dikembalikan kepada buruh untuk kesejahteraan, bukan hanya menekan buruh dan meningkatkan produksi dan keuntungan sebesar-besarnya dalam menjalankan usaha dan bisnisnya.
Inilah hubungan yang sangat mendasar dalam membangun perburuhan yang lebih manusia dan mencerahkan untuk semua umat manusia termasuk para pekerja. Dalam dunia usaha dan ketenagakerjaan, ada wadah Lembaga Kerjasama Tripartit (LKS Tripartit) yang terdiri-dari unsur pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Mereka bisa saling sharing dan bermusyawarah dalam menyelesaikan setiap masalah, sehingga terjalin hubungan yang saling mengtuntungkan dalam bermuamalah-anta raadhin.
Jama’ah Jum’ah Tamu undangan Allah yang berbahagia
Pandangan Islam tentang perburuhan ada satu hadis shohih yang sangat terkenal dalam hubungannya dengan perburuhan yaitu
عَنْ اَبْنُ عُمَرَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَاَلِهِ وَ سَلَّمَ: اَعْطَوُا الاَجِيْرَ أَجْرَهُ قَبْلَ اَنْ يَجِفَّ عَرَقَهُ. (رواه ابن ماجه)
Sahabat Ibnu Umar ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: verikanlah ongkos karyawan (buruh) sebelum kering keringatnya”. (HR Ibnu Majah).
Perhatikan hak-hak buruh sebelum buruh menuntut apa yang menjadi hak dasarnya. Sangat mulia ajaran Islam membimbing manusia mencapai derjat yang mulia di mata manusia dan terhormat di mata Allah Swt….
Islam sangat menganjurkan dan mendorong umatnya untuk bekerja keras, menggunakan waktunya secara produktif sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Saw yang berbunyi:
عَنْ اَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: “لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنيَاهُ لِاَخِرَتِهِ وَلاَ اخِرَتَهُ لِدُنيَاهُ حَتَى يُصِيْبَ مِنْهُمَا جَمِيْعًا, فَاِنَّ الدُنْيَا بَلَاغٌ اِلَى الاَخِرَةِ, وَلاَ تَكُونُوْا كَلًّا عَلَى النَّاسِ”.) رواه ابن عساكر(.
Dari Anas Ra bahwasannya Rasulullah saw bersabda: “Bukanlah yang lebih baik (di antara) kamu itu orang yang meninggalkan dunianya untuk akhiratnya dan bukan (pula) orang yang meninggalkan akhiratnya untuk dunianya, sehingga ia memperoleh kedua-duanya bersama-sama. Sebab sesungguhnya dunia itu menyampaikan ke akhirat; dan jangalah kamu menjadi beban atas manusia (HR Ibnu ‘Asakir).
Nabi memberi petunjuk untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi dan ukhrawi itu, supaya kita memanfaatkan sebaik-baiknya lima macam kesempatan sebagai nikmat Allah yang dianugrahkan kepada kita, sebelum nikmat-nikmat itu hilang dari tangan kita. Lima macam nikmat itu adalah:
Jama’ah Jum’ah Tamu undangan Allah yang berbahagia
Hidup sebagai nikmat yang paling besar. Hendaklah dimanfaatkan untuk perbuatan-perbuatan danh usaha yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akherat. Jangan sia-siakan hidup tanpa mengindahkan perintah dan larangan Allah Swt serta melakukan hal-hal yang merugikan kehidupan dunia dan akherat. Kesehatan sebelum datang sakit. Kesehatan digunakan untuk beramal dan berusaha. Sebab dalam keadaan sehat kita dapat melakukan semua itu dengan sebaik-baiknya. Waktu senggang sebelum datang kesibukan. Jangan habiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna, tetapi produktif dan mendatangkan manfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat luas. Masa muda sebelum datang hari tua. Masa muda masa paling indah dan cemerlang. Pada masa muda tenaga masih kuat, semangat masih tinggi, gairah hidup untuk beramal luar biasa. Maka masa muda harus bisa dimanfaatkan secara optimal untuk menjadi pribadi kita bermutu, berkarakter akhalakul karimah, jangan gunakan masa muda hanya memperturutkan hawa nafsu belaka. Produktifitas dan kreativitas serta kemauan belajar keras dan cerdas menjadi kunci kemajuan bangsa. Memanfaatkan hartanya untuk sesuatu yang mendatangkan manfaat bagi diri, keluarga dan masyarakat luas. Harta mempunyai fungsi sosial.
Jama’ah Jum’ah Tamu undangan Allah yang berbahagia
Maka dalam konteks sosial berkaitan dengan upaya untuk mengumpulkan harta dan melakukan mualamah, melakukankan dengan cara yang adil dan tidak merugikan pihak manapun, sebagaimana Allah Swt berfirman dalam surat An Nisa’ [4]: ayat 29
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيماً -٢٩-
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.
الَّلهُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ, وَالجُبْنِ, وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَ الْمَحْيَا وَ المَمَاتِ. رواه مسلم.
Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari pada kelemahan, kemalasan, dan sifat penakut, dan aku berlindung kepada Engkau daripada azab kubur dan fitnah hidup dan mati (HR Muslim).
Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah Swt sebagus-bagus kehidupan, seikhlas-ikhlas ibadah kepadaNya, dimudahkan dan dilapangkan dalam mencari rizki yang halal, disempurnakan akhlak budi pekertinya dalam kehidupan dan pergaulan masyarakat, diampuni dosa kedua orang tua kami, dosa para guru kami, dosa para pemimpin kami, dimudahkan dalam karya dan cipta, ditambah ilmu dan umurnya yang bermanfaat. Dijauhkan dari segala bentuk bala bencana dan wabah penyakit, kabulkanlah permohonan dan doa kami ya Allah ya robbal’alaimiin.
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَ الذِكْرِ اْلحِكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْ كُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى هَدَنَا لِهَدَى وَمَاكُنَّ لِنَهْتَدِىَ لَوْ اَنْ هَدَنَ اللهَ. لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّتَ اِلاَّ بِاللهِ الْعَلِىِّ اْلعَظِيْمِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهِ وَاحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَ الْمَخْلُوْقَاتِ. اَمَّابَعْد ُ.فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَيْثُ مَاكُنْتَ وَاتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّا بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَضِيْمِ: اِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا اَيُّهَا الْذِيْنَ اَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمُ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاجْعَلْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ .حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِ نِعَامَهُ وَيُكَافِ مَزِيْدَ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَايَنْبَغِ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَضِيْمُ السُّلْطَانِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبُ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا جَمْعًا مَغْفُوْرًا وَتَفَرُقَنَا بَعْدَ هَذَا تَفَرُقًا مَرْحُومًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمِنَا هَذَا أَوَّلُهُ صَلاَحًا وَأَوْسَطُهُ فَلاَحًا وَاَخِرُهُ نَجَاحًا بَاهِرًا بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنَّا نسئَلُكَ سلاَمةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلمِ وَبَرَكَةً فِى رِزْقِ وَتَوبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ المَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ المَوتِ. اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَرَتِ المَوْتِ والنَّجَاةَ من النَّار والعَفْوَ عِنْدَ الحسَاب. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَخَسُّوعَنَا وَجَمِيْعِ عِبَاذَتَنَا وَتَمِّمُ تَكْثِيْرَنَا يَاالله. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةَ حَسَنَةً وَقِنَا عَدَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَائِيْتَائِىذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَااذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهْ عَلَى نِعَمَهُ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهُ أَكْبَرُ.

Daftar Pustaka
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=325684. Diakses, 1/5/2013.

ULIL AMRI DALAM PENERAPANNYA DI INDONESIA

ULIL AMRI DALAM PENERAPANNYA DI INDONESIA
Oleh Muhammad Julijanto

Pendahuluan
Pembicaraan tentang ulil amri pernah menghangat ketika Wakil Menteri Agama RI Prof Dr H Nazaruddin Umar MA melalui media massa mengatakan bahwa siapa yang tidak memulai puasa sebagaimana ditetapkan pemerintah berarti tidak taat alias menentang ulil amri. Wakil Menteri Agama menganggap dirinya dan institusinya sebagai ulil amri (news.detik.com). Sementara ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr HM Din Syamsuddin melalui media massa pula menganggapi pernyataan Wakil Menteri Agama itu dengan mengatakan bahwa Kementerian Agama bukan ulil amri (news.liputan6.com). Yang dimaksud dengan ulil amri adalah mereka yang memiliki otoritas.
Masalah
Apa yang dimaksud dengan ulil amri, siapa yang berhak disebut ulil amri dan bagaimana konsekwensi dari keberadaan ulil amri dalam penerapannya di Indonesia?
Pengertian
Ulul amri atau ulil amri berasal dari kata ulu dan amr. Ulu artinya ‘yang memiliki’. Ulul albab artinya yang memiliki pemikiran, ulul aid berarti yang memiliki kekuatan. Ulul ilm para ilmuwan. Ulul abshar yang memiliki proyeksi ke depan.
Di dalam Alquran istilah yang mempunyai akar kata yang sama dengan amr dan berinduk kepada kata a-m-r, dalam Alquran berulang sebanyak 257 kali. Sedang kata amr sendiri disebut sebanyak 175 kali dengan berbagai arti, menurut konteks ayatnya. Kata amr bisa diterjemahkan dengan perintah (sebagai perintah Tuhan), urusan (manusia atau Tuhan), perkara, sesuatu, keputusan (oleh Tuhan atau manusia), kepastian (yang ditentukan oleh Tuhan), bahkan juga bisa diartikan sebagai tugas, misi, kewajiban, dan kepemimpinan . Dalam bahasa Inggris, Hanna E Kassis memberikan beberapa terjemahan seperti a command commandment, a bidding, task, matter, affair dan a thing.
Menurut Raghib al-Isfahani, ulil amri adalah 1) para pemimpin kabilah di zaman nabi, 2) para imam dari ahlul bayt, 3) para tokoh yang mengajak kepada kebaikan (al amirun bil ma’ruf), siapa pun orangnya, jika ia mengajak kepada kebaikan, maka ia adalah ulil amri. Masih menurut al Isfahani dikatakan oleh Ibnu Abbas bahwa ulil amri adalah fuqaha dan mereka yang taat kepada Allah serta memiliki keahlian di bidang agama.
Dasar Hukum:
An Nisaa’ [4]: ayat 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً -٥٩-
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul, dan ulul amri di antara kalian. Kemudian jika kalian bersilang pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat. Hal itu lebih utama dan lebih baik akibatnya (bagi kalian).
Ayat ini sering disebut untuk merujuk kepada kata ulil amri dalam surat An Nisa’ [4]: 58. Dalam tafsir Al Mawardi, berdasarkan riwayat As Sady, disebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan adanya pertengkaran antara Ammar bin Yassir dengan Khalid bin walid, pemimpin ekspedisi yang dikirimkan oleh Nabi Saw ke suatu tempat di luar Madinah. Sedangkan menurut Ibn Abbas, demikian Al Mawardi, ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Huzaifah bin Qays As Samhi ketika Rasul mengangkatnya menjadi pemimpin dalam Sariyah .
Muhammad ‘Ali dalam tasfirnya The Holy Qur’an (edisi pertama, 1917), mencoba merumuskan seluruh ayat itu dalam suatu pengertian saja, Ayat ini menggariskan tiga aturan tentang hal yang berhubungan dengan kesejahteraan umat Islam, teristimewa dengan urusan pemerintahan: 1) taat kepada Allah dan utusan, 2) taat kepada yang memegang kekuasaan di antara kaum muslim, 3) mengembalikan kepada Allah dan utusan-Nya jika terjadi perselisihan dengan pihak yang berkuasa. Kata ulul amri menurut ahli tafsir berarti orang yang memegang kekuasaan. ini mempunyai arti yang luas, sehingga perkara apa saja yang bertalian dengan kehidupan manusia, mempunyai ulul amri sendiri-sendiri .
Sebelum turunnya ayat di atas, kesidiplinan umat Islam sengat rendah, padahal mereka selalu menghadapi perlawanan dari suku-suku sekitar Madinah yang memusuhi Rasulullah dan orang-orang beriman. Ketidakdisiplinan itu merupakan karakter tribalisme yang mewarnai perikehidupan mereka. Untuk itu dibutuhkan sebuah doktrin yang mewajibkan mereka tertib dan teratur dalam satu komando. Dengan turunnya ayat di atas, ketrtiban dan disiplin bukan hanya kebutuhan melainkan ketentuan agama.
Karena umat telah menunjukkan ketaatan, maka para pemimpin umat harus menjalankan tugasnya dengan penuh amanat dan tidak berbuat kemaksiyatan. Para pemimpin umat harus mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.
An Nisa’ [4]: ayat 83
وَإِذَا جَاءهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُواْ بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِي الأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلاَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاَتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلاَّ قَلِيلاً -٨٣-
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka pun menyebarkannya. Kalaulah mereka mengembalikannya kepada rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya dapat mengetahuinya dari mereka. Kalaulah tidak karena Karunia Allah kepada kalian dan Rahmat-Nya, niscaya kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja.
Kebanyakan orang mengartikan ulil amri dengan pemimpin politik, penguasa, atau kepala negara, seperti presiden, raja, bahkan menteri. Akan tetapi jika dihubungkan dengan ayat lain yang juga bicara tentang ulil amri, yaitu An Nisa’ [4]: 83, maka mengartikan ulil amri dengan penguasa atau kepala negara tidak tepat, sebab dalam ayat tersebut ulil amri bermakna mereka memiliki otoritas di antara kamu. Sementara pemegang kuasa pada waktu itu adalah Rasulullah Saw sendiri.
Ulil amri yang harus ditaati
Para ulama ahli tafsir dan ahli hadits berbeda-beda pendapat tentang ulil amri yang wajib ditaati adalah: 1) raja-raja dan kepala pemerintahan yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, 2) para raja dan ulama yang menjadi sumber rujukan keputusan para raja, 3) para amrir di zaman Rasulullah Saw dan sepeninggalan beliau berpindah kepada khalifah, qadi, komandan militer, dan mereka yang meminta anggota masyarakat untuk taat atas dasar kebenaran, 4) para ahli ijtihad tentang hukum agama atau yang disebut ahl al halli wal aqdli, yaitu mereka yang memiliki otoritas untuk menetapkan hukum, 5) para raja yang benar dan kepala negara yang adil, sedangkan yang zalim tidak wajib ditaati.
Krtiteria Ulil amri
– Harus taat kepada Allah dan rasulnya
– Menunaikan shalat, zakat, mencegah perbuatan keji dan munkar
– dasar keimanan, memliki kompetensi dalam bidangnya, tokoh yang profesional dan orang-orang yang memiliki otoritas.
– secara bahasa pemilik otoritas, Al Maidah [5]: 55, harus beriman kepada Allah dan Rasulullah, manifestasi iman melakukan hal-hal yang bermanfaat di sekitarnya, harus menunaikan shalat, korupsi kolusi nepotisme, kalau salah mengundurkan diri, mengeluarkan zakat, membersihkan harta . Empat kriteria umara’ atau ulil amri.
– ulil amri syar’i pemegang urusan kaum muslim. Antum a’lamu bi umuri dunyakum.
– taat kepada Allah dan Rasulnya itu mutlak, wajib termasuk ulil amri, kalau ulil amri tidak taat kepada Allah dan Rasulnya tidak wajib ditaati. Terjadi selisih pendapat kembalikan kepada Allah dan Rasulnya. Yang wajib ditaati dalam rangka syar’i dalam penetapan awal dan akhir ramadhan.
– kriteria umum ulil amri rujuk kepada Alquran dan sunnah, integritas sidiq benar menurut Allah, jujur, amanah hubungan manusia dengan manusia, ulil amri itu cerdas membaca situasi, mengkomunikasikan.
– ulil amri tidak dikotori pertimbangan duniawi, ketaatan dalam yang ma’ruf, kembali kepada ayat itu, awalnya orang iman, akhirnya juga orang iman. Ulil amri itu yang organisasi dan pemimpin kita.
– Alquran dan Sunnah sebagai alat kontrol dalam ketaatan.
– Ahmad Azhar Basyir menjelaskan pemerintahan negara menurut ajaran Islam mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut: 1) pemerintahan qur’ani ketentuan dalam Surat An Nisaa’ [4]: 59 bahwa pemerintahan negara menurut ajaran Islam wajib tunduk kepada Alqur’an. Alqur’an hukujm tertinggi yang berlaku dan menjadi landasan utama dalam menentukan batas-batas hak-hak dan kewajiban-kewajiban pada umumnya; hak-hak dan kewajiban-kewajiban pemerintahan terhadap rakyat, hak-hak dan kewajiban-kewajiban rakyat terhadap pemerintah, demikian pula hak-hak dan kewajiban-kewajiban antara sesama warga negara harus diatur sesuai dengan petunjuk Alqur’an. 2) pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang demokratis berdasarkan musyawarah. Alqur’an mengajarkan bahwa sifat orang-orang yang mukmin suka bermusyawarah dalam memecahkan urusan bersama surat Asy Syura [43]: ayat 38 .
Ulil amri Dalam Penerapannya di Indonesia
– Ulil amri adalah setiap orang yang memiliki otoritas dan keahlian yang menyangkut kepentingan orang banyak. Ia bisa pejabat publik atau pun tokoh sektor swasta. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha telah memperluas cakupan ulil amri itu sehingga ia tidak lagi menjadi monopoli penguasa.
– Ketaatan kepada ulil amri terbatas selama ulil amri itu memerintahkan kepada hal-hal yang mendatangkan manfaat. Jika apa yang disampaikan oleh ulil amri berdampak kepada kerusakan di masa yang akan datang, maka tidak ada kewajiban bagi umat Islam untuk mentatatinya.
– Perbedaan pendapat di kalangan umat adalah suatu hal biasa, baik antar anggota masyarakat maupun antara anggota masyarakat dengan pemilik otoritas atau ulil amri. Jika terjadi perselisihan pendapat, maka keduanya harus merujuk kepada prinsip-prinsip dasar Alquran dan As Sunnah. Selama mereka melakukannya dalam rangka mengemban amanat, melalui prinsip-prinsip musyawarah, dan menjauhi segala kemungkaran, insyallah keputusan yang baik dan bermanfaat bagi semua pihak akan terwujud.
– Ulil amri secara bahasa, dan istilah, syar’i. Bukan ulil amri secara syar’i. Secara bahasa orang yang punya urusan,
– secara istilah ulil amri adalah ahlul qur’an dan ‘ilm, para fuqaha, umara’, ahli ilmu. Para sahabat abu bakar dan umar bin khatab, menurut Mustafa Al Maraghi yang termasuk ulil amri adalah umara’ ahli hikmah, ulama, pemimpin pasukan, dan seluruh pemimpin lainnya dan zuama yang manusia merujuk kepada mereka dalam hal kebutuhan dan kemaslahan umum .
– Ulil amri menurut syar’i adalah yang diangkat secara Islami menurut Alquran dan As Sunnah makbulah, dengan tugas untuk menjaga agama serta untuk kemaslahatan umat.
– Secara syar’i ulil amri adalah umara’nya atau pemerintahnya kaum muslimin yang diangkatnya secara Islami, dan diangkat untuk menjaga agama serta untuk kemaslahatan umat. Pemerintah RI beserta Kemenag hanya masuk ulul amri dalam pengertian secara bahasa dan istilah, tetapi secara syar’i belum masuk. Sebab mereka Pemerintah RI dan Kemenag dibentuk bukan untuk secara Islami dan bukan untuk menjaga kepentingan agama Islam saja. Pemerintah Indonesia belum termasuk dalam pengertian syar’i.
– Landasan normatif : An Nisaa’ [4]: 59, Al Maidah [5]: 55 dan 57
– Bukhari 1744, muslim 1840,
– Kriteria 5: 1) harus beriman, 2) mendirikan shalat-kejujuran, 3) membayar zakat-mengeluarkan dan mensucikan hartanya-konsep thaharah-suci mensucikan pemimpin yang bersih dan bisa membersihkan orang lain, 4) patuh kepada Allah Swt, 5) mempunyai loyalitas kepada kaum muslimin.
– Ulil amri dikatakan ulil amri, tetapi tidak wajib ditaati, secara syari’i tidak. Yang wajib kita taati adalah para pemimpin Muhammadiyah karena mereka dibentuk dan didirikan untuk menjaga agama Islam.
– Apakah Indonesia masuk dalam kriteria ulil amri, kriteria ulil amri secara syari’i, mentaatinya tidak wajib, ulil amri bagi warga Muhammadiyah kepada Muhammadiyah.
– Taat pada ulil amri untuk memberi isyarat bahwa ketaatan kepada mereka tidak berdiri sendiri tetapi berkaitan atau bersyarat dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul, dalam arti bila perintahnya bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka tidak dibenarkan untuk taat kepada mereka . Dalam hal ini dikenal kaidah
– لاطاعة لمخلوق في معصية الخالق
– Tidak dibenarkan adanya ketaatan kepada seorang makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq (Allah).
– Pemerintah Republik Indonesia tidak termasuk kriteria ulil amri.

Daftar Pustaka
Abu Abdullah Muhammad Ibnu Ahmad Al Anshari Al Qurthubi, Al Jami’ li Ahkam Al Qur’an
Ahmad Azhar Basyir, Refleksi Atas Persoalan Keislaman Seputar Filsafat, Hukum, Politik dan Ekonomi,1993.
Al Raghib Al Isfahani, Al Mufradat Fi Gharib Al Qur’an.
M Dawam Raharjo, Ensikopedi Al Qur’an Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci, Jakarta: Paramadina, 1996.
M Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 1996.

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag anggota Mejelis Tarjih dan Tajdid PDM Wonogiri, dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta, makalah disampaikan pada Pengajian Jum’at Wage, 21 Maret 2014.

PERAN MAHASISWA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

PERAN MAHASISWA SEBAGAI AGEN PERUBAHAN
Oleh Muhammad Julijanto

Gunakan upaya yang hebat dari hal-hal yang sepele, lipatkan daya juang dan lihatlah hasilnya insya Allah hasilnya akan luar biasa. Pelajari keberhasilan orang-orang sukses dan ambil pelajaran kegagalan orang-orang yang gagal dalam persaingan untuk diambil pelajaran yang paling berharga. Apa hikmah yang dapat dipetik?. Adakah cukup ikhtiar, usaha dan kerja keras, ataukah perpaduan antara ikhtiar usaha kerja keras dan doa serta ridha Allah Swt….be the best…

Pendahuluan

Mahasiswa merupakan harapan bangsa. Di pundak mahasiswa kemajuan suatu bangsa akan dipegang. Karena mahasiswa merupakan elit pemuda yang terdidik. Mereka yang mengenyam pendidikan tinggi di bdaningkan dengan yang lain. Mereka menempati struktur sosial tertentu di bdaing yang lain.

Oleh karena itu mahasiswa mempunyai peran strategis dari elit generasi muda suatu bangsa. Sebuah ungkapan menyatakan bahwa generasi muda merupakan sumber insani pembangun. Dan mahasiswa ada di dalamnya.

Tulisan ini memaparkan beberapa point penting dalam pertanyaan berikut; Siapa mahasiswa sesungguhnya? Apa yang harus mereka lakukan untuk meraih masa depan yang lebih baik?. Apa bedanya mahasiswa biasa dan mahasiswa aktivis?. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan sehingga berorganisasi memberikan dampak yang lebih baik di masa yang akan datang?

Sebuah peta perjalanan hidup

Manusia hidup terbagi menjadi beberapa episode. Episode pertama adalah kelahiran di muka bumi dalam keadaan fitrah. Perkembangan, pertumbuhan dan pembentukan kepribadian dan keyakinan tergantung pada lingkungan sekitar dalam hal ini keluarga terdekat, tetangga sekitar, lingkungan pendidikan, dan masyarakat pada umumnya.
Episode ini manusia laksana lembaran kertas putih tak ternoda seiring dengan pertumbuhannya menjadi masa balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan menjadi tokoh masyarakat, bahkan menjadi tokoh dunia yang bisa menginspirasi yang lain, dengan karya dan prestasinya di bidangnya.

Masa remaja adalah masa pencarian identitas diri. Pembentukan kepribadian akan berkembang baik jika dia menemukan idola, seperti apa dia mencitrakan dirinya. Seperti idola yang baik, kepribadian utama, kemajuan intelektual, kemampuan bergaul yang berpedomanan pada akhlakul karimah.

Episode remaja perlu mendapat bimbingan, sebab kegagalan masa remaja dalam identitas diri dan menemukan figur yang salah, menemukan lingkungan yang tidak baik untuk pertumbhan dan perkembangan intelektualitasnya, maka tidak menutup kemungkinan masa depannya semakin kacau. Maka masa ini dituntut kepada generasi muda untuk mencari fuigur atau idola yang menuntun kebenaran, kesusksesan dalam lingkungan ilmu pengetahuan, keterampilan, skil dalam bakat serta minatnya, dan keunggulan akhlakul karimah.

Belajarlah pada biografi orang-orang berhasil, tentu seseorang akan berhasil dengan cara mempelajari kesuksesan orang lain yang lebih sukses dari apa yang dihadapi sekarang untuk diambil pelajaran mendapatkan resep-resep mengelola kehidupan dan kiat-kiat suksesnya dapat ditransformasikan pada keberhasilan kita. Stagnasi aktivitas intelektual mahasiswa. Kondisi obyektif kehidupan mahasiswa.

Semakin kuatnya pola perilaku yang berdirikan semangat kapitalis dalam pengertian negative dalam kehidupan mahasiswa dewasa ini, seperti mengutamakan kegiatan-kegiatan yang secara pragmatis lebih menjanjikan masa depan yang jelas.

Semakin rendahnya aspirasi mahasiswa terhadap dunia politik menyebabkan pula menurunnya minat mahasiswa untuk aktif dalam organisasi atau kegiatan intelektual yang menguras banyak pemikiran.

Situasi padat kuliah dan singkatnya masa perkuliahan di perguruan tinggi menyebabkan mahasiswa kurang tertarik pada aktivitas kemahasiswaan (organisasi) yang kurang memberi dampak langsung bagi peningkatan kualitas akademik indeks prestasi komulatif (IPK). Kondisi yang demikian menyebabkan mahasiswa cenderung academic oriented.

System pendidikan yang cenderung menciptakan mahasiswa-mahasiswa yang tidak menyadari bahkan menjadi beban masyarakat, sementara pembangunan yang dijalankan belum dapat memperbesar kesempatan kerja. Disamping itu aspek-aspek pembentukan sikap kepribadian belum tergarap dengan baik.

Hakikat manusia mempunyai dua kepribadian; kepribadian intelektual yaitu suatu kepribadian menalar, menelitik, mengkritisi dan membuat pemecahan masalah. Kepribadian syari’at (hati nurani) kepribadian merasa, merasakan kebahagiaan, penderitaan, keterbatasan.

Manusia yang berkualitas antara lain; memiliki iman dan taqwa serta moralitas, memiliki tanggung jawab peribadi dan sikap jujur, memiliki fisik atau jasmani yang sehat, menghargai ketepatan waktu, memiliki etos kerja yang tinggi, memiliki visi yang jelas mengenai masa depannya, menghargai dan memiliki ilmu pengetahuan (Syahrin Harahap, 1997: 91).

Ciri manusia modern menurut Alex Inkleles adalah kecenderungan menerima gagasan baru, kesediaan menyatakan pendapat, kepekaan pada waktu, dan lebih mementingkan waktu kini dan mendatang ketimbang waktu yang telah lalu, rasa ketepatan waktu yang lebih baik, keprihatinan yang lebih besar untuk merencanakan organisasi dan efisiensi, kecenderungan memandang dunia sebagai suatu yang bias dikalkulasi, menghargai kekuatan ilmu dan teknologi, dan keyakinan bahwa keadilan bias diratakan.

Ada lima poin penting dalam masalah pembinaan generasi muda antara lain: 1). Pendidikan akidah –tauhid, 2). Pendidikan ibadah –shalat, 3). Pendidikan sosial-kemasyarakatan, 4). Pendidikan ketahanan jiwa-sabar-tawakal, 5). Pendidikan akhlak-tidak sombong.

Pengembangan organisasi mahasiswa

Makna dalam konteks organisasi sangat dibutuhkan berbagai perangkat yang mendukung konsep kaderisasi yang efektif dan multi fungsional dalam aplikasinya di masyarakat; oleh karena itu dibutuhkan konsep pengembangan organisiasi yang lebih kondusif bagi penyemaian kader secara nasional., dalam pengembangan organisasi perlu memenuhi criteria sebagai berikut:
Pertama, pengembangan organisasi sangat terkait dengan perencanaan strategis yang membawa perubahan di dalam organisasi, menyangkut tujuan dan spifisikasi obyektif berdasarkan suatu diagnosa problematika yang melingkupi organisaisi.

Kedua, bahwa pengembangan organisaisi berimplikasi pada perubahan perilaku anggota, yang diarahkan pada pola kerja sama partisipatif, sehingga organisasi dapat mencapai efektifitas yang tinggi.

Ketiga, program pengembangan diarahkan pada pola kinerja hingga mana anggota organisasi berlomba mencapai prestasi terbaiknya (fastabiqul khairat).

Keempat, pengembangan organisasi harus merupakan suatu kumpulan nilai manusiawi, baik mengenai masyarakat, anggota organisasi, sehingga organisaisi dapat membuka peluang bagi pengembangan potensi manusia (anggotanya), termasuk organisasi mahasiswa baik intra maupun ekstra kampus.

Kelima, pengembangan organisasi merupakan represantasi dari pendekatan sistem yang menyangkut hubungan berbagai divisi, departemen, kelompok dan individu-individu yang saling bergantungan dalam sub-sistem organsisiasi dan di dalam organisais secara menyeluruh.

Gerakan Mahasiswa

Gerakan intelektual yang dilakukan oleh organisasi mahasiswa intra kampud maupun ekstra sejauhmana, siapa kader-kader bangsa yang berpresatasi di pentas nasional menjadi mahasiswa yang akademik oriented dan mahasiswa yang haus akan kekuasaan sebagai akader politik dari partai politik yang setelah sebagai mahasiswa akan menerjunkan diri dalam dunia politik sebagai bagian dari anggota partai politik, apa sebagai bagian masyarakat yang menjadi sumber daya manusia (human resourses) sumber insani pembangunan yang dimiliki berkiprah dalam bidang dunia kewirausahaan sebagai pengusaha yang handal dan jago dalam mengembangan ekonomi umat, menjadi ahli dalam cor bisnisnya sesuai dengan ilmu yang diminatinya.

Gerakan pengkaderan yang dilakukan organisasi mahasiswa baik intra kampus maupun ekstra kampus dapat dilihat dari sejauhmana jumlah mahasiswa Indonesia yang terserap dan aktif sebagai aktivis mahasiswa dan berapa jumlahnya dari prosentase mahasiswa yang berkiprah dalam organisasi dengan jumlah mahasiswa yang hanya asik belajar dan studi di kampus tanpa tahu apa yang harus mereka perbuat untuk berpartisapsi sebagai organisasi mahasiswa.

Mahasiswa aktivis vs Mahasiswa Biasa

Sebagai elit pemuda mahasiswa mestinya membakali diri dengan berbagai skil dan keterampilan, termasuk di dalamnya dalam bidang leadership-kepemimpinan, sebab mahasiswa akan menjadi tokoh di masa yang akan datang. Sebagaimana ungkapan subbanul yaum wa rajulul ghad-menjadi pemuda saat ini dan kelak akan menjadi tokoh masa yang aka datang. Sehingga sangat naif bila mahasiswa hanya sekedar mencari ilmu tanpa membekali dengan aneka ketrampilan dalam mengembangkan potensi intelektual maupun jiwa mudanya.
Maka bila kita buat tipologi mahasiswa akan terbelah menjadi dua kelompok mahasiswa secara umum. Yang pertama kelompok mahasiswa yang hanya sekedar kuliah an sich dalam mengisi waktu dan kegiatannya. Dan kelompok mahasiswa yang kedua adalah mahasiswa yang terlibat aktiv dalam kehidupan dan dinamika intelektual organisasi mahasiswa.

Mahasiswa an sich hanya akan mendapatkan dari apa yang disampaikan dalam perkuliahan, dari tatap muka dan tugas mandiri yang secara konsisten dilaksanakan dengan baik. Bila mahasiswa ini mampu memenuhi standar kompetensi (SK) yang diajarkan dalam mata kuliah tersebut, mereka kelak akan ahli dalam mata kuliah yang dipelajari saja…selebihnya bisa mengembangkan diri melalui disiplin ilmu dengan melahap semua buku yang relevan dengan ilmu dan kegiatan yang berhubungan dengan keilmuan yang ditekuni saja. Type mahasiswa ini hanya akan menjadi sebagaimana ilmu yang dipelajari.

Sedangkan type mahasiswa yang bergulat dan bergelut dengan dunia aktivis mereka terlibat dalam dinamika pemikiran baik yang berkaitan dengan isu-isu bidang minat keilmuannya, maupun isu-isu gerakan mahasiswa serta mengelola berbagai kegiatan dan terlibat intensif secara intelektual. Tentu mahasiswa yang terjun dan mengelola organisasi mahasiswa akan jauh mempunyai advantage comparative-keunggulan dibandingkan dengan mahasiswa hanya mengikuti perkuliahan saja atau mahasiswa pasif (non aktivis).

Mahasiswa aktivis akan mempunya banyak jaringan (net working) yang di kemudian hari akan menjadi modal dalam mengembangkan karir baik dalam dunia intelektual-mejadi pemikiran dan konseptor, maupun menjadi profisional dalam kecakapan dan keahlian tertentu sesuai bakat minatnya, seperti menjadi guru, menjadi dosen, menjadi hakim, menjadi advokat, menjadi profesional dalam perbankan dll. Mahasiswa aktivis pada hakikatnya adalah sedang melakukan investasi diri untuk menyiapkan sebagai kader bangsa, kader umat dan kader masa depan. Karena mereka tidak hanya asyik mengurus diri sendiri, tetapi peduli dan bisa mencurahkan perhatian yang berbeda dalam satu waktu, yaitu berpikir pragmatis tentang bagaimana kuliah cepat selesai dengan hasil maksimal dan pada saat yang sama menjadi organisastoris yang harus membagi waktu antara belajar dan mengurus organisasi. Maka hasil akhirnya tentu berbeda dan bobotnya akan lain dari hanya sekedar menjadi mahasiswa. Mahasiswa aktivis akan belajar leadership-kepemimpinan baik secara teoritik yang diajarkan dalam setiap pembekalan setelah dilantik menjadi pengurus melalui up grading organisasi, melalui diskusi-diskusi, rapat-rapat ketika akan mengambil keputusan organisasi, mereka juga belajar bagaimana menjalin komunikasi secara langsung dengan berbagai macam pemimpin sesuai dengan levelnya, bahkan bisa bertemu dengan tokoh-tokoh penting dalam dunia profesional maupun politik, yang itu semuanya akan memberi bekal yang signifikan dalam karir di masa yang akan datang.
Memang mahasiswa aktivis sangat banyak korban waktu, bahkan mungkin usang saku bisa tombok, mereka merelakan masa bersenang-senang dengan waktunya…mengkonversi masa dan waktunya dengan terlibat secara intensif dalam mengelola teman-teman seangkatanya, membina adik-adik dibawahnya, mengajak dan mempengaruhi agar bisa menjalankan roda organisasi mahasiswa tetap bisa berjalan dan memberikan kontribusi kepada nusa bangsa dan agama.

Kalau saya gambarkan aktivis mahasiswa adalah khairun nass anfua’uhum lin naas-karena berusaha memberikan manfaat kepada yang lain melalui organisasi yang diikuti dan berhikmat di dalamnya. Dengan organisasi akan memberikan dampak lebih baik pada masyarakat.

Langkah-langkah strategis

Oleh karena itu untuk bisa mengoptimalkan peran dan semangat motivasi mahasiswa perlu melakukan langkah-langkah strategis antara lain: Tradisi intelektual bisa dibangun dengan memperkuat beberapa hal.

Pertama, memperkuat tradisi membaca. Membaca, harus dijadikan ‘fardhu ain’. Sebab, kalau digeser menjadi ‘fardhu kifayah’, akan cenderung diwakilkan kepada yang lain. “Jadikan buku sebagai pacar pertama ,”

Kedua, adalah tradisi menulis. Tradisi ini harus dipaksa untuk bisa dilakukan semua kader. Menurutnya, tradisi menulis ini tidak perlu diganti dengan tradisi menulis SMS. “Menulis status di Facebook dan twitter penting, tetapi jangan sampai menggeser tradisi menulis,” berkarya, melakukan riset baik untuk kepentingan ilmiah, akademik maupun untuk kepentingan menjawab kegelisahan intelektual dimana realitas masyarakat tidak sama dengan idealitas yang kita citakan. Disinilah adanya kesenjangan yang bisa dijadikan sebagai upaya mencari pemecahan masalah yang ada di sekitar kita, sebagai bentuk tanggung jawab intelektual untuk memberikan solusi tersebut.

Sedangkan yang ketiga, adalah tradisi berdebat. tradisi rapat pengambilan kepetusan dan kebijakan organisasi diambil melalu diskusi dan kajian yang mendalam, sekalipun juga mengambil langkah yang stratetgis dan responsif, sehingga tidak hanya sekedar pembahasan yang dangkal, tradisi berdiskusi, tradisi kelompok studi, tradisi kajian, tradisi seminar, workshop, peningkatan kapasitas keahlian Namun, perlu disadari bahwa bahwa tradisi berdebat ini bukanlah berdebat secara kusir, tetapi debat yang akademik dan rasional.

Penutup
Semoga semuanya menjadi lebih baik dan memberikna kontribusi untuk Indonesia ke depan dengan peran-peran strategis mahasiswa.

* Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag. adalah Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta, Sekretarias Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Islam (LKBHI) IAIN Surakarta, Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Perisai Kebenaran Wonogiri. Tim Advokasi Majelis Hukum dan HAM PWA Jawa Tengah.

artikel ini pernah disampaikan pada Sharing dan Diskusi DPM IAIN Surakarta yang bertajuk Motivasi Organisasi dan Perkembangan Gerakan Mahasiswa di Indonesia, Graha Mahasiswa IAIN Surakarta, Senin, 17 Maret 2014.

MENUNGGU ANTUSIASME RAKYAT DALAM PEMILU 2014

MENUNGGU ANTUSIASME RAKYAT DALAM PEMILU 2014
Oleh Muhammad Julijanto

Salah satu unsur yang menentukan dalam pelaksanaan pemilihan umum adalah perubahan orientasi rakyat dalam pendidikan politik rakyat, bagaimana perubahan pendidikan politik rakyat itu berlangsung.
Semangat penyelenggaraan pemilu dengan meningkatkan pemahaman politik rakyat erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia, ia muncul karena sumber daya manusia tak berkualitas, oleh karena itu penyadaran politik terus dibangkitkan sehingga tidak menjadi batu sandungan dalam pengembangan system demokrasi bangsa Indonesia.
Kematangan politik rakyat akan terlihat jika sebagian besar masyarakat pemilih menggunakan hak pilihnya secara rasional dengan pemahaman penuh tentang hak-hak politik dan kewajiban warga negara. Pengetahuan itu sangat mendasar. Mengenai hak warga negara, apa yang seharusnya mereka lakukan dalam pemilihan umum, mengenai target yang akan dicapai dalam pemilihan umum, mengenai partai mana dan calon mana yang harus mereka pilih. Sehingga mereka betul-betul bisa menggunakan hak pilih mereka sesuai dengan hati nurani masing-masing. Jadi dengan kesadaran penuh mereka berperan dalam pemilu.
Pendidikan politik adalah upaya penyadaran akan apa hakikat pemilu, bagaimana rakyat dapat menghayati pemilu itu diselenggarakan, mengapa pemilu diadakan, bagaimana manfaat yang dapat diperoleh oleh rakyat dalam mencapai pemilu yang demokratis. Kesadaran itu tidak hanya tumbuh secara alami tetapi harus melalui proses pembelajaran yang secara intensif.
Sebagai penyelenggara pemilu pemerintah melalui Komisi Pemilihan Umum beserta perangkatnya harus dapat meyakinkan rakyat bahwa pemilu diselenggarakan tidak hanya sekedar ritual demokrasi yang tanpa makna dan tidak menghasilkan perubahan sosial yang signifikan untuk kesejahteraan dan kemajuan bangsa, tetapi pemilu diselenggarakan dengan biaya dan dana yang besar sangat berharap dapat terjadinya perubahan sosial yang konstruktif guna membentuk suatu kepemimpinan yang mendapat dukungan (support) dari berbagai kalangan, mampu meningkatkan derajat kesejahteraan secara materiil dan spiritual dengan penghayatan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, rasa nasionalisme yang tinggi.
Pemilu diselenggarakan untuk menghindari terjadinya kekuasaan yang terpusat pada sekelompok orang tanpa mekanisme konstitusi yang jelas, sehingga ada kompetisi rasional, obyektif dan siap menang dan demikian juga siap kalah menjadi rakyat biasa. Kedewasaan demokrasi inilah yang harus dipahami dan dihayati agar pembangunan sistem politik bangsa ini semakin kokoh. Bukan sebaliknya dalam setiap permainan dan persaingan politik tidak siap untuk menjadi pemain yang kalah. Kalah dalam persaingan bukanlah suatu kehinaan, pemahaman seperti ini perlu, sehingga tidak perlu terjadi tindak kekerasan, konflik yang berlarut.
Pengalaman beberapa waktu yang lalu dalam pesta demokrasi baik tingkat daerah (local) maupun nasional kesiapan untuk kalah dalam permainan politik dibutuhkan psikologi massa yang baik. Terutama kasus kekalahan Megawati Sukarno Putri dari KH. Abdurrahman Wahid dalam pemilihan presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) hasil pemilu tahun 1999 yang menimbulkan luapan emosi pendukungnya dan demikian juga kekalahan kubu Mardidjo bersaing dengan Mardiyanto dalam pemilihan gubernur Jawa Tengah pada Agustus 2003 sebagai bahan pelajaran bagi elit politik dan pendukungnya untuk menyadari hal demikian. Kalah dan menang hakikatnya adalah sama untuk membangun system politik yang kokoh bangsa ini kedepan. Inilah pekerjaan berat elit politik untuk memberikan pendidikan politik terhadap konstituennya. Tanpa pemahaman demikian dalam kehidupan politik bangsa kita selalu kembali ke belakang (set back).

Perubahan Paradigma Politik
Adapun semua tahapan pemilu perlu diwaspadai kemungkinan negatifnya, sehingga dapat dieleminir sedemikian rupa dari meledaknya kekerasan. Sebab pada Pemilu tahun 2014 mengalami perubahan Perubahan Paradigma Politik antara lain;
Pertama system pemilu berdasarkan UU No 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota menggunakan system proporsional dengan daftar terbuka untuk pemilu anggota DPR, DPRD.
Artinya bahwa pemilu akan memilih gambar partai dan memilih calon anggota legislative, sehingga sahnya pencoblosan adalah memilih gambar partai politik dan nama calon anggota legislative yang berada dibawah gambar partai politik peserta pemilu. Dan pemilu anggota DPD menggunakan system distrik berwakil banyak. Setiap provinsi mempunyai jatah 4 kursi untuk diperebutkan menjadi anggota DPD
Kedua, adanya pembagian daerah pemilihan. Daerah pemilihan akan menentukan jumlah kursi yang diperebutkan oleh partai politik peserta pemilu untuk duduk di DPR dan DPRD. Semakin banyak pembagian daerah pemilihan akan berpengaruh kepada nilai ideal keterwakilan anggota DPR, DPRD terhadap konstituen rakyat pemilih, disini letak pendidikan politik sangat terasa. Pemilih betul-betul mengetahui siapa yang akan mereka pilih guna mewakili aspirasinya dalam bidang politik pemerintahan.
Pada Pemilu tahun 2004 daerah pemilihan untuk anggota DPR adalah provinsi atau penggabungan beberapa provinsi, daerah pemilihan untuk anggota DPRD Provinsi adalah Kabupaten/Kota atau penggabungan beberapa kabupaten/kota, dan daerah pemilihan untuk anggota DPRD Kabupaten/Kota adalah kecamatan atau penggabungan beberapa kecamatan. Adapun untuk setiap derah pemilihan interval kursi yang diperebutkan oleh partai politik peserta pemilu antara 3 sampai 12 kursi.
Ketiga, selain peserta pemilu untuk memilih calon anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota dari partai politik (P2) yang dinyatakan lolos verifikasi di KPU menjadi partai politik peserta pemilu (P4). Ada dua pengertian tentang partai politik. Pertama, Partai politik saja atau (P2) adalah syarat pendidiriannya terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM dengan ketentuan mempunyai akta Notaris pendirian partai, mempunyai kepengurusan 50 % di Provinsi dan 50 % di Kabupaten/Kota dan 25 % di Kecamatan, mempunyai kantor tetap. Kedua, partai politik peserta pemilu (P4) dengan syarat terverifikasi selain di Departemen Kehakiman dan HAM serta memenuhi verifikasi KPU yaitu mempunyai kepengurusan di 2/3 Provinsi, 2/3 di Kabupaten/Kota serta mempunyai 1000 anggota atau 1/1000 anggota, mempunyai kantor tetap, mengajukan nama dan tanda gambar partai kepada KPU.
Peserta pemilu untuk memilih calon anggota Dewan Perwakilan Daerah adalah perseorangan. Syarat perseorangan dapat mencalonkan diri sebagai calon Anggota DPD, peserta pemilu dari perseorangan harus memenuhi syarat dukungan: a) Provinsi yang berpenduduk s/d 1.000.000 orang harus didukung sekurang-kurangnya 1.000 orang pemilih. b) Provinsi yang berpenduduk > 1.000.000 – 5.000.000 orang harus didukung sekurang-kurangnya 2.000 orang pemilih. c) Provinsi yang berpenduduk > 5.000.000 – 10.000.000 orang harus didukung sekurang-kurangnya 3.000 orang pemilih. d) Provinsi yang berpenduduk > 10.000.000 – 15.000.000 orang harus didukung sekurang-kurangnya 4.000 orang pemilih. e) Provinsi yang berpenduduk > 15.000.000 orang harus didukung sekurang-kurangnya 5.000 orang pemilih.
Dukungan tersebut tersebar di sekurang-kurangnya 25 % dari jumlah Kabupaten/Kota di Provinsi yang bersangkutan. Dibuktikan dengan tanda tangan atau cap jempol dan foto copy KTP atau identitas lain yang sah. Seorang pendukung tidak boleh memberikan dukungan kepada lebih dari satu orang calon DPD.
Keempat, tidak ada lagi anggota MPR yang didasarkan penunjukkan atau utusan golongan, namun semua berdasarkan pemilihan secara langsung. Sehingga anggota MPR semuanya berdasarkan atas pemilihan umum yang terdiri dari 550 Anggota DPR dan Anggota DPD yang jumlahnya 1/3 anggota DPR hasil pemilu 2004. hal ini sesuai dengan ketentuan pasal 2 dan 33 UU No 22 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD.
Perubahan ini menuntut perhatian yang lebih serius dalam menyikapi masalah yang dihadapi termasuk masalah pendanaan dan jumlah personil penyelenggara. Mekanisme penyelenggara menggunakan standar yang sama dalam melakukan proses-proses politik, demikian juga mekanisme internal masing-masing partai politik peserta pemilu mengedepankan iklim sejuk dan politik yang beradab. Konsekwensi inilah yang menuntut sosialisasi dan optimalisasi semua potensi sehingga hasil pemilu 2014 dapat memecahkan dan menyelesaikan persoalan nasional yang dihadapi. Diharapkan pemilu sebagai solusi terhadap kepemimpinan nasional yang lebih berkualitas yang akan membawa perubahan sosial menuju kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.
Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag. adalah Anggota KPU Kabupaten Wonogiri 203-2018 dan Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta

Membangun Perspektif Keberadaban dalam Pendidikan

Membangun Perspektif Keberadaban dalam Pendidikan
Ditulis oleh solider pada Kam, 04/03/2014 – 12:00
Oleh: Muhammad Julijanto*

Menarik perhatian nurani sekali tulisan Suryandaru Pendidikan Untuk Semua (Suara Merdeka 29/3/2014) yang menyoroti kinerja pemerintah dalam memberikan layanan pendidikan kepada semua warga negara tanpa kecuali termasuk untuk difabel dengan berbagai kebutuhan khususnya.
Secara normatif sudah menjadi tugas dan kewajiban negara untuk menyediakan segala macam sarana dan prasarana kebutuhan pendidikan warga negara berkebutuhan khusus dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan jenjang tertinggi S3 untuk difabel sebagaimana yang sering dikampanyekan dengan pendidikan inklusif, karena difabel adalah warga negara yang sah sebagaimana warga negara yang lain.
Difabel tidak meminta lahir karena dengan keadaan disabilitas seperti itu, namun itu adalah takdir yang tidak bisa ditolak dan sudah menjadi tugas kemanusiaan. Sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Bahwa kewajiban negara adalah mencerdasakan kehidupan bangsa untuk semuanya tanpa terkecuali untuk difabel.
Yang dibutuhkan saat ini adalah membangun perspektif terhadap difabel berdasarkan kebutuhan dan aksesbiltas pemahman dan wawasan berperspektif difabel tidak hanya dibangun untuk kalangan pendidikan an sich tetapi semua lini kehidupan harus memahami kondisi tersebut.
Sebagai contoh dalam perencanaan penganggaran berbasis aksesbilitas pembangunan gedung-gedung apapun peruntukkannya dan untuk siapapun sudah melihat bahwa dalam realitasnya ada warga negara yang membutuhkan kebutuhan khusus, mestinya di sini sudah disiapkan secara lengkap apa yang menjadi kebutuhan khusus semua warga negara.
Dunia pendidikan sebenarnya mempunyai terobosan berupa pendidikan inklusi yang memang secara khusus mempersiapkan diri untuk menerima semua peserta didik dengan berbagai macam kebutuhan khususnya, termasuk bagi bidang tertentu selama akses tersebut dibuka dengan tidak ada pengecualiaan, artinya lembaga pendidikan harus siap dengan segala bentuk layanan berkebutuhan khusus.
Berbasis Aksesibilitas
Demikian juga dalam membangun infrastruktur kebutuhan perekonomian dan sosial sudah menyertakan perencanaan pembangunan yang berbasis aksesibilitas. Karena ini adalah amanah undang-undang untuk menghindari adanya diskriminasi dari segala aspek kehidupan.
Provinsi Jawa Tengah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sedang mempersiapkan Rancangan Peraturan Daerah (RAPERDA) Tahun 2014 tentang Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas yang secara khusus memberikan perlindungan, pelayanan, pemberdayaan dan penghormatan harkat dan martbat kemanusiaan semestinya membuka peluang kepada semua lapisan masyarakat bisa memberikan layanan yang lebih baik dan perlindungan hukum yang memadai.
Pemerintah daerah, pemerintah kabupaten/kota, badan hukum, badan usaha, dan masyarakat berkewajiban memfasilitasi aksesibilitas penggunaan falisitas umum bagi penyandang disabilitas sesuai dengan kewenangannya.
Contoh kasus difabel beerhadapan dengan hukum, misalnya yang terjadi di Kabupaten Sukoharjo. Oleh karena itu, semua elemen harus menyadari perlunya menyamakan persepsi dalam membangun sinergi pembangunan yang lebih manusiawi dan tanpa diskriminasi.
Pemberdayaan merupakan upaya memberikan perhatian khusus dan memberikan kebutuhan khusus bagi komunitas difabel yang diharapkan di masa yang akan datang bisa memberikan kontribusi yang lebih baik.
Sebagaimana warga negara yang lain komunitas difabel sebenarnya mempunyai potensi dan memiliki kemampuan yang lebih baik bila dibekali skill yang memadai untuk bisa berkiprah dalam tataran dan level yang lebih luas lagi.
Oleh karena itu, dibutuhkan kepedulian, perspektif, dan perhatian dari semua elemen masyarakat maupun stakeholders yang lain memberikan kontribusi yang secara khusus kepada mereka.
Berdasarkan data difabel di Indonesia mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) warga negara yang mempunyai kebutuhan khusus antara lain. Sensus penduduk BPS 2010 menunjukkan bahwa jumlah orang difabel di atas usia 10 tahun adalah 16.718 orang. Sumber lain dari Kementrian Sosial RI (2009) menyatakan bahwa jumlah total penduduk Indonesia yang difabel sebanyak 1.541.942 orang.
Suatu potensi yang perlu diperhitungkan sebagai bagian dari pelayanan negara kepada semua rakyatnya, baik melalui pendidikan dari jenjang yang terendah hingga pendidikan formal yang paling tinggi.
Bangsa yang beradab adalah bangsa yang menghargai dan melayani rakyat dengan cinta kasih sepanjang peradaban manusia ini dibangun. Sebaliknya bangsa yang bangkrut adalah bangsa yang menterlantarkan rakyatnya dalam keadaan yang tak beradab. Saatnya bangsa ini peduli pada nasib warganya.

* Penulis adalah Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta, Sekretaris Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Perisai Kebenaran Wonogiri.
Alhamdulillah tulisan ini telah diterbitkan oleh
http://www.solider.or.id/2014/04/03/membangun-perspektif-keberadaban-dalam-pendidikan. diakses, 7/4/2014

TUGAS USHUL FIQH

Tugas Mata Kuliah Ushul Fiqh

Mahasiswa diminta mengidentifikasi ‘Urf yang ada di daerah anda tinggal dan bedakan antara ‘Urf Sahih dan ‘Urf Fasid serta berikan analisis menurut ketentuan Syariat Islam. Berikomentar dan tulis nama, nim, kelas dan kelompok. kirim ke Ngeblok Asyik lho….mjulijanto.wordpress.com. dengan cara memasukkan hasil kerja kelompok dalam kolom KIRIM KOMENTAR di blok ini. Tugas dikirim paling lambat tanggal 30 Juni 2014.

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag.
IAIN Surakarta

Kemiskinan di Mata Hukum dan Agama

Kemiskinan di Mata Hukum dan Agama
Oleh Muhammad Julijanto

Pendahuluan
Kekuasaan sepanjang abad kehidupan manusia akan selalu nikmat, enak dan bahkan terasa manisnya, sehingga kekuasaan ibarat terangnya lampu yang menyedot kemunculan laron-laron untuk merubungnya (Suara Merdeka, 26/6/2010). Kekuasaan juga seperti bunga yang merekah merangsang sahwat politisi untuk meraihnya dengan segala kuasanya, yang punya masa dengan masanya, yang mempunyai pengaruh dan charisma dengan pengaruhnya, yang mempunyai uang dengan maghnet uangnya, yang punya ilmu dengan ilmu dan pengetahuannya, yang punya skill keahlian tertentu dengan keahliannya.
Kemiskinan di Indonesia menjadi masalah serius dan tidak hanya terjadi di kota-kota besar bahkan menjalar hingga di pelosok negeri. Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok masih menjadi barang mewah bagi kelompok masyarakat miskin. Mereka sudah bekerja keras mengeluarkan semua potensi dan kemampuannya untuk mencari sumber-sumber penghidupan, seperti berdagangan, menjadi pengasong, menjadi pemulung, menjadi kusir, tukang becak, kuli bangunan, pembantu rumah tangga dan berbagai kegiatan ekonomi sektor informal.
Bagi kelompok masyakat kelas bawah fasilitas seperti pendidikan, layanan kesehatan adalah jauh api dari panggang. Sekalipun program pemerintah melalui askeskin (jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin), pendidikan wajib sembilan tahun gratis, tetapi kebutuhan yang lain seperti sarana yang dapat mendukung kegiatan tidak bisa mereka miliki, sehingga mereka berada pada lingkaran kemiskinan yang tidak pernah putus.
Upaya pemerintah untuk mengangkat harkat dan martabat mereka menjadi kelas ekonomi yang mampu berdikari (mampu berdiri sendiri) masih hanya program charitas-belas kasihan, yang memberikan bantuan berhenti pada konsumsi sesaat seperti bantuan langsung tunai (BLT). Sebaliknya justru pemerintah membuat program padat karya yang bisa menampung dan memberikan lapangan pekerjaan kepada kelompok masyarakat rentan ini, sehingga mereka tidak hanya sekedar menerima uang tanpa adanya kerja keras dengan kegiatan ekonomi produktif. Dengan demikian ada aktivitas warga baik secara koletif maupun sendiri-sendiri yang mampu menghasilkan produk maupun jasa.
Masalah kemiskinan masih menjadi problem dasar bangsa. Data kemiskinan menunjukkan bahwa fungsi negara dalam menjalankan tugasnya belum berjalan secara optimal. Program pengentasan kemiskinan menjadi agenda sepanjang suatu rezim berkuasa. Kemiskinan selalu menjadi bahan kampanye untuk dijual, tetapi setelah rezim menduduki kekuasaan problem tidak juga kunjung berkurang, bahkan statistik menujukkan peningkatan angka kemiskinan.
Masalah
Bagaimana fungsi kekuasaan dalam memerangi kemiskinan, bagaimana hubungan hukum dan agama dalam mengatasi masalah kemiskinan? Bagaimana cara menanggulangi kemiskinan dalam perspektif hukum dan agama?
Kemiskinan
Sejak tahun 1998 terus terjadi pengurangan angka kemiskinan dari 49,50 juta atau 24,23 persen (1998) hingga 35,10 juta atau 15,97 persen (2005). Namun pada Maret 2006 terjadi peningkatan angka kemiskinan menjadi 39,05 juta (17,75 persen) (Sensus 2006) .
Biro Pusat Statistik (BPS) mengumumkan hasil perhitungan angka kemiskinan pada Maret 2006 sebanyak 39.05 juta jiwa atau 17,75 % dari total jumlah penduduk Indonesia 222 juta jiwa. Penduduk miskin bertambah empat juta orang disbanding yang tercatat pada Februari 2005 . selain itu terdapat 11 juta orang pengangguran di Negara ini.
Survei Sosial Ekoniomi Nasional (Susenas) pada tahun 2008, angka kemiskinan di Indonesia mencapai 37,17 juta pada tahun 2009 diprediksi angka kemiskinan itu menjadi 33,71 juta. Namun jika data Bank Dunia yang menyatakan bahwa yang dikatakan miskin adalah berpendapatan di bawah US $ 2, maka hampir separoh dari jumlah penduduk Indonesia hidup dalam lembah kemiskinan.
Catatan kemiskinan dapat dilihat dari berbagai fakta, pertama fakta rendahnya kualitas hidup orang Indonesia. Pada tahun 2007 Human Development Index (HDI) orang Indonesia dari 177 negara yang disurvei di dunia, kualitas hidup orang Indonesia berada pada urutan ke 107, jauh di bawah negara tetangga Malaysia, Singapura dan Thailand.
Penduduk Provinsi Jawa Tengah 33,18 juta, jumlah rumah tangga miskin (RTM) 3,1 juta keluarga dari 6,7 juta rumah tangga (46,26 %). Jumlah rumah tangga prasejahtera 3.198.596 keluarga dan penduduk miskin 12,66 juta jiwa.
Data Difabel
Sensus penduduk BPS 2010 menunjukkan bahwa jumlah orang difabel di atas usia 10 tahun adalah 16.718 orang. Sumber lain dari Kementrian Sosial RI (2009) menyatakan bahwa jumlah total penduduk Indonesia yang difabel sebanyak 1.541.942 orang. Berdasarkan data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2003, Sulawesi Selatan (Sul-Sel) memiliki penduduk difabel tertinggi di Indonesia bagian Timur yaitu 72.900 orang. Bahkan hasil Sensus 2010 masih menempatkan Sul-Sel sebagai provinsi yang memiliki penduduk difabel terbanyak untuk bagian Indonesia Timur.
Tingkat kemiskinan kelompok difabel adalah akses terhadap pendidikan. Survey ICF Kemensos di 14 provinsi (termasuk Sul-Sel) kembali menyajikan data mencengangkan. Hampir 60% dari anak difabel usia sekolah tidak mengecap bangku sekolah. Sementara bagi mereka yang beruntung bersekolah, sebagian besar dari mereka atau 75% anak difabel hanya menyelesaikan studinya di tingkat SD. Jika dikaji lagi lebih dalam, berdasarkan data Susenas 2006 dan data Kemensos (2006) maka hanya 12% anak difabel yang bersekolah di tingkat SD. Data lain yang menarik, berdasarkan data Depdiknas (2006/2007) terdapat sekitar 4.929 Sekolah Luar Biasa (SLB) swasta dan negeri pada jenjang TK sederajat sampai SMU sederajat dengan jumlah kelas (fisik) 28.914 ruangan. Penyebaran siswa terbagi 27% terdaftar di sekolah negeri dan 73% di sekolah swasta (Irwanto dkk, 2010). Data-data ini kembali menunjukkan lalainya negara dalam memenuhi hak-hak warga difabel khususnya di bidang pendidikan .
Menurut ukuran UNDP peringkat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di urutan 111 dengan indeks 0,734 atau masih di bawah satu tingkat dibandingkan bangsa Palestina yang berada di posisi 110 dengan indeks 0,737. Indonesia jauh di bawah Malaysia berada di peringkat 66 dengan indeks 0,829. Peringkat Indonesia semakin menurun dalam dua tahun terakhir. Jika pada 2007 berada di peringkat 107 dari 177 negara. Pada tahun 2009 dan 2010 berturut-turut menurun menjadi peringkat ke 111. Angka ini jauh di bawah negara-negara ASEAN.
Problem kemiskinan masih membelit bangsa ini dari waktu kewaktu. Menurut sensus penduduk 2010 oleh Badan Pusat Statistik jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 13,3 % atau 31,02 juta orang
Hasil survei yang dirilis 8 Maret 2010 oleh Political & Economic Risk Consultancy (PERC) yang berbasis di Hong Kong, Indonesia menempati nilai 9,07 dari angka 10 sebagai negara paling korup yang disurvei tahun 2010. Nilai tersebut naik dari tahun lalu yang poinnya 7,69.
Berdasarkan hasil survei BPS angka kemiskinan Indonesia pada 2009 sebesar 32,53 juta jiwa (14,15 persen).
Hingga kuartal pertama tahun 2010, jumlah penduduk miskin menurut catatan BPS mencapai 31,5 juta jiwa. Jumlah kaum papa mecapai lebih 30 juta jiwa yang berarti 1/7 dari total penduduk. Setiap 7 jiwa manusia Indonesia, 1 orang di antara mereka berstatus miskin.
Potensi dana sosial umat Islam sangat besar menjadi salah satu alternatif pengetasan kemiskinan di Tanah Air. Tahun 2005 Pusat Bahasa dan Budaya UIN Syarif Hidayatullah menghitung bahwa potensi dana zakat muslim Indonesia mencapai Rp 19 triliun pertahun. Dengan asumsi bahwa tingkat kesadaran umat Islam semakin baik, maka tahun 2010 dan kedepan akan semakin besar.
Jumlah dana zakat yang berhasil dihimpum oleh LAZ dan BAZ dari tahun ke tahun meningkat. Pengumpulan zakat secara nasional tahun 2006 mecapai Rp 300 miliar; tahun 2007 meningkat menjadi Rp 700 miliar, tahun 2008 mencapai Rp 900 miliar dan hingga saat ini sudah lebih dari 1 triliun setiap tahun dana zakat, infaq, shadaqah berhasil dikumpulkan dari kocek kaum muslimin (“Berdaya dengan Zakat”, Republika, 24/9/2010, hlm. 19).
Kemiskinan tidak hanya terjadi di Indoensi di belahan dunia yang lain juga terjadi kemiskinan. Seperti halnya di Amerika Serikat. Biro Sensus Amerika menyatakan tingkat kemiskinan di Amerika kini berada pada tingkat tertinggi dalam 15 tahun, dan jumlah keseluruhan warga miskin Amerika sekarang adalah yang tertinggi dalam lima dekade sejak data statistik tersedia. Biro itu hari Kamis mengatakan persentase orang yang hidup dalam kemiskinan di Amerika meningkat dari 13,2 persen pada tahun 2008 menjadi 14,3 persen pada tahun 2009. Dikatakan 43,6 juta orang hidup dalam kemiskinan tahun lalu, meningkat hampir empat juta dari tahun 2008 . Biro Sensus itu mendefinisikan kemiskinan dengan patokan pendapatan per tahun kurang dari 22.000 dollar untuk keluarga dengan empat anggota. Presiden Barack Obama mengatakan angka itu menunjukkan betapapun sulitnya tahun lalu bagi warga Amerika, situasi itu bisa lebih buruk. Dia mengatakan jutaan orang Amerika tidak sampai jatuh miskin karena program-program dukungan pemerintah.
Hukum
Penegakan hukum yang tidak seirius membawa dampak pembangunan ekonomi tidak berjalan dengan maksimal, sebab pelanggaran tindak pidana yang merugikan keuangan negara membahwa dampak kemiskinan struktural, orang yang tidak mempunyai akses kekusaan, akses ekonomi akan selamanya dalam kubangan kemiskinan, karena tidak mampus secara vertikal mengangkat martbat dan kondisi. Sehingga merekja tetap berada dalam kubangan kemiskinan.
Hukum yang adil dan melindungi yang tidak mampu, akan memberikan garansi terhadap naiknya tingkat kesejahteraan, karena orang mera jera jika melakukan tindak pidana dan tertangkap dan dibuktikan melalui proses peradilan yang fair memang betul-betuk melakukan kejahatan yang berdampak sistemik terhadap kemiskinan.
Kembali ke korelasi antara demokrasi dan kesejahteraan belum secara nyata dapat dinikmati kalangan masyarakat bawah, sebab yang mencolok justru para pemangku jabatan yang banyak diuntungkan, sementara rakyat masih tetap dalam keadaan subordinat dalam kesejahteraan ekonomi, atau paling tidak berbagai pelayanan publik, pendidikan dasar, dan kesehatan dapat dinikmati secara merata, inilah pekerjaan rumah yang segera diselesaikan bagi para pemangku kekuasaan baik legislator, eksekutif, dan yudikatif.
Perspektif Agama
Kerja keras, menghargai waktu, disiplin, tekun, istiqomah, jujur, tangan di atas lebih mulia dari pada tangan di bawah, tolong-menolong, kerjasama

DANA ZAKAT
Potensi zakat masyarakat Indonesia mencapai Rp 7,2 trilyun per tahun pernyataan mantan Mentri Agama Said Agil Munawar. Berdasar hasil survey UIN Syarif Hidayatullah Jakarta potensi zakat msyarakat Indonesia Rp 19, 3 trilyun per tahun. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Dr. Anggito Abimayu memperdiksi potensi zakat masyarakat Indonesia Rp 7, 4 trilyun setiap tahun dengan catatan 100 % wajib zakat di Indonesia patuh untuk membayarnya.
Jumlah warga miskin di Indonesia tercatat sebanyak 34,9 juta atau 15 % total penduduk Indonesia. Sementara pemerintah hanya dapat mengurangi kemiskinan secara bertahap dengan berbagai program yang telah ditelorkan sekitar 5 % warga miskin dan dibutuhkan dana Rp 180 triliun.
Oleh karena itu menurut Dr. Anggito Abimayu sangat berharap melalui UU tentang pajak dan UU perbankan syariah yang merupakan tonggak sejarah pemberlakuan zakat dalam pembiayaan fakir miskin di Indonesia. Potensi zakat masyarakat Indonesia mencapai Rp 7, 4 Triliun dari wajib pajak masyarakat Indonesia, dipredikasi dapat menurunkan angka kemsikinan antara 1 hingga 2 % .
Potensi zakat umat Islam bisa mencapai Rp 9 triliun pertahun berdasarkan perhitungan PIRAC (Public Interest Reseach and Advocacy Center). Bahkan hasil kajian Pusat Bahasa Budaya UIN Syarif Hidayatullah (PBB UIN) menegaskan per tahun potensi zakat bisa terhimpun sebanyak Rp 19 triliun. Namun sayang secara riil penerimaan zakat masih jauh dari potensi yang terudentifikasi ( Rp 800 miliar hingga Rp 1,5 triliun menurut versi Baznas) .
Potensi perolehan pengumpulan dana zakat nasional tahun 2011 diprediksi melebihi angka Rp 3 triliun. Jika, angka tersebut terpenuhi, jumlah kemiskinan tahun ini bisa turun hingga 13,88 persen. Namun dibutuhkan inovasi atau dukungan kebijakan dari pemerintah maupun inovasi produk penghimpunan zakat dari beberapa lembaga zakat . Harus diakui kesadaran membayar zakat umat Islam masih kecil, disebabkan kurangnya pemahaman dan masih mayoritasnya pemeluk Islam yang memang masih miskin, sehingga tidak bisa berzakat.
Sementara kelompok masyarakat muslim yang secara ekonomi sudah kuat dan mampu, bahkan kekayaannya melebihi nishab, kesadaran zakatnya masih kecil dan rendah. Padahal dalam ajaran Islam, jika kekayaan melimpah hingga melebihi standar nishab, maka harus segera dizakati sebagai bentuk pembersihan harta dari hak orang lain. Oleh karena itu dibutuhkan gerakan kesadaran zakat secara optimal.
Berdasarkan survei Indonesia Magnificence of Zakat 821 rumah tangga miskin dari total 4.646 populasi penerima dana zakat di Jabodetabek ari 8 organisasi pengelola zakat. Hasilnya, zakat bisa mengurangi kemiskinan sebesar 10,79 persen.
Hasil penelitian Dompet Dhuafa tentang Peta Kemiskinan: Data Mustahik, Muzaki, dan Potensi Pemberdayaan Indonesia (2010). Muzaki 23.676.263 di seluruh Indonesia dengan jumlah kumulatif terbesar di Jawa barat 4.721.101 orang, Jawa Timur 2.871.741 orang, DKI Jakarta 2.467.677 orang, Jawa Tengah 2.181.139 orang, Banten 1.324.9.08 orang, dan Sumatra Utara 1.094.889 orang. Sebagian besar berusia antara 25-59 tahun (26,1 % berusia antara 25-34 tahun; 25.00 % antara 35-44; dan 26,4 % antara umur 45-59 tahun. Jumlah mustahik di seluruh Indonesia adalah 33.943.313 jiwa angka yang tidak berbeda terlalu banyak dengan jumlah penduduk miskin dalam estimasi BPS. Tahun 2009 diperkirakan terkumpul dana zakat sebesar Rp 1,2 triliun .
Kesimpulan
Mengatasi kemiskinan pekerjaan mulia, yang harus dibangun dengan kesadaran dan penuh dengan pengabdian, kemiskinan bisa terjadi secara struktural diakibatkan struktur kekuasaan yang hanya mementingkan dirinya sendiri, oleh karena itu dibangun political will yang pro kepada rakyat.
Dengan penegakan hukum yang baik, akan mengangkat harkat dan martabat bangsanya, memenuhi rasa keadilan baik dalam bidang kedilan dan hukum maupun dalam penemuhan aspek ekonomi
Agama mempunyai peran sebagai kontrol moral dan panduan yang abadi dalam pencapai kesejahteraan hidup di tengah masyarakat, oleh karena itu agama dijadikan sebagai alat kontrol dan panduan mencapai tatanan sosial yang lebih membebaskan, mencerahkan dan mensejahterakan, dengan tetap pada prinsip moral dan etika agama secara lebih pasti. Banyak nilai-nilai ajaran agama yang bermuara kepada keadilan sosial dan pemberdayaan masyarakat secara lebih luas.

Daftar Pustaka

Andi Ahmad Yani, Kelalaian Negara Memenuhi Hak Warga Difabel,
http://makassar.tribunnews.com/2013/10/23/kelalaian-negara-memenuhi-hak-warga-difabel. diakses, 17/12/2013.
Azyumardi Azra, “Zakat dan Kemiskinan”, Republika, 16 September 2010, hlm. 4.
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/ekonomi/10/09/17/135128-angka-kemiskinan-as-tertinggi-dalam-15-tahun. diakses, 17/9/2010.
Jawa Pos, 9 Oktober 2006
Republika, 24 Juli 2008
Republika, 18/12/2010 hlm. 4.
Supomo, “Refleksi 11 Tahun Solopeduli Peduli adalah Solusi”, Solopos, 12/10/2010, hlm. 4.
Suara Merdeka, 6/1/2011 hlm. 2 “Potensi Zakat Rp 3 Triliun”.

Muhammad Julinato, S. Ag., M. Ag. adalah Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta, Sekretaris Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Islam (LKBHI) IAIN Surakarta, Sekretaris Lembaga bantuan Hukum (LBH) Perisai Kebenaran Wonogiri, Tim Advokasi Mejelis Hukum dan HAM PWA Jateng.