CSR DAN PEMBERDAYAAN LINGKUNGAN

Oleh Muhammad Julijanto
(Makalah disampaikan pada Acara Lokakarya dan Penguatan Tim Pemasaran Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) Cluster 4 Desa Dampingan Tim 3313-003 Kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar, Rabu, 19 Oktober 2011 di Balai Desa Suruh Kecamatan Tasikmadu Karanganyar.Muhammad Julijanto adalah Sekretaris LBH Perisai Kebenaran Wonogiri, Dosen IAIN Surakarta)

A. Pendahuluan
Setiap korporasi mempunyai tanggung jawab sosial terhadap kemajuan dan terjanganya lingkungan sekitar perusahaan. Salah satu bentuk tanggung jawab adalah memperikan pelayanan CSR kepada masyarakat sekitar perusahaan di mana berada.

Oleh karena itu kesuksesan sebuah perusahaan, tidak hanya ditentukan dari keberhasilan menjalankan bisnisnya semata. Tetapi ia juga di dukung kemampuan dalam menyukseskan program pemberdayaan masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, banyak perusahaan melaksanakan corporate social responsibility (CSR).
Dan kini semakin giat organisasi dan sektor swasta, bahkan kantor pemerintahan juga memasukkan CSR dalam agenda prioritas organisasi. Kini, CSR telah menjadi isu yang sangat penting. Tidak hanya dalam kegiatan bisnis, tetapi juga dalam teori dan hukum, politik dan ekonomi dibahas.

Dengan CSR justru akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan untuk semakin mendekatkan produk dan brand kepada masyarakat dan komunitasnya. Dan banyak diantara perusahaan yang sukses tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga karena kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar dengan pemberdayaan masyarakatnya. Bahkan CSR sebagai wujud good corporate governance (GCG) yaitu sistem pemerintahan yang baik dan peduli terhadap lingkungan.

Tulisan ini akan membahas upaya dan strategi CSR memberdayakan lingkungan yang berhubungan dengan bagaimana strategi pemasaran potensi wilayah, sehingga membawa kontribusi lebih terhadap kemajuan daerah dan tersosialisasikan serta mendapatkan mitra yang bisa meningkatkan nilai tambah bagi pengembangan daerah di masa yang akan datang.

Masalah
Secara singkat akan menjawab masalah apa yang dimaksud dengan corporate social responsibility? Bagaimana peran CSR dalam pemberdayaan lingkungan? Bagaimana strategi pemasaran potensi wilayah?
B. Pengertian CSR
Corporate social resposibility tanggung jawab sosial korporasi apa yang dilakukan sebuah organisasi untuk mempengaruhi masyarakat tempatnya berada, seperti lewat program bantuan sukarela.
Pemberdayaan adalah membuat orang mampu untuk melakukan sesuatu dalam pekerjaannya melalui pemberian kebebasan untuk menafsirkan kebijakan atau keputusan dan cara-cara yang dianggap terbaik dalam menyelesaikan tugas .

Pelaksanaan CSR merupakan kepedulian perusahaan memberikan tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar yang dilandasi oleh beberapa aturan, antara lain:
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33; Undang-undang Nomor : 19 Tahun 2003 tentang BUMN; Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor : PER-05/MBU/2007 tanggal 27 April 2007; Undang-undang tentang Perseroan Terbatas Nomor : 40 Tahun 2007 pada Bab V tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yaitu mengatur kewajiban perusahaan untuk memprogramkan dan melaksanakan tanggungjawab sosial perusahaan atau lebih dikenal Corporate Social Responsibility (CSR). Undang-undang tersebut diutamakan pada perusahaan yang kegiatan usahanya dalam bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan CSR.

Bagi kalangan BUMN menyandarkan pada Peraturan Menteri Negara BUMN No. PER-05/MBU/2007 tanggal 27 April 2007 tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan; dan aturan teknis di internal sebagai contoh di BUMN PLN dll. Surat Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. 112-1.K/010/Dir 2004 tanggal 18 Juni 2004 tentang Standard Operation Procedure (SOP) Pelaksanaan Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan; dan Surat Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No. 366.K/DIR/2007 tanggal 28 Desember 2007 tentang Standard Operation Procedure (SOP) Pelaksanaan Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan / Program Partisipasi Pemberdayaan Lingkungan (PKBL/P3L) dengan Komitmen Perusahaan untuk Melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) sebagai Manifestasi Budaya Perusahaan.
Komite Cadbury mendefinisikan Corporate Governance, adalah suatu sistem yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan dengan tujuan, agar mencapai keseimbangan antara kekuatan kewenangan yang diperlukan oleh perusahaan untuk menjamin kelangsungan eksistensinya dan pertanggungjawaban kepada shareholders .
C. Peran CSR
CSR memberikan nilai tambah bagi perusahaan untuk semakin mendekatkan produk dan brand kepada masyarakat dan komunitasnya. CSR menjadi strategi bisnis yang inheren dalam perusahaan untuk menjaga atau meningkatkan daya saing melalui reputasi dan kesetiaan merek produk (loyalitas) atau citra perusahaan melalui kegiatan yang peduli kepada masyarakat.

Strategi pemasaran
Membicarakan strategi pemasaran, memang tidak akan pernah ada habisnya. Berbagai cara dan usaha bisa dijadikan sebagai strategi untuk memasarkan sebuah produk.

Marketing pemasaran merupakan kegiatan manusia yang diarahkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Philip Kolter secara lebih rinci mendefinisikannya sebagai suatu proses sosial dan manajerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan serta inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain. Secara lebih teknis bisa dikatakan pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pengembangan, penetapan harga, promosi dan distribusi barang-barang dan jasa suatu organisasi .

Pada saat melakukan pemasaran memiliki target pelanggan yang mencakup tiga kelompok yaitu : pedagang (trader), wisatawan (tourist), penanam modal (investor), dan juga ada pelanggan sekunder yang juga mencakup tiga kelompok juga, : yaitu SDM berketerampilan (talent), para pengelola event (organizer), pengembang (developer) .
Dalam usaha menarik kelompok-kelompok ini maka diperlukan sebuah konsep atau gagasan bagaimana memasarkan sebuah daerah, dalam pendekatan para pakar pemasaran maka dikenal yang pertama adalah daerah harus harus memahami apakah keunggulan daerahnya kemudian siapakah pelanggannya dan terakhir siapakah pesaingnya. Namun dalam ruang lingkup bisnis pesaing bisa menjadi complement atau pelengkap yang membuat malahan produk atau jasa semakin laku.

Kalau di Karanganyar khususnya dalam hal ini adalah cluster 4 desa dampingan kecamatan Tasikmadu Kabupaten Karanganyar desa Karangmojo, Buran, Suruh dan Gaum mempunyai unggulan seperti produk pupuk organik, pengelolaan sampah, kandang komunal dan pertanian, serta agro center dan pengelolaan sampah, maka bagaimana produk-produk ini bisa dikembangkan sedemikian rupa sehingga mempunyai nilai jual yang lebih dan menjadi unggulan daerah yang bisa dipasarkan secara luas dengan mitra usaha kata. Pemahaman daerah untuk keunggulan, pelanggan dan pesaing membuat daerah memasarkan daerahnya dengan tepat.

Yang kedua dalam menyusun strategy pemasaran diperlukan pendeketan strategi, taktikal dan nilai. Kelompok strategi adalah apa yang telah ditulis oleh Kotler (1997) sebagai STP yaitu Segmentasi, targeting dan positioning . Pada komponen taktikal ditegaskan pentingnya diferensiasi, marketing mix dan menjual (selling). Pada komponen nilai (value) para pakar pemasaran menganjurkan daerah memikirkan brand, services dan process. Branding saat ini menjadi sangat kompleks dan penting karena berdasarkan brand itulah konsumen mengidentifikasikan dirinya.

Pemasaran adalah kegiatan manusia yang dimaksudkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Oleh karena itu konsep penting dalam studi pemasaran adalah kebutuhan, keinginan, permintaan, produk, pertukaran, transaksi dan pasar.
Kebutuhan manusia (human need) adalah keadaan seperti perasaan kehilangan dalam diri seseorang. Keinginan (human want) bentuk yang berasal dari kebutuhan manusia yang terwujud sesuai dengan budaya dan pribadi seseorang. Permintaan (demand) keinginan manusia yang didukung oleh daya beli. Produk (product) segala sesuatu yang bisa ditawarkan kepada sebuah pasar agar diperhatikan, diminta, dipakai, atau dikonsumsi sehingga mungkin memuaskan keinginan atau kebutuhan. Pertukaran (exchange) tindakan untuk memperoleh barang yang dinginkan dari seseorang dengan memberikan sesuatu sebagai gantinya. Transaksi (transaction) perdagangan antara dua pihak yang paling tidak melibatkan dua barang yang bernilai, menyetujui syarat-syarat, waktu dan tempat perjanjian. Dan pasar (market) sekelompok pembeli dan calon pembeli sebuah produk.

Yang ketiga kegiatan pemasaran sendiri berhubungan dengan pertanyaan pokok, yaitu apa, mengapa dan bagaimana. Pertanyaan apa yang akan dipasarkan adalah hal yang pertama harus dijawab, kesalahan kita memasarkan daerah membuat kegagalan dalam daerah itu. Pertanyaan mengapa adalah menjawab apakah keunggulan daerah mendukung pemasaran produk itu atau tidak, dan juga pesaing menjawab semuanya ini. Nah pertanyaan bagaimana berkaitan dengan langkah-langkah apa yang harus dilakukan.

Bila ketiga hal ini bisa dikerjakan oleh daerah maka akan terbentuk sebuah strategi yang jitu dan tepat sasaran dalam memasarkan daerah. Keunggulan daerah akan menjadi produk yang dipasarkan melalui promosi yang jitu, mematok sasaran promosi secara jelas. Dalam hal ini adalah segemen pasar .

D. Strategi pemasaran potensi unggulan

Produk unggulan merupakan produk yang potensial untuk dikembangkan dalam suatu kawasan (desa atau kecamatan) dengan memanfaatkan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia setempat, serta mendatangkan pendapatan bagi masyarakat pelaku usaha dan pemerintah. Produk unggulan juga merupakan produk yang memiliki daya saing, berorientasi pasar dan ramah lingkungan, sehingga tercipta keunggulan kompetitif yang siap menghadapi persaingan global.
Wilayah dan kota dikaruniai dan mewarisi sumberdaya (resources endowment) dan kemampuan (SDM, IT, Kreativitas, dst). Dalam trend mengglobal, wilayah dan kota, termasuk produk daerah musti dikasih merek (brand) untuk kelangsungan ekonomi (investasi), nyaman dihuni (liveable), gandrung didatangi (visitable/tourism-MICE), untuk itu diperlukan strategi pemasaran wilayah dan kota yang tepat dan sesuai. Strategi macam apa yang diperlukan untuk wilayah dan kota di Indonesia ? Dimana dan bagaimana peranan planner dalam menyiasati arus ini ?

Dalam kondisi global seperti ini sepertinya Globalisasi (menglobalkan potensi lokal kota) merupakan strategi yang harus ditempuh. Semua serba sama, semua serba cepat, hanya potensi lokallah salah satu unggulan yang bisa diglobalkan menjadi brand. “Place” dengan segala aspek identitas lokal akan menjadi unsur penting dalam memasarkan potensi wilayah.

Menurut Irwan Susilo strategi branding kota juga tidak akan lepas dari perkembangan teknologi informasi yang akhirnya menjadikan bumi ini menjadi Flat (datar) saling terkait antar simpul-simpul kota. Branding tidak semata bagaimana sebatas kesan namun harus menjadi value bagi kota. Branding tidak hanya sebatas kepuasan pengguna kota/wilayah baik aspek jasa maupun produk, nanum juga bagaimana kemampuan kota atau wilayah untuk mencipta komunitas-komunitas yang baik secara langsung ataupun tidak langsung mampu memasarkan kota/wilayah, baik komunitas fisik ataupun maya. Kondisi komunitas ini semakin menjadi penting dengan perkembangan IT seperti berkembangnya messenger, Bloging, Millist, dan FaceBook serta sarana pembangunan komunitas didunia maya yang bisa digunakan untuk membranding wilayah/kota .

Kemampuan teknologi w3c dalam pembangunan aplikasi berbasis web telah memberikan potensi luar biasa dimasa mendatang guna mengupload database spasial kota dan wilayah secara runtime. Perkembangan tersebut berdampak secara teknis pada kemampuan pembangunan mapserver untuk mendukung aplikasi GIS secara online menjadi lebih baik (efektif, aksesibilitas data yang lebih cepat, multiplatform).
Apakah kita siap memanfaatkan potensi lokal kita dan memanfaatkan teknogi informasi yang menjadikan bumi menjadi flat dan menghilangkan jarak, siapkah kita membangun komunitas-komunitas baik maya atau nyata yang akan memasarkan dan merekomendasikan potensi wilayah/kota kita baik secara produk atau brand kepada para custamer-custamer yang ada di seluruh dumia yang semakin flat…..

E. Kesimpulan

Coprorate social resposibility merupakan kepedulian dunia usaha kepada peningkatan mutu sosial dan lingkungan di mana usaha itu dijalankan, sebagai bentuk tanggung jawab sosial. CSR satu sisi memberikan nilai tambah kepada perusahaan berkaitan citra diri yang meningkatkan. Oleh karena itu jalinan kemitraan dengan lingkungan semakin memberikan kontribusi yang positif terhadap pemberdayaan masyarakat.

Peran CSR sangat mendukung peningkatan kualitas layanan dan demikian juga akan mendongkak peningkatan bisnis perusahaan di lain pihak.
Oleh karena itu dibutuhkan strategi yang bisa menggabungkan keduanya dalam mencari bentuk kemitraan yang bisa menguntungkan dan mengangkat keunggulan dan potensi wilayah lebih luas lagi dalam pemberdayaan masyarakat.

Strategi branding kota juga tidak akan lepas dari perkembangan teknologi informasi yang akhirnya menjadikan bumi ini menjadi Flat (datar) saling terkait antar simpul-simpul kota. Branding tidak semata bagaimana sebatas kesan namun harus menjadi value bagi kota.

Daftar Pustaka
Benyamin Molan, Glosairium Prentice Hall Untuk Manajemen dan Pemasaran, Jakarta: Prentice Hall, 2002
Hendra Kusnoto, The World’s Best Management Practices : Praktek Manajemen terbaik di Dunia, Jakarta: Gramedia, 2001
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/05/25/csr-aspek-penting-dalam-kegiatan-bisnis/. Diakses, 17/10/2011
http://republika.co.id:8080/koran/0/145312/Menggugat_CSR_Perbankan. diakses, 17/10/2011
M Sutanto, Marketing Strategy Top Brand Indonesia, Yogyakarta: Andi, 2007.
Nursoleh, CSR dan Pemberdayaan Masyarakat, http://stieonline.blogspot.com/2011/07/csr-dan-pemberdayaan-masyarakat.html. diakses, 17/10/2011
Philip Kolter, Marketing Jilid I, Alih Bahasa Herujati Puwoko, Jakarta: Erlangga, 1999

PENGANTAR NILAI-NILAI DASAR PERJUANGAN HMI

Oleh Muhammad Julijanto
(Mantan Ketua Umum HMI Komisariat Walisongo 1995-1996, Mantan Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Wonogiri 2003-2008, Sekretaris LBH Perisai Kebenaran Wonogiri, Sekretaris Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI) Dewan Pimpinan Cabang Surakarta, Sekretaris Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Islam (LKBHI) IAIN Surakarta, Dosen IAIN Surakarta.)

Tujuan:
1. Peserta memahami latar belakang perumusan dan kedudukan NDP/NIK dalam organisasi.
2. Peserta memahami garis besar materi NIK/NDP

Pokok Bahasan dan Sub:
1. Sejarah Perumusan NDP dan Kedudukan NDP dalam organisasi HMI.
a. Sejarah Lahirnya Perumusan NDP/NIK
b. Sebagai Kerangka Global Pemahaman Islam dalam Konteks organisasi HMI.
c. Hubungan Antara NDP/NIK dan Mission HMI.

2. Garis Besar Materi NDP

a. Hakekat Kehidupan
1. Analisa Kebutuhan Manusia
2. Mencari Kebenaran sebagai Kebutuhan dasar Manusia
3. Islam sebagai Sumber Kebenaran

bHakekat Kebenaran
1. Konsep Tauhid dan La Ilaha Illa Allah
2. Eksistensi dan Sifat-Sifat Allah.
3. Rukun Iman sebagai Cara Mencari kebenaran

c. Hakekat Penciptaan Alam Semesta
1. Eksistensi Alam
2. Fungsi dan Tujuan Pencaiptaan Alam

d. Hakekat Penciptaan Manusia
1. Eksistensi Manusia dan Kedudukannya di Antara Makhluk Lainnya
2. Manusia sebagai Hamba Allah Swt
3. Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi
4. Fitrah, Kebenaran dan Tanggung Jawab Manusia

e. Hakekat Masyarakat
1. Perlunya Menegakkan Keadilan dalam Masyarakat
2. Hubungan Keadilan dan Kemerdekaan Manusia
3. Hubungan Keadilan dan Kemakmuran
4. kepemimpinan Untuk Mengakkan Keadilan

f. Hakekat Ilmu
1. Ilmu sebagai Jalan Mencari Kebenaran
2. Jenis-Jenis Ilmu
3. Hubungan Iman, Ilmu dan Amal.

1. Definisi
Nilai adalah sebuah konsep abstrak dalam diri manusia atau masyarakat tentang baik buruknya sesuatu atau tentang benar salahnya sesuatu.
Dasar Perjuangan adalah sesuatu yang sangat mendasar yang harus diperjuangkan dalam kehidupan seorang kader selama hayat masih di kandung badan.

Identitas adalah kedirian. Identitas: ciri-ciri, tanda-tanda, jatidiri. Sifat khas yg menerangkan dan sesuai dg kesadaran diri pribadi sendiri, golongan, komunitas atau negara sendiri. Sesuatu yang membedakan dari yang lain. Mengapa tidak diberi nama identitas Islam?.

Kader yaitu sekelompok orang yang terus-menerus berproses dan menjadi bagian dari lingkungan yang lebih besar (Himpunan Mahasiswa Islam).
Nilai-Nilai Identiats Kader (NIK) atau Nilai Dasar Perjuangan (NDP) merupakan wcana atau cara pandangan HMI tentang islam (Hasil Konggres).

2. Sejarah
Dr. GM Travel sejarawan terkenal mengatakan :” sejarah adalah rahasia yang belum dapat dipecahkan. Namun sejarah adalah kenyataan yang kuat, sejarah bersifat ketuhanan dan kesetonan. Sejarah itu ditulis untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang terjadi pada masa lampau dari berbagai sudut.

Sejarah adalah dasar pendidikan modern, yang merupakan sekolah terbaik bagi setiap orang. Sejarah yang ditulis dengan baik, obyeketif serta tidak berat sebelah akan menghasilkan banyak kebaikan pula (Soerajo, Soegiarso,1988: XV).
Dalam mengkaji sejarah Komaruddin Hidayat mengingatkan metode double movement dalam mengkaji sejarah yaitu melakukan perjalanan intelektual ke masa lalu menelusuri dan memasuki bilik-bilik peristiwa historis dan kemudian kembali ke masa kini dengan fakta dan pemaknaan yang mengacu ke depan.
Sebagai suatu peristiwa sejarah adalah milik masa lalu dan tak akan kembali lagi. Sebuah peristiwa hanya sekali terjadi dan kemudian kembali menghilang untuk selamanya.

Tetapi Gadamer dan Fazlur Rahman melihat sejarah adalah sebuah rangkaian peristiwa dan pemaknaan yang tak pernah terputus, karena pemaknaan sejarah selalu mengacu ke depan meskipun dilakukan hari ini sehingga sesungguhnya sulit menciptakan jarak antara masa lalu, kini dan esok. Dulu dan esok keduanya dipertemukan oleh pemaknaan hari ini oleh subyek pelaku dan penafsir sejarah itu sendiri. (Komaruddin Hidayat, 1996: 196).

Bahwa dalam terminologi sejarah, sering kita mendefiniskan sejarah sebagai sesuatu yang terjadi, yaitu peristiwa yang telah terjadi. Dan ini sudah menjadi pengertian yang lazim oleh berbagai kalangan, baik intelektual, ilmuwan, maupun politisi.

Tetapi berbeda dengan konsepsi bahwa agamawan khususnya dalam hal ini adalah umat Islam. Pengertian sejarah tidak hanya terletak pada sesuatu yang telah terjadi saja, namun sesuatu yang akan terjadi juga sejarah, artinya tidak mendahului takdir. Persoalannya adalah ajaran agama yang dalam hal ini berangkat dari masa depan untuk masa kini. Kebenaran ajaran agama dalam realitas kehidupan yang berangkat dari pemahaman dan pengamalan nilai-nilai ajaran yang terkandung di dalamnya.

Tahun 1959-1969 disebut kepribadian HMI. Penyusun Yusuf Syakir, Mar’i Muhammad dan lain-lain.
Tahun 1969-1986 disebut NIK Nilai-Nilai Identitas Kader atau Nilai Dasar Perjuangan ditetapkan dalam Kongres IX HMI tahun 1969 di Malang penyusun Sakib Mahmud, Endang Saefudin Anshori, dan Nurcholish Madjid.
Tahun 1986-tahun 2005 NIK ditetapkan dalam Kongres XVI tahun 1986 di Padang (Isi tetap NDP).
Tahun 2004 – sekarang kongres HMI di Makasar ditetapkan menjadi NDP dengan isi tetap.

Latar belakang dirumuskannya NDP dari internal antara lain: kesadaran tentang perlunya wacana keislaman, kebutuhan teologis. Dari sisi eksternal umat Islam antara lain: pergumulan teologis pasca transisi nasional, sebagai identitas.

3. Kata-kata Kunci dalam NDP HMI
Tuhan, Tauhid, Allah Swt. Nabi dan Rasul, Wahyu, Akal
Tujuan Hidup, agama,
Orentasi yang akan dituju, kebenaran, pencipta.
Takdir, ikhtiar, fitrah, hanief, dlamier, hati nurani, materialisme, politeisme, atheisme, kepercayaan, nilai-nilai universal
Keadilan, kemerdekaan, kemakmuran, kepemimpinan, khlaifah fil ardh.
Hakikat iman, ilmu, amal
Kemanusiaan, sosial, politik, budaya, peradaban, ekonomi,
Manusia, masyarakat, alam.

4. Kesiapan mental untuk mendalami NDP
Netral, obyektif, dinamis, istiqamah, komitmen dalam kebenaran.
Obyektif adalah keyakinan mengenai benarnya. Sikap obyektif. Nampak bahwa keyakinan, kebenaran dan sikap itu subyektif. Karena itu adalah suatu kepastian bahwa obyektifitas itu subyektif. Obyektivitas bukan lawan subyektivitas melainkan pasangan.

5. Kajian NIK/NDP di dalamnya sangat filosofis dank arena merupakan metodologi, maka dalam mempelajarinya harus dilandasi semangat keterbukaan, kejujuran dan dinamis. Terbuka tidak saja mau berdialog dengannya tetapi juga mau melepas dahulu segala cara menyakini Al Qur’an yang telah dimiliki. Jujur berarti harus mau mengakui dan menerima kebenaran apabila potensi kesadarnnya telah dapat menerima dan mengakui. Dinamis, di dalam mempelajari NIK/NDP berarti mencari kebenaran. Di sini menuntut proses yang terus menerus karena kebanaran yang kita temukan itu sebenarnya hanya sementara.

6. Setelah NIK/NDP dipahami oleh seseorang dan diterima sebagai cara meyakini (berkeyakinan), maka akan ditemukan nilai-nilai. Bagi HMI nilai-nilai yang ditemukan dengan metode NIK (Nilai-nilai Islam) inilah yang selalu diperjuangkan sebagai misinya. Sehingga mission HMI akan selalu merujuk kepada Nilai-Nilai Kader ini.

7. Manusia di dalam kehidupannya, agar dapat mempertahankan hidupnya secara layak harus memenuhi syarat-syarat kehidupan tertentu. Syarat-syarat itu yang kemudian menjadi kebutuhan manusia sehari-hari (bahkan setiap aat). Kebutuhan manusia itu antara lain makan, sandang, papan, rasa aman, kepercayaan, kebutuhan untuk beraktualisasi diri dan sebagainya.

8. Manusia membutuhkan kepercayaan karena dalam kehidupannya manusia pasti membutuhkan sesuatu untuk keperluan hidupnya. Sedangkan untuk melakukan sesuatu itu diperlukan kepastian, tidak mungkin keraguan. Jadi sikap ragu yang sempurna itu tidak mungkin terjadi. Hidup yang nyata/sempurna/sejati menjadi dambaan setiap orang. Atau dengan kata lain setiap orang ingin hidup yang sebanar-benarnya (menurut kebenaran). Hubungan kesadaran manusia dengan kesadaran ini kemudian melahirkan kepercayaan. Kepercayaan itu lalu merupakan kebenaran dan harus dengan cara yang benar.

9. Dengan kepercayaan itu berarti manusia mencari/mendambakan kebenaran itu. Karena itu manusia menjadikan kebenaran (mutlak) sebagai tujuan hidupnya. Dia mengabdi, tunduk dan pasrah serta menjadikan satu-satunya sumber nilai terhadap kebenaran mutlak tersebut. Padahal dalam perbedaan kultur dan bahasa kebenaran mutlak itu disebut “ALLAH”. Jadi manusia harus tunduk dan pasrah kepada Allah itu. Tunduk dan pasrah itu disebut Islam. Oleh karena itu jalan hidup yang benar adalah Islam (tunduk dan pasrah).

10. Jadi Tuhan Allah itu ada dan mutlak. Dia adalah yang awal dan yang akhir. Asal sekaligus tujuan. Untuk mengatahui keberannya dapat dengan apapun. Tetapi karena kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka Tuhan memberitakan dirinya lewat “wahyu”. Wahyu itu merupakan informasi Tuhan kepada manusia tentang segala sesuatu. Tuhan menciptakan alam raya ini beserta manusia. Manusia merupakan puncak ciptaan Tuhan berposisi sebagai ”khalifah” di bumi. Maka manusia harus dapat memelihara alam ini sebaik baiknya, yakni dengan mengaktualisasikan nilai-nilai yang berasal dari Tuhan (kebenaran mutlak). Aktivitas manusia di dunia ini merupakan proses pencarian kebenaran itu sendiri (mempertuhankan Tuhan). Inilah yang disebut ”tauhid’. Lawannya ”syirik”.

11. Alam ini diciptakan oleh Tuhan dengan hukum yang pasti, tidak main-main. Jadi alam ini nyata dan obyektif. Untuk memperoleh kebenaran (sejauh mungkin) maka manusia harus mengetahui pengetahuan tentang ini seluruhnya (yang mana tidak mungkin). Padahal manusia hanyalah mungkin mengetahui sebagian saja (karena kenisbiannya). Proses yang terjadi di alam ini (sejarah) senantiasa tunduk pada hukum-hukum Allah atas alam (sunnatullah). Maka dari itu segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah karsa dan cipta Tuhan.

12. Sendangkan manusia sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna mempunyai tugas sebagai pengelola bumi dengan beramal secara konkrit. Beramal inilah yang disebut menyejarah. Hal ini adalah keniscayaan karena dunia ini adalah sejarah belaka. Maka jika manusia tidak menyejarah berarti mati. Menyejarah berarti kreatif, dinamis dan selalu tunduk pada nilai-nilai kebenaran. Di dalam diri manusia sebenarnya terdapat ”fitrah” yang selalu ”hanief”, tetapi juga terdapat “nafsu” yang cenderung jahat. Perjuangan menusia untuk mencapai derajat (harkat) kemanusiannya tidak lain adalah menjadikan fitrahnya yang hanief ini memimpin nafsunya. Sehingga yang terjadi adalah memilihara bumi dan bukan merusak bumi.

13. Hidup menurut fitrahnya atau beramal sesuai dengan nuraninya yang hanief disebut ikhlas. Keikhlasan tak mungkin ada tanpa adanya kemerdekaan. Karena dengan kemerdekaan itu segala amal dipilih dan dilakukan sejalan dengan kehendak hati nuraninya. Tetapi kemerdekaan itu hanya akan berlaku total dalam konteks individu. Dalam konteks Islam ataupun masyarakat, kemerdekaan akan terbatas. Keterbatasan itu disebabkan oleh hukum-hukum Tuhan (sunnatullah yang menguasai setiap materi dan kemerdekaan dari individu yang lain menjadi pembatas dari individu tersebut).

14. Suatu kenyataan bahwa manusia hidup di dalam masyarakat. Ini berarti kemerdekaan manusia menjadi terbatas. Jika dalam masyarakat kemerdekaan tak terbatas, maka yang terjadi adalah ”anakhis” (kekacauan). Disamping itu kemerdekaan yang tak terbatas akan dapat mengakibatkan perbudakan satu sama lain karena siapa yang kuat akan menguasai yang lemah. Hal ini jelas bertentangan dengan keadilan. Maka manusia harus menjalin hubungan dengan sesamanya agar dapat membuat sejarah ini dengan sebaik-baiknya.

15. Agar manusia dapat hidup secara teratur, maka manusia harus membentuk komunitas masyarakat dengan segala aturan untuk mengatur hubungan antar sesamanya. Aturan itu dibuat oleh mereka sendiri, dan untuk menjaga dan menjalankan aturan tersebut maka diperlukan sekelompok orang atau pihak yang disebut pemimpin. Oleh karena itu pemimpin haruslah dipilih oleh semua individu dalam masyarakat itu. Proses demikian disebut demokrasi. Adapun bentuk masyarakat terpenting, dalam sejarah ini adalah negara.

16. Hubungan manusia yang penting untuk diatur adalah hubungan dalam pemilikan atas asset ekonomi. Tanpa diatur sedemikian rupa maka siapa yang kuat akan menguasai sangat banyak, dan yang lemah menguasai sedikit sekali. Di sini terjadi kesenjangan ekonomi. Bahkan dapat terjadi penghisapan terhadap yang lemah. Ini merupakan kejahatan dalam bidang ekonomi, dimana di satu pihak menumpuk kapital, dan di pihak lain sangat kekurangan. Kejahatan ekonomi yang menyeluruh dilakukan oleh kapitalisme. Negara berkewajiban untuk mengatur pemerataan ekonomi ini seadil-adilnya.

17. Dari semua apa yang dilakukan di atas adalah dalam rangka membangun sejarah untuk mencari kebenaran dengan cara beramal. Tetapi agar amal ini dapat terarah, maka manusia perlu mempelajari hukum-hukum yang ada di alam maupun yang berlaku di dalam kehidupan sosial. Yakni dengan ilmu pengatahuan.

Muhammad Julijanto

Pengantar NDP HMI

Disampaikan pada Latihan Kader I (LK 1) HMI Komisariat Walisongo HMI Cabang Sukoharjo, 12 November 2011 di Baderan, Sidowayah, Polanharjo, Klaten Jawa Tengah.

NILAI UNIVERSAL IBADAH KURBAN

Oleh Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag
(Dosen IAIN Surakarta dan Sekretaris Majelis Tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah Wonogiri)

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَائِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لِيُخْرِجَنَا مِنَ الضُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ وَيَجْعَلَنَا مِنْ خَيْرٍ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ, اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهِ وَاحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَ الْمَخْلُوْقَات, اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمُ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ,اَمَّابَعْدُ.
فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَيْثُ مَاكُنْتَ وَاتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَضِيْمِ. اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. إنَّآأَعْطَيْنَاكَ اْلكَوْثَرُ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرُ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ.
Jama’ah Shalat Idul Adha Tamu Undangan Allah Yang Berbahagia
اللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر اللهُ اَكْبَر وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Swt atas segala nikmat dan karunia-Nya yang tak terhingga kepada kita sekalian semoga kenikmatan tersebut dapat kita daya upayakan semaksimal mungkin untuk mencapai kemanfaatan di dunia ini.
Salawat serta salam kita haturkan kehadirat Baginda Rasulullah Muhammad Saw. atas segala perjuangan dan telandannya. Membangun sumber daya manusia yang tercerahkan secara rohaniah dan tersejahterakan secara lahiriah. Dengan sejarah yang gemilang telah mengantarkan tata kehidupan yang harmonis dan keseimbangan pemenuhan kebutuhan antara investasi untuk kesejahteraan dunia dan investasi amal soleh untuk menyongsong kehidupan ukhrawiyah dengan berpacu dalam amaliah khasanah dan berjuang mencegah kemungkaran dan kemadhorotan. Itulah suri tauladan agung yang telah ditorehkan sejarah Islam dengan tinta emas, sebagai model insan kamil yang harus diserap dalam kepribadian umat Islam.
Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt dengan cara mengamalkan perintahnya, menjauhi larangannya, melanjutkan misi kenabian Rasulullah Muhammad Saw dengan berakhlak al karimah-akhlak yang terpuji. Sebab dengan akhlak al karimah insya Allah kehidupan dunia ini akan semakin tertib, semakin damai dan sejahtera.
اللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر اللهُ اَكْبَر وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Jama’ah Shalat Idul Adha Tamu Undangan Allah Yang Berbahagia
Allah Swt mensyariatkan ibadah haji untuk sejumlah tujuan dan beragam hikmah yang agung, antara lain:
Pertama, menyaksikan tempat kelahiran Nabi Muhammad Saw dan mengetahui tempat-tempat kehidupan beliau yang diberkahi, memanjakan mata melihat masjidil Haram dan Ka’bah sambil mengenang jihad perjuangan Rasulullah Saw menyaksikan secara langsung tempat yang memancarkan cahaya wahyu di dalam hati dan perasaan Nabi Saw, mengenang kedatangan Jibril pada beliau, dan merayakan hari raya turunnya Alquran dari ayat pertama menurut kronologis waktu maupun tempat.
Ziarah ke tanah suci juga mengingatkan pelakunya untuk mengenang kembali tempat-tempat jihad Rasulullah Saw dan para sahabatnya, membayangkan kisah-kisah kepahlawanan, keikhlasan, dan dedikasi para sahabat dalam mencurahkan jiwa raga dan harta, hijrah meninggalkan tanah kelahiran dan keluarga demi menjalankan perintah-perintah Allah Swt hingga di antara mereka ada yang sudah dipastikan dan dikabarkan masuk surga sewaktu masih hidup di dunia.
اللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر اللهُ اَكْبَر وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Jama’ah Shalat Idul Adha Tamu Undangan Allah Yang Berbahagia
Kedua, saat menyaksikan Mekkah dan Ka’bah jamaah haji akan teringat pada keberkahan Al-khalil Ibrahim As dan putranya, Ismail serta ibundanya, Hajar sebagai prototipe keluarga iman yang menganggap ringan segala sesuatu di hadapan perintah Allah Swt meskipun harus menjalani ujian penyembelihan dan tinggal di lembah padang pasir yang tidak berpenghuni dan tidak bertanaman, dan pasrah menyerahkan nasib kepada Allah Swt meski dengan segala kesendirian dan kebutuhan.
Ritual ibadah haji juga mengingatkan pelakunya akan usaha ibunda Ismail yang berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa berkali-kali sambil menyenandungkan jerit permintaan tolong demi kehidupan buah hatinya, kemudian turunya Jibril untuk menggali sumur Zamzam. Di samping itu, jamaah membayangkan bagaimana perjuangan Ibrahmi dan Ismail saat meninggikan fondasi Ka’bah, kemudian suaranya menggema ke segala penjuru dunia. Bagaimana persiapan keluarga kecil ini untuk penyembelihan Ismail demi membuktikan mimpi sang ayah, kemudian penampakan Iblis pada sang ibu dalam situasi ini, namun disambut dengan pelemparan batu olehnya hingga ia lari terbirit-birit menjauhnya. Dan inilah yang menjadi latar belakang historis pelemparan jamrah (kerikil) sebagai salah satu ritual ibadah haji.
Selanjutnya wukuf di Arafah, jamaah haji akan teringat perkenalan Adam dengan Hawa setelah diturunkan dari Surga, kemudian penyatuan Adam dan Hawa di Muzdalifah karena Allah Swt ingin menyemarakkan kehidupan di muka bumi dengan keturunan mereka.
اللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر اللهُ اَكْبَر وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Ketiga, ibadah haji mengandung unsur penunjukan status kehambaan dan kesahajaan dengan merendahkan diri di hadapan Allah Swt sang Maha Pencipta. Saat ihram misalnya, jamaah haji menunjukkan penampilan yang sangat bersahaja, jauh dari perhiasaan dan keglamoran, melainkan tampil layaknya seorang budak yang dimarahi majikannya, lalu tampil dengan segala kelusuhan diri agar sang majikan iba dan kasihan terhadapya sambil memohon ampunan atas segala kesilapan dan mengharapkan penghapusan kesalahan-kesalahannya. Inilah kondisi orang yang wukuf di padang Arafah dan perilaku orang yang thawaf mengelilingi Baitullah. Ia berdiri di tempat yang dinisbatkan pada Tuhannya, di samping pintu-Nya dengan memohon perlindungan di sisi-Nya.
لبيك اللهم لك لبيك , لبيك لاشريك لك لبيك ,إن الحمد ونعمة لك والملك لاشرك لك لبيك
Keempat, di dalam ibadah haji terpapar jelas persamaan se-Islam (al musâwah al-islâmiyyah) dalam wujud yang paling signifikan dan makna yang paling agung, mengingat kaum muslim berkumpul di tempat yang sama, dengan penampilan yang sama, dan sama-sama tunduk, merendah, dan takut kepada Allah Swt. Tidak ada lagi perbedaan antara satu ras bangsa dengan ras bangsa yang lain, antara si kaya dan si miskin, dan tidak ada pula keistimewaan antara satu orang atas yang lain.
Kelima, haji memenuhi kebutuhan seorang muslim setelah ibadah shalat yang ia tunaikan setiap harinya, setelah bulan Ramadhan yang ia puasa setiap tahunnya, dan setelah ibadah zakat yang ia tunaikan setelah sempurna nishabnya, dan tinggallah ia menyaksikan dan menghadiri sebuah festifal yang merupakan musim berseminya cinta dan kasih sayang, reuni para kekasih dan perindu kebenaran, serta panorama para perindu dan para penggila cinta sejati.
اللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر اللهُ اَكْبَر وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Jama’ah Shalat Idul Adha Tamu Undangan Allah Yang Berbahagia
Keenam, haji menyiratkan sebuah kekuatan efektif bagi kesatuan suara umat Islam dari segala penjuru dunia, dan sebuah pemandangan indah nan menawan dari manifestasi persatuan barisan Islam yang menyatukan mereka di atas kecintaan kepada Allah dan memberi kesempatan kepada mereka untuk saling mengenal dan menjadikan persaudaraan, sehingga seorang mukmin dapat merasakan jalinan kuat yang mengikat kaum muslimin yang datang dari segala penjuru bumi, sebagai salah satu bukti kebenaran sabda Rasulullah Saw: “Orang mukmin dengan orang mukmin lainnya bak satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain”.
Ketujuh, di dalam pawai akbar yang menyatukan massa untuk menunaikan satu kewajiban ini, kaum muslimin menyatukan segala bentuk kemsalahatan dan berbagi nasihat. Yang belum tahu belajar kepada yang pintar, yang sakit terobati. Bisnis berkembang pesat, laju perdagangan semakin bergiat, dan kebajikan semakin menyeruak, sebab rizki yang terkumpul di Tanah Haram sebagai realisasi doa Nabi Ibrahim As: “Dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur” (Ibrahim [14]: 37).
رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ibadah haji juga menumbuhkembangkan tekad (‘azam) untuk menjalankan perilaku ritual haji, menanggung derita perjalanan, perpisahan dengan sanak keluarga dan tanah air, di samping menegaskan persaudaraan sesama Islam (al-ukhuwah Islâmiyyah) dan merealisasikan persamaan di antara kaum muslimin, sebab di sana mereka berdiri dalam baju yang sama untuk beribadah kepada Tuhan yang sama dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.
Kedelapan, kerumunan massa yang sangat besar ini kemudian bergerak dalam perlindungan Allah Swt, menunaikan manasik haji demi kebersihan raga dan kesucian harta agar status mereka di dunia terangkat di mata Allah swt dan pahala mereka semakin besar kelak di hari kemudian .
Allah Swt berfirman dalam surat Ali Imran [3]: 97:
وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

Kehidupan ini membutuhkan pengorbanan
اللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر اللهُ اَكْبَر وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Jama’ah Shalat Idul Adha Tamu Undangan Allah Yang Berbahagia
Kehidupan tanpa adanya pengorbanan seakan hambar. Sikap mengalah adalah wujud pengorbanan seseorang kepada orang lain. Manusia hidup pasti akan berhadapan dengan situasi yang mengharuskannya untuk berkurban. Sikap rela berkorban sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat. Demikian juga ketataan kepada sang Kholiq sangat lekat dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengorbanan sebagai wujud dan pembuktian pengabdian kepada sang Pencipta Allah Swt.
Qurban dalam bahasa Arab berarti mendekatkan diri. Dalam fikih kurban adalah penyembelihan binatang tertentu pada waktu tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah .
Semula, kurban merupakan syariat Nabi Ibrahim. Allah memerintahkan kepada beliau untuk menyembelih putranya, Ismail ketika beliau hendak menyembelihnya, Allah mengganti Ismai dengan seekor kambing. Sebagaimana dikisahkan dalam surah As Saffat [37]: ayat 107, dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Kemudian kurban disyariatkan bagi Umat Nabi Muhammad Saw pada tahun kedua hijriah. Ajuran berkurban disebutkan dalam surah Al Kausar [108]: ayat 2, “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu,dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)”.
Adapun hadis yang menganjurkan kurban di antaranya disampaikan Aisyah ra. “Tidak ada suatu perbuatan yang dilakukan manusia pada nahr yang lebih disukai Allah daripada menyembelih kurban…….” (HR At Tirmizi dan Ibnu Majah).
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُم مِّن شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ -٣٦-
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi`ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ -٣٧-
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. Al Hajj 36-37.
Allah Swt menjelaskan di dalam ayat 36 dari surat al-Hajj di atas bahwa unta merupakan di antara syiar Agama Allah. Pada diri unta tersebut kamu dapat melakukan pengabdian kepada Allah dengan menyembelihnya dan memberi makan dengan unta tersebut. Unta tersebut bermanfaat bagimu, baik di dunia maupun di akherat. Karena itu, sebutlah nama Allah pada saat menyembelihnya dalam keadaan berdiri dan membariskan keempat kakinya. Kalau unta tersebut sudah jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi, makanlah dan berilah makan dengannya para peminta-minta dan orang-orang yang rela menerima takdir miskin dan menderita dari Allah Swt
Kemudian di dalam ayat yang kedua Allah s.w.t menjelaskan bahwa daging unta tersebut tidak akan sampai kepada Allah. Kemudian dalam ayat berikutnya Allah Swt menjelaskan bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah daging-daging kurban yang dihadiahkan untuk ka’bah tersebut, melainkan keikhlasan dan ketaatan melaksanakan perintah-Nya dan ketaqwaannya. Amalan-amalan tersebut diterima didasarkan pada ketaqwaan dan keikhlasan dalam melaksanakannya. Amalan-amalan yang dilaksanakan dengan tanpa didasari ketaqwaan dan keikhlasan tidak obahnya seperti gambar yang tanpa ruh. Karena itu janganlah seseorang mengira bahwa ia akan menerima pahala (reward) dari Allah Swt dengan daging yang dipotong dan kemudian disebarkan dan tidak juga darahnya yang dilumurkan ke ka’bah yang suci, seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Jahiliyah. Yang diterima Allah Swt hanyalah ketaqwaan dan meninggalkan amalan-amalan yang bertentangan dengan Islam seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik tersebut.
Setelah itu Allah Swt mengakhiri ayat ini dengan mengingatkan orang-orang beriman tentang wajibnya bersyukur dan mengagungkan-Nya yang telah menciptakan hewan-hewan tersebut untuk mereka, untuk dikurbankan dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka dapat memakan daging-dagingnya dan menyedekahkan sebagiannya untuk mendapatkan pahala dari Allah Swt Berikanlah kabar gembira kepada mereka yang telah berbuat kebaikan ini bahwa balasannya adalah surga yang penuh dengan kenikmatan.
Kesimpulan
اللهُ اَكْبَر اَللهُ اَكْبَر اللهُ اَكْبَر وَ ِللهِ الْحَمْدُ
Jama’ah Shalat Idul Adha Tamu Undangan Allah Yang Berbahagia
Pertama, Dengan berhaji menjadi sempurna keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, selalu menjaga kemabruran ibadah haji dengan beramal shaleh sepanjang hanyat masih di kandung badan.
Kedua, Dalam bahasa Alquran, hikmah dan tujuan ibadah haji diungkapkan dengan istilah liyasyhaduu manaafi`a lahum, yaitu untuk “menyaksikan” kemanfaatan-kemanfaatan duniawi dan ukhrawi (kebahagiaan sejati) yang maha dahsyat yang akan terus mengalir dan menjadi “milik” mereka yang berhasil menunaikan haji secara mabrur. (QS al-Hajj [22]: 28).
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ
Ketiga, Dengan berkorban kita tingkatkan rasa kepeduliaan sosial. Lambang kepekaan sosial, pertanda adanya kebersamaan, kesetiakawanan dan solidaritas sosial. Apabila kepekaan sosial ini luntur atau mati, maka solidaritas dan kesetiakawanan sosial akan luntur atau lenyap. Apabila ini terjadi, maka tidak mustahil akan terjadi kecemburuan sosial yang pada gilirannya akan menimbulkan gejolak dan kerusuhan sosial. Oleh karena itu dengan ibadah kurban menggugah kembali daya kepekaan dan solidaritas sosial kepada saudara kita yang lemah, yang kekurangan, yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Sehingga tercipta tata kehidupan yang harmonis, damai dan sejahtera lahir dan batin.
Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah Swt semoga para jamaah haji yang sedang menunaikan ibadah di tanah suci dapat kembali ke tanah air dengan haji mabrur diterima amal ibadahnya, semakin bermanfaat bagi masyarakat dan kepada kita sekalian yang belum mempunyai kesempatan menunaikan rukun Islam kelima agar dilapangkan jalan menuju panggilan-Nya, dibukakan pintu rizki yang seluas-luasnya, sehingga pembangunan bangsa ini berjalan lancar kemakmuran ekonomi terwujud, kesemarakan pengamalan ajaran Islam berjalan secara merata di kalangan kaum muslimin. Dan saudara-saudara kita yang menghadapi musibah tetap sabar, tawakal, dikuatkan imannya dan dimudahkan dalam segala usahanya,amin.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَضِيْمِ. اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. إنَّآأَعْطَيْنَاكَ اْلكَوْثَرُ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرُ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ اْلأَبْتَرُ.
بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَ الذِكْرِ اْلحِكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْ كُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Daftar Pustaka
Abdul Aziz Muhammad Azzam, Abdul Wahhab Sayyed Hawwas, Fikih Ibadah Thaharah Shalat Zakat Puasa dan Haji, Penerjemah Kamran As’at Isyady, Ahsan Taqwim, Al Hakam Faishol, Jakarta: Amzah, 2009.
Indi Aunullah, Ensiklopedi Fkih Untuk Remaja, Yogyakarta: Insan Madani, 2008
M Quraish Shihab, Membumikan Alquran Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1992.


DO’A KHUTBAH IDUL ADHA

اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَائِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لِيُخْرِجَنَا مِنَ الضُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ وَيَجْعَلَنَا مِنْ خَيْرٍ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهِ وَاحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَ الْمَخْلُوْقَاتِ. اَمَّابَعْدُ.
فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَيْثُ مَاكُنْتَ وَاتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّا بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَضِيْمِ: اِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا اَيُّهَا الْذِيْنَ اَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمُ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاجْعَلْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِ نِعَامَهُ وَيُكَافِ مَزِيْدَ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَايَنْبَغِ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَضِيْمُ السُّلْطَانِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبُ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكَ الْكَفَارَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا جَمْعًا مَغْفُوْرًا وَتَفَرُقَنَا بَعْدَ هَذَا تَفَرُقًا مَرْحُومًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمِنَا هَذَا أَوَّلُهُ صَلاَحًا وَأَوْسَطُهُ فَلاَحًا وَاَخِرُهُ نَجَاحًا بَاهِرًا بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَشَأْيًا مَشْكُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَتِجَارَةً لَمْ تَبُوْر. اَللَّهُمَّ بَلَغْنَا زِيَارَةَ الْحَرَمَيْنِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَخَسُّوعَنَا وَجَمِيْعِ عِبَاذَتَنَا وَتَمِّمُ تَكْثِيْرَنَا يَاالله. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةَ حَسَنَةً وَقِنَا عَدَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَائِيْتَائِىذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَااذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهْ عَلَى نِعَمَهُ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهُ أَكْبَرُ.

Khutbah Hari Raya Idul Adha 1432 H di Halaman Masjid Al Falah Wonoboyo Wonogiri, Ahad, 6 November 2011