ETIKA BERPAKAIAN VS TINGGINYA ANGKA PELECEHAN SEKSUAL

ETIKA BERPAKAIAN VS TINGGINYA ANGKA PELECEHAN SEKSUAL

Oleh Muhammad Julijanto

 

Pakaian adalah identitas, simbol keberadaan seseorang, sehingga dalam peribadatan dalam Islam pakaian diatur sedemikian rupa. Berpakaian tidak asal menutup bagian-bagian tubuh yang sensitive atau privaci, tetapi jauh lebih dalam adalah upaya untuk melindungi dari dari segala bentuk mara bahaya, termasuk mengundang lawan jenis untuk memberikan reaksi kekerasan.

Belakangan ini di gedung rakyat DPR ribut masalah banyaknya staf perempuan yang berpakaian seksi hilir mudik di lingkungan perkantoran DPR (TV One,7/3/2012). Belum lagi perkosaan terjadi di angkutan umum, yang disinyalir dari pakaian yang dikenakan perempuan mengundang syahwat.

Banyak bukti yang nyata tentang terjadinya tindak kekerasan pelecehan seksual pemerkosaan yang berangkat dari terbukanya bagian tubuh yang berakibat terjadi pelecehan seksual. Kita harus adil dalam memberikan tretmen.

Apakah benar pakaian akan mengundang respon orang untuk melakukan tindak pelecehan seksual? Bagaimana aturan berpakaian di ruang publik, dan bagaimana kebebasan individu dalam berpakaian? Apa yang harus dilakukan oleh desainer dalam membuat desain pakaian yang sesuai dengan cita karsa dan budaya timur bangsa Indonesia?.

Pelecehan

Data tentang kekerasan seksual akibat pelecehan seksual, bagaimana modus operandinya, apakah ada pengaruh pakaian yang dikenakan. Hasil monitoring Legal Resources Centre untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC KJHAM) selama tahun 2011 sebanyak 1.280 perempuan menjadi korban kekerasan. Antara lain terlibat kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perkosaan, pelecehan seksual, buruh migran, dan perdagangan manusia atau trafficking. 40 orang perempuan meninggal dunia. Buruh migran mencapai 21  orang, disusul KDRT 10 orang.

Jumlah kasus migran perempuan di Jateng mencapai 110 kasus, dengan korban 169 orang perempuan. Kasus KDRT tercatat 197 kasus dengan 227 korban perempuan. Perkosaan 140 kasus dengan 172 korban perempuan. Kasus kekerasan dalam pacaran 137 kasus dengan korban 139 orang perempuan, pelecehan seksual sebanyak 6 kasus dengan korban perempuan 11 orang perempuan, perdagangan perempuan 20 kasus, dengan 50 korban (Koran O, 18/2/2012 hlm. 5).

Korban paling banyak kasus prostitusi 35 kasus dengan korban 505 perempuan, di mana terdapat 60 orang anak-anak yang dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK).

Fungsi Pakaian

Alquran paling tidak menggunakan tiga istilah untuk pakaian, yaitu libas, tsiyab dan sarabil (pakaian yang berfungsi menangkal sengatan panas, dingin, dan bahaya dalama peperangan). Libas pada mulanya berati penutup, fungsi pakaian sebagai penutup amat jelas. Pakaian batin maupun lahir. Tsiyab digunakan untuk menunjukkan pakaian lahir. Kata ini terambil dari tsaub yang berarti kembali, yakni kembalinya sesuatu pada keadaan semula, keadaan yang seharusnya sesuai dengan ide pertamanya.

Alquran surat Al A’raf [7]: 22 ……..setelah mereka merasakan (buah) pohon (terlarang)itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga……. dari ayat ini terlihat jelas ide dasar yang terdapat dalam diri manusia adalah “tertutupnya aurat”, namun karena godaan setan, aurat manusia terbuka. Dengan demikian, aurat yang ditutup dengan pakaian akan dikembalikan pada ide dasarnya. Prof Qurasish Shihab (1996: 156) mengatakan wajarlah jika pakaian dinamai tsaub/tsiyab yang berarti “sesuatu yang mengembalikan aurat kepada ide dasarnya”, yaitu tertutup.

Dari ayat Al A’raf [7]: 20 dan 22 tampak jelas bahwa ide “membuka aurat” adalah ide setan, dan karenanya ‘tanda-tanda kehairan setan adalah “keterbuakaan aurat”. Kemudian di ayat Al A’raf [7]: 27 Wahai putra-putri Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah menipu orang tuamu Adam dan Hawa) sehingga ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat mereka berdua.

Fungsi pakaian sebagai penunjuk identitas dan pembeda antara seseorang dengan yang lain, pakaian berfungsi sebagai penutup aurat. Aurat berarti buruk, tidak menyenangkan, onar, aib, tercela. Keburukan yang dimaksud tidak harus dalam arti sesuatu yang pada dirinya buruk, tetapi bisa juga karena adanya faktor lain yang mengakibatkan buruk. Tidak satu pun dari bagian tubuh yang buruk karena semuanya baik dan bermanfaat – tetapi dalam konteks pembicaraan dan tuntunan agama, aurat dipahami sebagai anggota tubuh tertentu yng tidak boleh dilihat kecuali oleh orang-orang tertentu. Sehingga terbukanya aurat akan membawa implikasi sosial yang lebih dahsyat, seperti mengundang adanya pelecehan seksual hingga kekerasan dan pemerkosaan.

Fungsi pakaian sebagai perhiasan. Perhiasan adalah sesuatu yang dipakai untuk memperelok. Pakaian yang elok adalah yang memberikan kebebasan kepada pemakaianya untuk bergerak. Kebebasan mesti bertanggung jawab, karena keindahan harus menghasilkan kebebasan yang bertanggung jawab. Fungsi pakaian sebagai perhiasan perlu digarisbawahi bahwa salah satu yang harus dihindari dalam berhias termasuk berpakaian adalah timbulnya rangsangan nafsu birahi dari yang melihatnya (kecuali suami atau istri) dan atau sikap tidak sopan dari siapa pun.

Berhias tidak dilarang dalam ajaran Islam, karena ia adalah naluri manusiawi, yang dilarang adalah tabarruj al-jahiliyah, satu istilah yang digunakan Alquran surat Al Ahzab [33]: 33 yang mencakup segala macam cara yang dapat menimbulkan rangsangan birahi kepada selain suami istri.

Efek berpakaian yang tidak menutup aurat berimplikasi pada sering terjadinya tindak pelecahan seksual yang dilakukan orang terhadap perempuan. Sehingga upaya lembaga, pemerintah membuat aturan tentang berpakaian, seperti uniform, adalah dalam rangka sebagai identitas personal yang menunjukkan lembaga dari mana yang bersangkutan berasal.

Demikian juga sebagaimana yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Solo yang mewajibkan uniform PNS dilingkungan pemkot Solo berpakaian Kejawen, termasuk penggunaan batik sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Secara normatif dengan pakaian tersebut akan terbentuk identitas nasional dan mental karakter buliding aparatur, yang harus bekerja secara profesional tetapi juga sangat menjunjung tinggi budaya timur yang sopan, beretika, dan berkepribadian luhur.

Di sisi lain, pakaian memberi pengaruh psikologis bagi pemakainya. Itu sebabnya sekian banyak negara mengubah pakaian militernya, setelah mengalami kekalah militer. Bahkan Kemal Ataturk di Turki, melarang pemakai tarbusy (sejenis tutup kepala bagi pria), dan memerintahkan untuk menggantinya dengan topi ala Barat, karena tarbusy dianggapnya mempengaruhi sikap bangsanya serta merupakan lambang keterbelakangan. Kaum sufi, sengaja memakai shuf (kain wol) yang kasar agar dapat menghasilkan pengaruh positif dalam jiwa mereka.

Quraish Shihab menyatakan, memang harus diakui bahwa pakaian tidak menciptakan santri, tetapi dia dapat mendorong pemakainya untuk berprilaku seperti santri atau sebaliknya menjadi setan, tergantung dari cara dan model pakaiannya. Pakaian terhormat, mengundang seseorang untuk berperilaku serta mendatangi tempat-tempat terhormat, sekaligus mencegahnya ke tempat-tempat yang tidak senonoh. Inilah salah satu yang dimaksud Alquran dengan memerintahkan wanita-wanita memakai jilbab. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal (sebagai muslimah/wanita terhormat) sehingga mereka tidak diganggu.

Pakaian juga mempunyai fungsi pelindung, pakaian bisa sebagai pelindung rohani, libas at-taqwa. Setiap orang dituntut untuk merajut sendiri pakaian ini. Benang atau serat-seratnya adalah taubat, sabar, syukur, qana’ah, ridha, ikhlas, dan sebagainya.

Dengan menjaga etika berpakaian yang sopan sesuai dengan nilai budaya bangsa akan semakin tertibnya kehidupan sosial. Pakaian menujukkan martabat seseorang, dengan berpakaian yang baik dan sesuai dengan peruntukannya, akan terhidar dari kejahatan akibat pakaian yang seronok. Wallahu a’lam bis showab.

 

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag adalah Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Surakarta, Tim Advokasi Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Wilayah Aisyi’ah Jawa Tengah

About these ads

One thought on “ETIKA BERPAKAIAN VS TINGGINYA ANGKA PELECEHAN SEKSUAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s