Tantangan Masyarakat Multikultural Indonesia

Tantangan Masyarakat Multikultural Indonesia

Oleh Muhammad Julijanto

 

Agama berbicara tentang realitas kehidupan. Agama yang tidak mampu menyesuaikan diri akan ditinggalkan oleh umatnya. Apakah dengan demikian agama akan meninggalkan idealisme moralitas yang menjadi misi utamanya bukan hanya sekedar urusan pragmatis yang hanya menguntungkan saat ini saja. Dimensi agama berada pada dua kaki, yaitu problem sosial yang riil harus dihadapi dan harus diselesaikan, sementara dimensi ukhrawiyah yang mempunyai dimensi spiritual lebih menekankan pada aspek religiusitas, moral dan etika dalam kehidupan sosial.

Mengapa agama seakan tidak berfungsi menghadapi sistem yang korup, kekuasaan yang korup, nilai-nilai moral yang korup, dimana sistem sosial yang sudah sedemikian parah, sehingga seseorang akan melakukan sesuatu yang sesuai lebih dari sekedar mencari keuntungan saat ini, mereka berharap apa yang mereka lakukan saat itu harus membuahkan hasil yang utama dapatkan yang dahulu, daripada resiko masa depan yang belum pasti dalam logika berpikir sederhana dan berdimensi teologis?.

Respon Agama

Tantangan agama adalah kaya akan konsep yang ideal, tetapi miskin aplikasi. Di sinilah penganut agama/agamawan, intelektual dan praktisi dakwah harus bisa menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Agama adalah nasehat, setiap ajaran agama mengajarkan kritik sosial yang membangun, karena mengembalikan pemikiran manusia kepada realnya secara utuh, kaidah apa yang harus diikuti dan dijalani dalam rangka menempuh peta kehidupan yang jauh. Setiap nasehat akan menjadi semacam terapi atau obat yang terasa pahit, namun hakikatnya adalah menyembuhkan penyakit yang ada. Kepahitan akan berbuah pada kemanisan dan kenikmatan bila mampu meneruskan dan berlaku sebagaimana norma yang dijalankan, sebaliknya membiarkan penyakit semakin kronis akan membawa kepada kerugian dan kehancuran masyarakat pada masa yang akan datang.

Pemahaman dan kesadaran keberagamaan tidak sama dalam implementasinya di tengah realitas sosial yang ada. Maka wajar jika banyak orang yang pesimis terhadap nilai-nilai kejujuran jika diamalkan. Kepesimisan tersebut mengakar karena kebohongan, kemunafikan dan pengingkaran terhadap nilai-nilai kejujuran sudah sedemikian parah, bahkan bisa dikatakan sebagai suatu kondisi yang sudah kronis, orang yang jujur justru mendapatkan perlakuan yang sebaliknya, sedangkan orang yang curang mendapatkan kemuliaan dan penghargaan. Padahal pola perilaku yang seperti anomali hakikatnya adalah pembunuhan karakter yang akan menghancurkan tatanan sosial yang lebih baik.

Oleh karena itu untuk apa sebuah kejujuran harus diperjuangkan, sementara semua orang ramai-ramai melegalkan kecurangan dan ketidakjujuran. Sedangkan orang yang hidup dengan apa adanya dan mengedepankan kejujuran, justru selalu dalam realitas yang tidak menyenangkan, bahkan menjadi obyek diskriminasi dalam pelayanan.

Nilai-nilai keagamaan merupakan sekumpulan etika, dan bukannya sekumpulan aturan yang ketat dan eksklusif (A. Qodri Azizy dalam Kamdani, 2007: 178-180). Agama diberikan Tuhan untuk manusia, dan bukan manusia untuk agama (Musa Asy’arie, 2005: 178-179). Artinya, agama dalam bentuknya akan bergerak dari individu untuk kemaslahatan masyarakat. Pergerakan nilai-nilai keagamaan itu menunjukkan bahwa agama tidak saja persoalan hati dan iman, tetapi juga merupakan persoalan cognitive content (Muhammad Iqbal, 2008: 4-5). Berpijak pada realitas di atas, eksistensi manusia harus dilihat dari dua sisi, yakni: (1) sisi pemahaman dan realisasi ajaran agama dalam kehidupan, dan (2) sisi nilai-nilai keagamaan yang berperan untuk membela kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan (Musa Asy’arie: 178-179). Dengan demikian, Islam telah memberi ajaran kepada umatnya bahwa umat Muslim harus memiliki kemampuan untuk merumuskan prinsip-prinsip etis dan evaluasi dalam menghadapi kehidupan modern.

Ajaran agama Islam memberikan kerangka moralitas yang sangat padat, dan itu sifatnya sangat personal (pertanggungjawaban perbuatan) dalam aplikasinya bersifat sosial implikasinya. Karena masalah moral sangat tergantung bagaimana individu mencermati dan meresapi apa yang seharusnya dilaksanakan dan apa yang seharusnya dihindari atau dicegah agar tidak terjadi penyimpangan moral yang akumulatif. Dalam konteks kenegaraan seorang pemimpin seharusnya ikut merasakan bagaimana penderitaan yang dialami oleh masyarakat bawah di tengah kehidupan dan persaingan yang sulit, terutama dalam suasana krisis keuangan, namun para pemimpin tega berfoya-foya bahkan meningkatkan fasilitas jabatan dan pendapatannya secara berlebihan, sementara sebagian rakyatnya begitu sulit untuk mencapai kehidupan layak.

Agama mempunyai pengaruh persuasif dalam mengembangkan ketaatan beragama. Mempengaruhi para pengambil keputusan strategis dalam masyarakat. Pemberantasan tindak pidana korupsi dibutuhkan stamina yang cukup. Sebab kekuatan korup akan menggunakan segala daya upayanya untuk melawan, berusaha mencari jalan-celah untuk menutupi perilaku yang menyimpang dalam pada perintah agama sekaligus ketaatan terhadap segala peraturan perundangan sebagai bagian dari ibadah sosial.

Demikian juga masyarakat multikultural bukan suatu hambatan dalam mengembangkan masyarakat Indonesia yang lebih beradab berkemajuan dan berkelanjutan.

 

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag adalah Peminat Kajian Keislaman dan Keindonesiaan, Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta.

 

Pahatan Pertama di Hari Pertama Anak Sekolah

Pahatan Pertama Pada Anak di Hari Pertama Sekolah

Oleh Muhammad Julijanto
Alhamdulillah pagi yang indah, pagi yang sejuk, sesejuk anakku yang baru kelas 3 Sekolah Dasar, sejak usia Sekolah Dasar intensitas saya mengantar anak ke sekolah semakin sering, karena saya hanya bisa berinteraksi dengan anak ketika hendak ke sekolah sekaligus dalam perjalanan menuju tempat kerja.

Saya selalu memulai berangkat sekolah keluar rumah dengan doa. Doa saya lafalkan bersama anakku, agar anak mempunyai kebiasaan yang baik dalam memulai apapun pekerjaan,  kadang anak lupa  berdoa, maka saya ingatkan dan berdoa bersama, saya juga kadang berangkat bersama keponakanku yang sudah kelas 3 SMA. saya pimpin doa bersama ketika hendak berangkat ke sekolah baik di depan rumah maupun berada di kendaaran.

Saat ada di kendaraan inilah saya menyampaikan pesan-pesan khusus untuk pelajaran yang akan dijalani hari ini, memberikan motivasi, menularkan semangat, dan pesan-pesan untuk semangat belajar, bagaimana cara mengatasi kesulitan-kesulitan dalam menerima pelajaran serta tidak lupa mengucapkan yel-yel..aku anak sholeh, aku anak hebat, aku anak pintar, aku anak cerdas, aku anak sukses, aku anak jujur, aku hebat…yes-yes..pasti aku sukses..bismillaah amiin…bersalaman dan beri semangat anak.

Pulang sekolah anak selalu saya tanyakan dan minta dia bercerita tentang apa yang telah terjadi di sekolah baik bermanin, pelajaran maupun pengalaman seharian di sekolah, saya juga berbalik bercerita tentang apa yang saya lakukan di kantor atau tempat kerja seharian, sehingga anak bisa sharing pengalaman belajar dari sekolah maupun dari tempat kerja ayah dan mamanya.

Saya antar anak sampai di kelas dan memastikan tempat duduk yang nyaman, tempat duduk yang aksesable terhadap guru maupun teman-temannya. Sebab posisi duduk juga mempengaruhi prestasi. Karena tempat duduk yang jauh dari guru menyebabkan anak kurang konsentrasi terhadap apa yang disampaikan guru, dan mudah anak untuk berinetarksi secara langsung atau kontak lend. Maka saya memberikan opsi kepada anak untuk memilih tempat duduk di barisan pertama atau di barisan kedua. Agar bisa konsentrasi dalam menerima pelajaran, dapat dengan jelas mendengarkan apa yang disampaikan guru.

Ketika anak masuk Pendidikan Anak Usia Dini pertama masuk sekolah bahkan istri ambil cuti kerja untuk selama lima hari mendampingi, memastikan anak nyaman dan aman bersama teman-temannya satu kelas. Istri memastikan anak bisa berinetraksi dan bermian bersama teman-teman sebaya. Memberikan waktu khusus dengan off dari pekerjaan untuk mendampingi anak supaya nyaman dalam kelas.

Memang kadang muncul pertanyaan-pertanyaan kritis anak yang kalau kita jelaskan sulit anak memahami karena berada pada level pengetahuan yang lebih tinggi, tetapi  kita jelaskan dengan bahasa yang sederhana, sebab pertanyaan anak sangat luar biasa ketika jawaban salah akan menjadi memori negatif dalam file otaknya, maka jelaskan dengan bahasa yang sederhana sesuai dengan kondisi akalnya…semangat terus nak kalian pasti sukses dengan ketekunanmu…

Sekolah bagi anak adalah media transformasi pengetahuan dan nilai-nilai, wahana sosialisasi, sekaligus tempat aktualisasi diri lebih baik. Perhatian orang tua kepada anak merupakan bentuk penghargaan pada malaikat kita. Mengantar anak tidak hanya sekedar seperti petugas antar jemput sekolah, begitu saja melepas anak-anak berhamburan menuju pintu gerbang sekolah tanpa pesan-pesan, maupun kata-kata manis apalagi sapaan. Coba begitu anak bersalaman beri kata-kata megis kepada anak..itu sangat berpengaruh pada psikologis anak untuk siap dalam belajar dan mampu mengimplementasikannya di kelas maupun di luar kelas.

Belajar bagi anak adalah laksana memahatkan pengetahuan dan nilai pada anak. Mengantar anak akan memberikan rasa percaya diri anak semakin tumbuh dan berkembang. Anak akan merasa nyaman dan mendapatkan perhatian dari orang tuanya, sehingga memungkinkan bisa tumbuh lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Saya juga bertemu dengan Ibu Kepala Sekolah, sayang ketika datang ke sekolah kepala sekolah tidak sempat menyapa kami beserta anak, karena sedang menemui wali murid yang lain. Namun sebelumnya kami sudah pernah berinteraksi dengan ibu kepala sekolah. Kami juga berinteraksi dengan guru kelas yang akan membimping putra kami, menyampaikan berbagai kondisi anak, dan perkembangannya. Komunikasi orang tua dan pihak sekolah sangat membantu pematauan tumbuh kembang anak.

 

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag.

Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta, Sekretaris Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Islam (LKBHI) IAIN Surakarta.

Alamat: Perum Griya Cipta Laras Blok C3 No. 1 RT 03 RW 09 Bulusulur Wonogiri 57600.

Dinamika kehidupan Pertarungan Baik dan Jahat

Dinamika kehidupan Pertarungan Baik dan Jahat

Oleh Muhammad Julijanto

 

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ اْلكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهِ وَاحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَ الْمَخْلُوْقَاتِ, اَمَّابَعْدُ.

فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَيْثُ مَاكُنْتَ وَاتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلاَ يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلاَ ذِلَّةٌ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ -٢٦- 

Jamaah Jum’ah Rohimakumullah

Puji syukur  kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-NYA yang tak terhingga kepada kita sekalian semoga kenikmatan tersebut dapat kita daya upayakan semaksimal mungkin untuk mencapai kemanfaatan di dunia ini dan keselamatan.di akherat kelak.

Shalawat serta salam kita haturkan untuk Baginda Rasulullah Muhammad Saw atas segala suritauladan dan ajarannya, sehingga kita dapat menikmati keindahan dan keagungan serta ketenteraman hidup di dunia terutama upaya mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa, sebab iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal di dunia maupun di akherat nanti. Tentunya dengan amaliyah khasanah dan berpacu dengan menghidarkan segala bentuk maksiat kepada Allah Swt.

Jama’ah Jum’ah Tamu Undangan Allah

Alhamdulillah terasa indah dan damai hati kita setelah menunaikan kewajiban dengan baik. Rasa  optimisme dan antusias dalam melakukan apa saja yang bisa kita kerjakan. Terasa ikhlas dan berserah diri kepada Allah Swt dengan ikhtiar sekuat daya upaya yang kita miliki. Semua takdir yang telah ditentukan merupakan skenario yang Allah Swt berikan kepada manusia untuk menguji ketaatan keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ -٢-

yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa-kah di antara kalian yang paling baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,Al Mulk [67]: ayat 2.

Untuk yang diberikan nikmat apakah mampu konsisten untuk bersyukur atas anugrah dan kenikmatan dan kemudahan hidupnya…untuk kebaikan dirinya dan lingkungannya. Atau sebaliknya yang mendapatkan takdir pada saat ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dirinya berupa kekurangan, kesusahan dan kegelisahan hidup dan bahkan kegagalan dalam meraih apa yang menjadi cita-cita dan harapan hidupnya kandas saat ini…itu juga merupakan dinamika kehidupan apakah mampu sabar dan terus berjuang mewujudkan mimpi dan harapan hidupnya. Bila kesabaran habis dia akan jatuh kepada perbuatan yang jauh lebih pedih terasa dalam dirinya. Tetapi kalau realitas tersebut dia akui dan merupakan buah dari pelajaran yang bisa dipetik, maka ikhtiar dan usaha diperbaiki seraya meningkatkan mutu dan kualitas dirinya untuk menggapai apa yang menjadi citanya insya Allah pasti ada jalan yang terbaik akan dibukakan jalan…itulah seni kehidupan dalam naungan Allah Swt…hidup itu sama saja…terminal akhirnya akan kembali kepada Allah Swt.

Dalam hal ini kita simak firman Allah Swt dalam surat Yunus [10]: ayat 26-27 yang memberikan timbangan kepada kita tentang perbuatan baik dan perbuatan buruk. Semuanya akan mendapatkan balasan setimpal denan perbauatnnya.

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُواْ الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلاَ يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلاَ ذِلَّةٌ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ -٢٦-

Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan adalah yang terbaik dan tambahan. Dan wajah-wajah mereka tidak tertutupi debu hitam dan tidak pula kehinaan. Mereka itu adalah para penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Lil ladzīna ahsanul husnā (bagi orang-orang yang berbuat kebaikan adalah yang terbaik), yakni bagi orang-orang yang bertauhid adalah yang terbaik, yaitu surga.

Wa ziyādah (dan tambahan), yakni dapat melihat Wajah Allah Ta‘ala.

Wa lā yarhaqu wujūhahum qatarun (dan wajah-wajah mereka tidak tertutupi debu hitam), yakni tidak diliputi kegelapan dan kemurungan.

Wa lā dzillah (dan tidak pula kehinaan), yakni kemuraman.

Ulā-ika ash-hābul jannati (mereka itu adalah para penghuni surga), yakni ahli surga.

Hum fīhā khālidūn (mereka kekal di dalamnya).

وَالَّذِينَ كَسَبُواْ السَّيِّئَاتِ جَزَاء سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَّا لَهُم مِّنَ اللّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعاً مِّنَ اللَّيْلِ مُظْلِماً أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ -٢٧-

Dan orang-orang yang melakukan keburukan (mendapat) balasan keburukan yang setimpal, dan kehinaan menyelimuti mereka. Mereka tidak mempunyai dari Allah seorang pelindung pun, seolah-olah wajah-wajah mereka tertutupi oleh penggalan-penggalan malam yang kelam. Mereka itu adalah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Wal ladzīna kasabus sayyi-āti (dan orang-orang yang melakukan keburukan), yaitu kemusyrikan kepada Allah Ta‘ala.

Jazā-u sayyi-atim bi mitslihā ([mendapat] balasan keburukan yang setimpal), yakni hukuman atas perbuatan syiriknya kepada Allah Ta‘ala adalah neraka.

Wa tarhaquhum dzillah (dan kehinaan menyelimuti mereka), yakni kemurungan dan kemuraman meliputi mereka.

Mā lahum minallāhi (mereka tidak mempunyai dari Allah), yakni dari Azab Allah Ta‘ala.

Min ‘āshimin (seorang pelindung pun), yakni seorang pembela pun.

Ka-annamā (seolah-olah) karena kedukaan.

Ugh-syiyat (tertutupi), yakni terselimuti.

Wujūhuhum qitha‘am minal laili (wajah-wajah mereka oleh penggalan-penggalan malam), yakni hitamnya malam.

Muzhlimā, ulā-ika ash-hābun nāri (yang kelam. Mereka itu adalah para penghuni neraka), yakni ahli neraka.

Hum fīhā khālidūn (mereka kekal di dalamnya), yakni terus-menerus.

Inilah pelajar yang bisa kita petik dalam kehidupan dunia. Kadang apa yang kita lihat, kita saksikan dan kita rasakan begitu menyedihkan. Apa yang seharusnya tidak dijalankan, justru kejahatan dan kemasiatan terlindungi dengan rapi bahkan dengan berbagai macam regulasi dan aturan hukum, padahal sejatinya adalah penyimpangan dan kecurangan. Namun kelak di akherat tidak ada sedikitpun bukti kejahatan dan kedaliman, maupun kebaikan yang bisa disemunyikan, semuanya akan transpran dan data yang ditampilkan akan jauh autentik sebagaimana rekaman dan dokumentasi yang baik. Semuanya akan menjadi barang bukti terhadap amal perbuatan manusia.

Informasi ini dapat kita rekam dari firman Alla Swt dalam surat Yasin [36] ayat 65 semua organ tubuh manusia akan memberikan kesaksian tentang apa saja yang telah dilakukan dahulu ketika masih hidup dan masih kuat segalanya. Kekuasaan digunakan untuk apa?, kewenangan digunakan untuk apa?, jabatan digunakan untuk apa?, harta, ilmu dan anak keturunan bagaimana digunakan, anak dididik dan diasuh dengan akhlak terpuji. Tidak ada orang yang mampu membantah pembuktian model seperti ini. Inilah pengadilan dan perhitungan illahi.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ -٦٥-

Pada hari ini Kami Membungkam mulut-mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan-tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki-kaki mereka atas segala apa yang dahulu mereka lakukan.

Al-yauma (pada hari ini), yakni pada hari kiamat.

Nakhtimu ‘alā afwāhihim (Kami Membungkam mulut-mulut mereka), yakni Kami Jadikan lidah mereka tak bisa berkata setelah pengingkaran mereka.

Wa tukallimunā aidīhim (dan berkatalah kepada Kami tangan-tangan mereka) yang dahulu dipergunakan untuk menggengam.

Wa tasyhadu arjuluhum (dan memberi kesaksianlah kaki-kaki mereka) yang dahulu dipergunakan untuk berjalan, begitu pula seluruh anggota tubuh mereka memberikan kesaksian.

Bimā kānū yaksibūn (atas segala apa yang dahulu mereka lakukan), yakni terhadap segala keburukan yang dahulu mereka perbuat.

Kesimpulan

Pemaparan di atas dapat kita simpulkan, bahwa keimanan dan keyakinan kita kepada AllahSwt semakin bulat. Yakin bahwa apa saja yang telah kita investasikan berupa kebaikan akan kembali kepada kita. Demikian juga segala kejahatan dan perbuatan buruk kita yang telah lalu, juga akan kita petik kelak di akherat. Kesempatan ini untuk memperbaiki diri, bertaubat kepada Allah Swt dan memperbagus segala amal dan memaksimal potensi dan aset yang kita miliki untuk meraih kemuliaan hidup di dunia maupun kelak di akherat. Semoa kita termasuk orang yang beruntung dan mendapat kemuliaan di sisi Allah Swt sebagai hambanya yang muttaqien.

Itulah ajaran Islam menyemangati kehidupan ini, akhirnya marilah kita mohon kepada Allah karunia yang terbaik dalam rangka memberikan pengabdian yang seoptimal mungkin.

اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ.

اِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَابِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُ مَابِاَنْفُسِهِمْ

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَ الذِكْرِ اْلحِكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْ كُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ     

 


 

Khutbah Kedua

 

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَائِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لِيُخْرِجَنَا مِنَ الضُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ وَيَجْعَلَنَا مِنْ خَيْرٍ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهِ وَاحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَ الْمَخْلُوْقَاتِ. اَمَّابَعْدُ.

فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَيْثُ مَاكُنْتَ وَاتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّا بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَضِيْمِ: اِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا اَيُّهَا الْذِيْنَ اَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمُ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاجْعَلْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِ نِعَامَهُ وَيُكَافِ مَزِيْدَ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَايَنْبَغِ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَضِيْمُ السُّلْطَانِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبُ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكَ الْكَفَارَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا جَمْعًا مَغْفُوْرًا وَتَفَرُقَنَا بَعْدَ هَذَا تَفَرُقًا مَرْحُومًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمِنَا هَذَا أَوَّلُهُ صَلاَحًا وَأَوْسَطُهُ فَلاَحًا وَاَخِرُهُ نَجَاحًا بَاهِرًا بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَخَسُّوعَنَا وَجَمِيْعِ عِبَاذَتَنَا وَتَمِّمُ تَكْثِيْرَنَا يَاالله. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةَ حَسَنَةً وَقِنَا عَدَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَائِيْتَائِىذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَااذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهْ عَلَى نِعَمَهُ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهُ أَكْبَرُ.

 

Muhammad Julijanto, S Ag., M. Ag adalah dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta, Sekretaris LKBHI IAIN Surakarta

 

SETIAP ORANG MEMETIK BUAH AMALNYA

SETIAP ORANG MEMETIK BUAH AMALNYA

Oleh Muhammad Julijanto

الْحَمْدُ ِللهِ اَّلذِّى اَمَرَنَا بِمُرَاعَاتِ اْلاَمْوَالِ وَ اْلعِقَارِ اْلمَمْلُوْكَاتِ وَ اْلاَوْلاَدِ اْلبَنِيْنَ وَاْلبَنَاتِ وَاَنْ نُرَبِيَهُمْ بِاْلاَخْلاَقِ وَاْلحَسَنَاتِ. وَنُبْعِدَهُمْ عَنِ اْلمَعَاصِى وَاْلمُنْكَرَاتِ. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ اْلاَرْضِ وَ السَّمَاوَاتِ. أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ اْلخَلْقِ وَاْلمَخْلُوْقَاتِ. أَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَمْجَادِ. أَمَّابَعْدُ. فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْمُبِيْنَ. فَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. وَاتَّقُوْنِى يَأُولِى اْلأَلْبَابِ.

Marilah kita senantiasa panjatkan puji syukur atas segala anugerah yang terlimpahkan kepada kita sekalian, sehingga sampai detik ini kita masih diberikan anugerah yang berupa kesehatan dan kesempatan serta nikmat-nikmat yang lain yang tidak bisa kita sebutkan satu persatu, sekalipun mesin hitung yang kita miliki canggih, bahkan kita merasa nikmat yang kita sendiri tidak membutuhkan Allah pun memberikan kepada kita sekalian. Maka rahman yang diberikan kepada seluruh makhluk. Salah satu nikmat yang dapat kita buktikan adalah nikmat kesehatan dan kesempatan serta nikmat Islam dan iman kepada Allah swt. Oleh karena itu nikmat yang kita rasakan kita daya upayakan kita mengabdi dan beribadah kepada Allah sepenuh hati.

Shalawat serta salam senantiakan kita sanjungkan kepada Rasulullah Muhammad Saw. sampai saat ini insyallah istiqomah mengikuti sunnah-sunnahnya, yang merupakan jaminan dan perlindunagan baik kita sekalian. Istiqomah diperhahankan hingga titik pengahabisan kehidupan ini.

Melalui mimbar ini khatib mengajak diri sendiri dan hadirin rakhimakumullah marilah kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah Swt sebagai modal dalam kehidupan dan bekal menghadap-Nya di hari pembalasan.

Semoga kita bisa mengoptimalkan segala potensi dan kenikmatan yang kita peroleh untuk mengisi sisa kehidupan ini dengan amal sholeh, menjaga hati selalu dalam hidayah dan inayah Allah, senjaga semua anggota badan untuk selalu dalam jalan yang benar, menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan, menjaga diri dari segala perbuatan yang akan merugikan diri sendiri maupun merugikan orang lain. Berupaya selalu memberi manfaat bagi yang lain.

Allah Swt berfirman dalam surat Az Zumar [39]: 41

إِنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ فَمَنِ اهْتَدَى فَلِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِوَكِيلٍ -٤١-

Sungguh, Kami Menurunkan kepadamu Kitab (al-Quran) dengan membawa kebenaran untuk manusia; barang siapa mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa sesat maka sesungguhnya kesesatan itu untuk dirinya sendiri, dan engkau bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

Orang-orang yang berbuat dhalim tidak dapat menghindari siksaan Hari Kiamat, sebab syafaat itu adalah semata-mata menjadi hak Allah Swt.

Dalam surat Az Zumar [39]: 42 Allah Swt menegaskan

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ -٤٢-

Allah Memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia Tahan nyawa (orang) yang telah Dia Tetapkan kematiannya dan Dia Lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan.** Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.

**Orang-orang yang mati itu rohnya Ditahan Allah sehingga tidak dapat kembali kepada tubuhnya; dan orang-orang yang tidak mati hanya tidur saja rohnya dilepaskan sehingga dapat kembali kepadanya lagi.

setiap orang memanggung amalnya sendiri, termasuk amal jelek atau perbuatan dosa akan menerima akibat dari perbuatan dosa dirinya, sebagaimana Allah Swt berfirman

Al Baqarah [2]: 81

بَلَى مَن كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيـئَتُهُ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ -٨١-

Bukan demikian! Barangsiapa berbuat keburukan, dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.

Ali Imran [3]: 135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ وَلَمْ يُصِرُّواْ عَلَى مَا فَعَلُواْ وَهُمْ يَعْلَمُونَ -١٣٥-

dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri,” ** (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.

—————————————————————–

*Yang dimaksud perbuatan keji (fāhisyah) ialah dosa besar yang akibatnya tidak  hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menzalimi diri sendiri ialah melakukan dosa yang akibatnya hanya menimpa diri sendiri baik besar atau kecil.

Allah berfirman dalam Surat Al A’raf [7]: 8

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, mereka itulah orang yang beruntung,

Dalamayat berikutnya Al A’raf [7]: 9 ditandaskan bagi orang-orang yang berat timbangan alam kejelekannya mereka adalah orang yang merugi kehidupan akheratnya.

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَـئِكَ الَّذِينَ خَسِرُواْ أَنفُسَهُم بِمَا كَانُواْ بِآيَاتِنَا يِظْلِمُونَ

dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.

Selain itu juga kita dituntut untuk memahami gejala alam yang ada di sekitar kita sebagai bahan renungan dan refleksi untuk melakukan aksi, terutama dengan munculnya aneka peristiwa alam dan masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat kita, hendaknya kita semakin mendekat dan memohon kepada Allah Swt agar seluruh masyarakat kita mampu mengatasi segala masalah, tetap tabah dalam menghadapi segala tantangan, serta kokoh keimanan dan ketakwaannya. Akhirnya marilah kita berdoa dan mohon kepada Allah Swt jalan yang lurus jalan yang diridhoi.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَ الذِكْرِ اْلحِكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْ كُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah Kedua

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَائِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لِيُخْرِجَنَا مِنَ الضُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ وَيَجْعَلَنَا مِنْ خَيْرٍ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهِ وَاحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَ الْمَخْلُوْقَاتِ. اَمَّابَعْدُ.

فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَيْثُ مَاكُنْتَ وَاتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّا بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَضِيْمِ: اِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا اَيُّهَا الْذِيْنَ اَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمُ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاجْعَلْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِ نِعَامَهُ وَيُكَافِ مَزِيْدَ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَايَنْبَغِ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَضِيْمُ السُّلْطَانِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبُ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكَ الْكَفَارَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا جَمْعًا مَغْفُوْرًا وَتَفَرُقَنَا بَعْدَ هَذَا تَفَرُقًا مَرْحُومًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمِنَا هَذَا أَوَّلُهُ صَلاَحًا وَأَوْسَطُهُ فَلاَحًا وَاَخِرُهُ نَجَاحًا بَاهِرًا بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَخَسُّوعَنَا وَجَمِيْعِ عِبَاذَتَنَا وَتَمِّمُ تَكْثِيْرَنَا يَاالله. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةَ حَسَنَةً وَقِنَا عَدَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَائِيْتَائِىذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَااذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمِ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوهْ عَلَى نِعَمَهُ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهُ أَكْبَرُ.

Penulis adalah Dosen  Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Disampaikan pada Khutbah Jum’ah di Masjid Agung At TaqwaWonogiri, Jum’at, 25 Oktober 2013

ADVOKASI DAN DAKWAH DALAM BIDANG PELAYANAN HUKUM

ADVOKASI DAN DAKWAH DALAM BIDANG PELAYANAN HUKUM
Oleh Muhammad Julijanto

Dakwah dalam bidang hukum merupakan masalah yang urgen saat ini. Sebab masalah hukum sejak reformasi seperti cendawan di musim hujan. Muhammadiyah melihat bahwa jihad melalui konstitusi menjadi kebutuhan nasional yang mendesak di tenga sistem hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah, karena dampak yang lebih nyata pemberdayaan di tengah masyarakat luas. Padahal pertumbuhan dan perkembangan bidang hukum terus meningkat seiring dengan tingkat kemajuan dan perkembangan masyarakat, termasuk himpitan masalah ekonomi yang semakin memberatkan masyarakat mengakibatkan meningkatnya masalah hukum di tengah masyarakat

Sejak reformasi dibuka akses masyarakat dalam hukum semakin meningkat kasus-kasus hukum dari yang berat hingga yang ringan silih berganti bak jamur bertumbuhan di musim hujan. Seakan tidak ada berita yang menarik kecuali masalah hukum yang diberitakan, entah pelanggaran maupun masalah tindak pidana yang terjadi.

Selama ini ada kesan bahwa yang namanya dakwah adalah dalam bidang tabligh. Padahal lapangan dakwah adalah seluas kehidupan manusia. Dakwah di Muhammadiyah tidak hanya dalam pengertian sekedar menyampaikan materi seperti tabligh dengan ceramah maupun bentuk pemaparan materi ceramah. Tetapi dalam berbagai ragam bentuk dari yang ringan hingga dalam konsep kehidupan sosial masyarakat yang lebih luas. Dakwah adalah memperbaiki yang kurang baik menjadi sempurna kebaikannya dan memberikan dampak sosial yang lebih luas baik dalam aspek spiritual maupun keadilan sosial.
Filosofi alma’un memberikan inspirasi untuk melakukan dakwah dalam berbagai aneka kehidupan sosial yang lebih luas sepektrumnya sehingga masyarakat yang tersentuh dakwah merupakan obyek akan menjadi sasaran perbaikan umat. Dakwah juga mengajak masyarakat mencapai derajat spiritual dan sosial yang lebih baik. Dakwah dalam bidang kesehatan maka dengan mendirikan rumah sakit sebagai media dakwah yang baik dengan menyehatkan masyarakat dan memberikan sentuhan nilai-nilai rohaniah masyarakat. Dakwah dalam bidang pendidikan mendirikan sekolah memberikan mutu kualitas pendidikan yang mencerahkan dan mensejahterakan masyarakat, sehingga dengan pengetahuan dan ilmunya peserta didik bisa menjadi manusia mandiri yang memberikan manfaat bagi dirinya dan lingkungannya.

Sedangkan dalam bidang hukum bila melihat data yang masuk ke Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah akan tergambar bahwa medan dakwah dalam bidang hukum menjadi signifikan untuk dilakukan pemberdayaan dan pengembangannya sehingga pelayanan hukum bagi masyarakat melalui dakwah dalam bidang hukum bisa berjalan dengan baik. Rata-rata kasus yang masuk 150 kasus setiap tahunnya masyarakat berhadapan hukum, baik yang non litigasi maupun litigasi sampai pada proses hukum di peradilan dan rata-rata adalah masyarakat menengah ke bawah yang sangat membutuhkan bantuan hukum dari Majelis Hukum dan HAM PWA Jawa Tengah. Kasus kekerasan berbasis gender dan anak dari tahun ke tahun mengalami peningkatan setidaknya dapat dilihat dari dari data PTPAS (Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak Kota Surakarta) ada 160 kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (KtPA) pada tahun 2006, terdiri dari 125 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 35 kasus kekerasan anak, dalam bentuk kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran.

Berbeda dengan dakwah bil lisan atau tabligh dalam penyelesaian masalah hukum pendekatan dengan berbagai metode dilakukan termasuk strategi penanganan kasus, agar korban maupun pelaku, tersangka maupun korban, penggugat maupun tergugat bisa menyadari bahwa peran ajaran agama sangat penting untuk dipegangi sebagai panduan kehidupan yang lebih baik.

Advokasi Hukum
Beberapa pendekatan dan kegiatan yang dilakukan dalam rangka pelayanan dalam bidang hukum merupakan berbagai kegiatan yang diamanahkan sebagaimana tercantum dalam TANFIDZ Muhammadiyah. Pelaksanaan kegiatan yang dilakukan meski terbatas namun telah menghabiskan perhatian dan curahan pemikiran, mengingat kegiatan advokasi merupakan kegiatan pendampingan yang harus terus menerus berkesinambungan baik melului tahapan investigasi, pendampingan baik litigasi maupun non litigasi serta pemberian kecakapan hidup (life skill). Pemberian keterampilan (life skill) tersebut diharapkan akan mampu memberikan kontribusi kepada diri masing-masing peserta dan dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan keluarga pada umumnya. Juga diharapkan dapat menyalurkan ilmu tersebut di lingkungan masyarakat.

Advokasi adalah pendampingan atau pembelaan hak untuk memperjuangkan berbagai kepentingan yang bertujuan mencapai keadilan sosial dan hukum, termasuk proses untuk mempengaruhi dan mengubah satu kebijakan publik agar lebih berpihak kepada masyarakat.

Selain dalam bentuk kegiatan pendampingan hukum bentuk pelayanan yang penting dilakukan dalam bidang hubungan organisasi, berbagai mitra kerja telah dicoba laksanakan seperti menjaga hubungan dengan Badan Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana Propinsi Jawa Tengah, Perlindungan perempuan dan Anak (PTPAS) Kota Surakarta dari tahun 2003 sampai dengan sekarang, Disamping itu terlibat masuk menjadi Tim Perumus Raperda Perlindungan perempuan dan anak kota Surakarta, menjalin komunikasi dengan Radio Republik Indonesia Surakarta untuk memberikan pemahman kepada masyarakat penyelesaian masalah hukum khususnya perlindungan perempuan dan anak yang berhadapan dengan hukum dan MQ FM dengan sering dimintai tanggapan dan mengisi siaran ON Air maupun Off Air melalui media radio dan lain-lain.

Di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah upaya perjuangan hukum juga dilakukan seperti gugatan ke Mahkamah Konstitusi tentang UU Migas yang mempunyai dampak luar bisa menjadi sasaran dakwah dalam bidang hukum. Belakangan juga PP mengajukan gugatan ke MK tentang tata kelola air dan berbagai masalah yang biasa dalam kehidupan sosial kemasyarakat yang mempunyai masalah hukum.

Oleh karena itu kerja keras masih harus senantiasa diupayakan agar profesionalisme dalam memberikan layanan sekaligus advokasi kebijakan dapat terlaksana, sekalipun dengan minimnya anggaran upaya melakukan berbagai kegiatan dan layanan hukum terus diupayakan dan bukan menjadi hambatan dakwah yang signifikan yang pada prinsipnya penegakan hukum dan kehidupan sosial bisa berjalan dengan baik dan rasa keadilan masyarakat bisa tercapai, sehingga visi, misi dan gerakan amal usaha Muhammadiyah bisa berjalan mewujudkan masyarakat adil sejahtera dan bagahagia dunia dan akherat bisa terwujud.

Perlu kita renungkan apa yang pernah ditulis Moeslim Abddurrahman (2003: 10) seorang muslim tidak mungkin sampai ke taraf keimanan yang sejati sebelum ia mengalami pergulatan dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungan sosial sekitarnya. Dalam proses seperti itu kemampuan untuk membebaskan strukturnya sangat diperlukan, agar ia dapat berprilaku sesuai dengan dasar-dasar moralitas agama yang otentik, bukan sebaliknya berperilaku dengan hanya menuruti peranan sosiologisnya atau status yang disandangnya dalam masyarakat. Semoga sistem hukum kita semakin baik dan implementasinya memenuhi rasa keadilan. Wallahu a’lam bishawab.

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag adalah Tim Advokasi Majelis Hukum dan HAM PWA Jateng, Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta.

ISLAM BIROKRASI DAN KORUPSI

ISLAM BIROKRASI DAN KORUPSI

Oleh Muhammad Julijanto

Sudah menjadi watak kekuasaan apapun bentuknya yang cenderung korup, otoriter, dan represif. Sehingga apapun bentuk kekuasaan yang dapat diraih oleh seseorang, maka pengawasan, kontrol, kritik, evaluasi hendaknya selalu dilakukan. Agar di masa yang akan datang tidak terjadi penyimpangan. Kekuasaan yang mencerminkan adanya akses ekonomi, akses politik, akses sosial diawal kekuasaan menjalankan fungsinya dengan baik, tetapi seiring dengan tingkat melemahnya pengawasan dan kontrol bisa menjadi negatif.

Untuk mencapai idealisme kebaikan, kebenaran dan keadilan, dibutuhkan stamina yang terus terasah dan konsisten dari aparatur birokrasi dalam menjalankan fungsi dan kewenangannya. Tanpa idealisme tersebut bisa tergoyahkan dengan pramatisme untuk mendapatkan sesuatu dalam waktu yang singkat, tetapi mengorbankan nilai-nilai moral dan keadilan.

Agama dipahami hanya sebagai identitas yang membuat diferensiasi sosial antara penganut agama yang satu dengan yang lainnya. Tidak jarang pula bahwa agama hanya ditampakkan wajah seramnya melalui aksi terorisme, radikalisme dan fanatisme buta. Padahal, agama yang diajarkan oleh para nabi dan para pencerah budi adalah kesantunan, pencerahan moral-spiritual dan wujud kasih sayang terhadap umat manusia dan dunia (Supriyadi,solopos.com, 15/2/2013).

Agama mempunyai banyak fungsi yang semuanya bermuara pada kembalinya kepada tatanan kehidupan yang lebih harmoni secara sosial, budaya, dan harmoni kesimbangan, tidak adanya diskriminasi, tidak adanya pengabaian dan penelantaran, tidak adanya penyimpangan, dan angkara murka. Agama menjadikan kehidupan lebih damai sebagaimana misi agama untuk menciptakan kehidupan yang lebih berkualitas secara jasmaniah dan rohaniah.

Islam adalah agama yang mengajak kepada keadilan, melawan penindasan, menolak ekspolitasi dan manipulasi serta membebaskan manusia dari praktek-praktek ekonomi dan politik yang tidak bermoral. Substansi ditegakkannya nilai dan praktek demokrasi adalah dalam upaya mewujudkan kesejahteraan atau kemaslahatan umum. Dalam hal ini secara nyata tercermin dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad Saw dan Al Khulafa ar Rasyidin pada masa awal Islam (Masdar, 1999: 16).

Birokrasi

Kultur masyarakat Indonesia yang pragmatis, perlu pendidikan politik supaya publik bisa melihat lebih jernih fenomena korupsi. Sebagai kejahatan yang berdampak sistemik korupsi menjadi pekerjaan sepanjang kekuasaan diraih seseorang. Kanpanye antis korupsi menjadi jargon setiap kontestan pemilu atau kompetsi merebut jabatan publik, tetapi begitu kekuasaan atau jabatan tersandang meredup seiring dengan gula-gula yang telah dirasakan. Inilah yang menjadi sumber peluang terjadinya penyimpangan dari setiap kekuasaan yang mampu diraih oleh seseorang.

Sehingga membangun sistem yang mampu mencegah dan menindak adanya penyimpangan sistem pengelolaan keuangan segera bisa ditutup dan membuahkan kesejahteraan secara merata. Bukan hanya kalangan elit yang mampu meraih kekuasaan, tetapi buah kesejahteraan dapat dirasakan secara menyeluruh di semua lapisan.

Menurut Robert Klipgaard bahwa korupsi terjadi jika seseorang sudah memonopoli kekuasaan, punya kemerdekaan untuk bertindak, namun tidak disertai oleh pertanggungjawaban sebagaimana mestinya (Gunarto, suaramerdeka.com, 6/2/2013). Penegasan Klipgaard ini seakan memberi sinyal bahwa korupsi bisa terjadi pada orang atau partai apa saja, termasuk partai atau personal yang selama ini menegaskan diri bersih dan jujur sekalipun. Karena godaan korupsi ada pada peluang yang terbuka, sistem yang tidak terlalu bagus, tidak adanya pengawasan dan kontrol yang baik, mentalitas dan karakter yang lemah dalam moralitas.

Sebagaimana dinyatakan wapres M Jusuf Kalla bahwa akar terjadinya korupsi adalah kesempatan dan kemauan. Untuk membasmi itu, ada dua hal yang dilakukan yakni sistim dan transparasi (Republika.co.id, 10/12/2014). Ismail Yusanto dengan sangat apik menjelaskan Islam sangat menyadari pentingnya birokrasi yang handal dan terpercaya untuk menegakkan pemerintahan yang bersih (clean goverment) dengan menempuh beberapa cara (Yusanto, 1998: 139-150) yaitu: sistem penggajian yang layak, larangan menerima suap dan hadiah, penghitungan kekayaan untuk menjaga dari berbuat curang, Para pemimpin hedaknya memberikan keteladanan, termasuk dalam soal harta, memberikan hukuman yang setimpal kepada pelaku kejahatan sesuai dengan hukum yang berlaku, partisipasi masyarakat dalam bidang pengawasan,

Revolusi mental

Dalam Islam, pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul.Abu Bakar berkata, “Aku diberitahu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa (aparat) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah dijelaskan sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri” (prezi.com, 7/4/2014).

visi dan misi Nabi dalam membangun negara Madinah adalah memberantas segala macam korupsi, eksploitasi, dan marginalisasi kaum miskin. Ketegasan Nabi dalam melawan korupsi patut diapresiasi. Nabi bersabda,’’ Sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kamu adalah jika ada orang terhormat mencuri, ia dibiarkan. Namun jika orang lemah yang mencuri maka ia segera dihukum. Demi Allah, seandainya Fatimah, anak Muhammad mencuri, pasti aku potong tangannya.’’ (HR Bukhari-Muslim) (Jamal Ma’mur, suaramerdeka.com , 14/11/2012).

Revolusi mental menjadi kebutuhan strategis untuk mengerem laju korupsi, sekalipun revolusi mental bersifat personal. Gagasan ini bisa ditransformasikan melalui nilai-nilai pendidikan sejak dinia, penanaman nilai melalui teladan publik figur, keteladanan level kepemimpinan strategis di semua jenjang karier, baik di kalangan swasta maupun pemerintah.

Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa ingin disenangi Allah dan rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu tetangganya (HR. Al-Baihaqi).

Hadis ini sangat bervisi jauh kedepan tentang revolusi mental yang harus dilakukan oleh setiap orang. Dimana orang yang selalu membuat laporan baik yang berupa perkataan maupun tulisan dengan jujur. Artinya tidak ada manipulasi, tidak ada kehobongan, tidak ada kemunafikan menjadi kebutuhan untuk membangun masyarakat yang berkualitas. Sebagai pemegang wewenangan atau empunya otoritas dalam menentukan kebijakan strategis termasuk dalam bidang keuangan, kebutuhan personal yang mempunyai karakter dapat dipercaya, menetapati janji baik yang diucapkan maupun yang ditulis, memberikan hak orang lain kepada si empunya hak, sehingga tidak ada kedhaliman atau pengingkaran akan hak orang lain yang harus segera ditunaikan.

Mentalitas yang suka kepada hamoni sosial, ketenteraman dan kebersamaan terutama kepada saudara yang terdekat, yaitu tetangga. Sebab sistem ketetanggaan yang baik sangat dibutuhkan ditengah arus individualisme dan materialisme.

Agama sebagai sumber nilai dalam menjalankan fungsi administrasi pemeluk agama, sehingga bisa meminimalisir terjadi korupsi sebagai benalu demokrasi. Islam sebagai agama yang kaya akan nilai-nilai memberikan pedoman dalam perwujudan sistem pemerintahan yang baik, agar kesejahteraan dan keadilan terwujud dengan baik.

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag adalah Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Wonogiri, Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta. Sekretaris LBH Perisai Kebenaran Wonogiri, Sekreatris LKBHI IAIN Surakarta

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA DAN HARAPAN BANGSA

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA DAN HARAPAN BANGSA
Oleh Muhammad Julijanto

“Masa remaja merupakan periode produktif, momen paling baik untuk mengetahui dan mengembangkan potensi” (Sri Warsinah, suaramerdeka.com, 12/3/2012)

Pendahuluan
Sesungguhnya masa anak-anak atau remaja merupakan fase yang paling subur, paling panjang, dan paling dominan bagi seorang pendidik untuk menanamkan norma-norma yang mapan dan arahan yang bersih ke dalam jiwa dan sepak terjang anak-anak didiknya.
Berbagai kesempatan terbuka lebar untuk sang pendidik dan semua potensi tersedia secara berlimpah dalam fase ini dengan adanya fitrah yang bersih, masa kanak-kanak yang masih lugu, kepolosan yang bergitu jernih, kelembutan dan kelenturan jasmaninya, kalbu yang masih berlum tercemari, dan jiwa yang masih belum terkontaminasi (Jamal ‘Abdiir Rahman, 2005: 15).
Mendidik dan memberikan tuntunan merupakan sebaik-baik hadiah dan perhiasan paling indah yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya dengan nilai yang jauh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.
Keberhasilan pemuda dan masa depannya sangat tergantung bagaimana generasi muda memanfaatkan waktu untuk menampa diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup dengan keterampilan dalam berbagai aspek. Karena pemuda akan hidup sesuai dengan kemajuan zamannya di masa yang akan datang.
Disamping itu tantangan dan hambatan yang dihadapi generasi muda bukan persoalan sepele, namun mempunyai dampak puluhan tahun yang akan datang. Kegagalan dan ketidakmampuan mengelola potensinya, akan menyebabkan masa depannya terganggu. Bahkan bisa membawa dampak negatif yang lebih jauh.
Melalui tulisan in akan membahas napaktilas gerakan sumpah pemuda dan bagaimana peran pemuda dalam pembanguan bangsa yang aka datang?
Refleksi Sumpah Pemuda
Sebelum Indonesia merdeka, negara kita memiliki berbagai organisasi kepemudaan yang beranggotakan para pemuda-pemudi Indonesia baik yang bersifat nasional maupun kedaerahan. Berikut ini adalah daftar beberapa organisasi perkumpulan pemuda di Indonesia :
1. Budi Utomo / Boedi Oetomo. Budu Utomo berdiri pada tahun 1908 yang pada awal mula berdirinya merupakan organisasi pelajar yang ruang lingkupnya masih kedaerahan, namun pada perkembangannya berubah menjadi organisasi perkumpulan pemuda nasional.
2. Trikoro Dharmo / Tri Koro Dharmo. Trikoro Dharmo adalah sebuah perkumpulan pemuda yang berasal dari Jawa pada tahun 1915 di gedung kebangkitan nasional. Organisasi ini kemudian mengubah nama menjadi Jong Jawa pada kongres di Solo. Arti definisi / pengertian dari tri koro dharmo adalah Tiga Tujuan Mulia.
3. Jong Sumatra Bond (Persatuan Pemuda Sumatra). Organisasi oni berdiri pada tahun 1917 yang memiliki tujuan untuk mempererat hubungan antar pelajar yang berasal dari sumatera. Beberapa toko terkenal dari organisasi ini yaitu seperti M. Hatta dsan M. Yamin.
4. Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia. Organisasi yang satu ini berdiri pada tahun 1925 yang diprakarsa oleh mahasiswa Jakarta dan Bandung dengan tujuan untuk Kemerdekaan Indonesia.
5. Jong Indonesia. Perkumpulan pemuda dan pemudi ini didirikan pada tahun 1927 di Bandung di mana kemudian organisasi ini diubah menjadi Pemuda Indonesia untuk yang berjenis kelamin laki-laki dan Putri Indonesia bagi yang perempuan. Pemuda Indonesia membuat kongres di mana pada kongres yang kedua menghasilkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
6. Indonesia Muda. Indonesia Muda adalah organisasi nasional yang lahir karena dorongan Sumpah Pemuda pada tahun 1930 sebagai peleburan banyak organisasi pemuda daerah / lokal.
7. Organisasi Perkumpulan Daerah. Setelah muncul jong jawa dan jong sumatra bond, maka bermunculanlah organisasi lokal kedaerahan lain seperti jong celebes, jong ambon, jong minahasa, dan lain sebagainya.
Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia. Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wakil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.
Isi Dari Sumpah Pemuda Hasil Kongres Pemuda Kedua :
PERTAMA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).
KEDOEA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).
KETIGA : Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia).
Dalam peristiwa sumpah pemuda yang bersejarah tersebut diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia untuk yang pertama kali yang diciptakan oleh W.R. Soepratman. Lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali pada tahun 1928 pada media cetak surat kabar Sin Po dengan mencantumkan teks yang menegaskan bahwa lagu itu adalah lagu kebangsaan. Lagu itu sempat dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, namun para pemuda tetap terus menyanyikannya.
Problem remaja dan tantangan masa depan
Banyak orang tua mengatakan usia yang paling menghebohkan, merepotkan, dan menjengkelkan bagi anak mereka adalah usia remaja. Alasan itu dengan mendasarkan munculnya sikap pemberontakan, sulit diatur, egois, dan sebagainya. Masa remaja (adolescence) itu mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik (Hurlock, 1980:206).
Data BNN menunjukkan bahwa 49,5 ton sabu, 147 juta ekstasi, 242 ton ganja, dan hampir 2 ton heroin lepas dari jerat petugas sepanjang 2011 (Siti Marwiyah, suarakarya-online.com, 10/2/2013).
Indonesia dalam keadaan bahaya narkoba dilihat dari kualitas dan kuantitas kejahatan serta kerugian yang ditimbulkan. Kerugian ekonomi lebih dari Rp 50 triliun per tahun. jenis narkoba yang diperdagangkan kini meliputi heroin, kokain, dan sabu kualitas baik. Jumlah kejahatan meningkat dari 26.000 kasus pada 2010 menjadi 29.000 kasus pada 2011 (Kompas, 24/2/2012).
Tragedi neodehuhamnisme semakin sering terjadi dan liberal. Produsen atau distributor telah diberikan amosfir lebih menyenangkan (kondusif dan progresif) untuk menjalankan neodehumanisme sebagai pilihan logis dari ‘hukum dagang’ yang mesti menggunakan rumus untung dan rugi. Akibat pilihan mereka, negara atau masyarakat Indonesia kehilangan banyak generasi mudanya.
Berdasarkan kondisi tersebut, tidak salah jika kita memberi gelar Indonesia sebagai negeri darurat narkoba dan kiamat bagi generasi. Di samping jaringan produksi dan pengedaran yang kian berani, mereka juga sudah menghabisi (membantai) 15 ribu warga setiap tahunnya, yang sebagian besar berasal dari kalangan generasi muda (remaja sekolah), terutama dari kalangan anak orang kaya dan pejabat, yang nota bene komunitas elitis atau keluarga penghasil kandidat para pemimpin (pejabat).
Perilaku menyimpang remaja dalam bentuk perkelahian dan tindak kekerasan lainnya, bahkan juga tindak kriminal, seringkali berkaitan dengan penyelahgunaan narkotika, alkohol, dan obat-obatan terlarang lainnya (zat adiktif). Sebagaimana diketahui bahwa narkotika, alkohol dan zat adiktif menurunkan ambang untuk mengendalikan dorongan-dorongan (impuls) agresifitas baik fisik maupun seksual. Dari hasil penelitian terdapat penyalahgunaan narkotika, alkohol dan zat adiktif tercatat bahwa 65 % dari mereka terlibat perkelahian dan kekerasan lainnya, sedangkan pelanggaran lalu lintas atau kecelakaan mencapai 58,7 %(Dadang Hawari, 1996: 206).
Benteng Moral
Oleh karena itu perlu antisipasi agar generasi muda tidak terjerumus lebih dalam perilaku menyimpang di kalangan remaja, seperti penyalahgunaan obat-obatan/narkotika/minuman keras.
Menyikapi perkembangan teknologi, orang tua dan guru perlu melakukan pengawasan lebih intensif terhadap media komunikasi seperti televisi, internet, handphone, dan sebagainya. Dengan mendasarkan rumah sebagai basis, perlu memberikan bimbingan mengenai kepribadian di rumah.
Perlu peningkatan upaya-upaya penangangannya secara komprehensif, terpadu dan konsisten oleh semua pihak yang terkait.
Karakter Generasi Harapan
Pembangunan karakter bangsa merupakan kebutuhan dalam proses berbangsa karena hanya bangsa yang memiliki karakter dan jati dirilah yang bisa kuat dan eksis. Secara sosiokultural, pembangunan karakter bangsa merupakan suatu nilai yang memberikan corak orientasi peradaban. Secara konseptual, karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun Negara (Lilin Budiati, suaramerdeka.com, 16/3/2012).
Memahami pendidikan karakter sebenarnya berhubungan dengan aspek pendidikan budi pekerti yang dikemas dengan unsur pengetahuan, perasaan dan tindakan. Thomas Lickona seperti dikutip Suyanto (2008) mengatakan, pendidikan karakter tak akan efektif jika tiga unsur tersebut tak dikemas secara sistematis, kronologis, dan berkelanjutan. Dengan demikian pendidikan karakter akan menghasilkan intellectual quotient, emotional quotient, dan spiritual quotient.
Ali Ibrahim Akbar (2009), menyatakan praktek pendidikan di Indonesia cenderung lebih berorientasi pada pendidikan berbasis hard skill (keterampilan teknis) yang lebih bersifat mengembangkan intelligence quotient (IQ), tapi kurang mengembangkan kemampuan soft skill yang tertuang dalam emotional intelligence (EQ), dan spiritual intelligence (SQ). Pembelajaran di berbagai sekolah bahkan perguruan tinggi lebih menekankan pada perolehan nilai hasil ulangan, maupun nilai ujian. Banyak guru yang memiliki persepsi bahwa peserta didik yang memiliki kompetensi yang baik adalah memiliki nilai hasil ulangan/ujian yang tinggi.
Sementara itu, menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Oleh sebab itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda (Rijal Firdaos, litbangagama-smg.info, 31/3/2012).
Karakter hanya bisa dididik, ditingkatkan dan disempurnakan terus-menerus. Kepada siapa? Kepada semua orang yang mendambakan proses penyempurnaan karakter, termasuk generasi muda.
Perilaku baik adalah karakter. Karakter itu merupakan asset berharga. Bahkan lebih penting dan lebih mendasar ketimbang asset lain. Cerdas adalah asset. Tapi tanpa karakter, cerdasnya akan ngakali yang lain. Jabatan merupakan asset. Tanpa karakter, jabatan bisa jerumuskan negara dalam utang dan obral murah asset negara. Enterpreneurship adalah asset. Tanpa karakter, apapun akan dibisniskan hanya sekadar uang dan rakus akan kerajaan bisnisnya. Professor adalah kehormatan. Tapi tanpa karakter, kehinaan yang didapat (Erie Sudewo, 2011: 251). Pemuda adalah asset, tanpa karakter pemuda kurang mantap.
Karenanya tidak salah bila dikatakan ‘karakter merupakan fondasi’. Apapun yang dibangun di atas karakter akan berkembang baik dan bermanfaat. Pada bangunan, fondasi tampak nyata hingga harus ada. Semakin besar dan tinggi bangunan, semakin fondasi dibuat kokoh jadi penopang.
Kesimpulan
Merefleksikan sumpah pemuda menjadikan kita ingat kepada sejarah perjuangan bangsa, dan kita merasakan pahit dan getirnya perjuangan, kita bisa merasakan dan berusaha apa yang bisa kita kembangkan dari potensi dan kemampuan kita untuk kita sumbangkan kepada bangsa dan negara. Mengambil teladan dari para pendahulu dan pelopor kebaikan.
Sebagai generasi yang masih labih dan proses pencarian jati diri dan karakter diri, maka perlu selalu ada pembinaan dan penyedian wadah yang dapat sebegai tempat generasi muda mengembangkan semua potensi guna masa depan yang bermanfaat.
Meredam dampak negatif dari perilaku generasi muda dengan memberikan pembinaan, penyuluhan dan pelatihan serta pengembangan skill remaja, generasi muda dan mahasiswa.
Sebuah bangsa yang maju, salah satu cirinya, adalah selalu melihat sesuatu dari perspektif positif dan bersifat solutif. Membangun peradaban maju tak bisa seketika dan instan. Ia merupakan hasil dari rajutan yang berlangsung terus-menerus, tumbuh dengan memupuk nilai-nilai yang tumbuh, menyeleksi secara alamiah segala yang datang. Semoga kita termasuk bagian yang terus berkembang dan berbuat positif dan selalu solutif di tengah masyarakat.

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag. Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Surakarta, sekretaris LKBHI IAIN Surakarta, Sekretaris LBH Perisai Kebenaran Wonogiri