Keadilan Yang Kita Cari

Oleh Muhammad Julijanto

Akhir-akhir ini masalah keadilan menjadi perbincanagan dan wacana masyarakat. Masalah keadilan hingga saat ini menjadi persoalan yang sulit untuk diwujudkan, tetapi bukan tidak mungkin diwujudkan, karena sikap dan perilaku manusia yang lebih condong menuruti hawa nafsunya, dengan menuruti hawa nafsu jelas keadilan tidak akan terwujud.

Sebab keadilan adalah sifat Tuhan yang harus diwujudkan manusia dengan kesadaran dan integritas yang tinggi. Tanpa integritas perwujudan keadilan sulit tercapai. Sifat adil mendekati takwa. Takwa sebagai solusi semua masalah baik pribadi maupun kebangsaan. Keadilan menjadi mahal harganya. Karena pelaku keadilan memperjual belikan. Bukan bersadarkan hati nuraninya. Nafsunya masih mendominasi dalam pengambilan keputusan. Bukan lagi kejernihan dalam memandang suatu masalah. Sehingga yang lebih dominan dalam porsinya adalah nafsu berkuasa.

Jika kekuasaan adalah amanah upaya mewujudkan amanah itu harus berdasarkan rasa keadilan. Agar keadilan tidak mahal manusia harus kembali meluruskan niat dan menjauhkan kepentingan dirinya dalam mewujudkannya.
Menegakkan keadilan memang dibutuhkan mental yang kuat. Dan kepercayaan bahwa keadilan adalah hak semua orang dan tidak memandang strata sosial dan status serta kekayaan. Jika penegakkan keadilan hanya membela kelompok yang punya, maka keadilan tidak berpihak kepada yang lemah dan miskin. Allah Swt berfirman Berlaku adillah kamu, karena adil mendekati takwa.

Beberapa hambatan dalam penegakkan keadilan. Antara lain; manusia lebih condong kepada kebenaran formal. Sementara rasa keadilan belum menyentuh pada masalah yang mendasar.

Keadilan beraneka ragam, seperti keadilan ekonomi, keadilan hukum dan keadilan dari segala bentuk penganiayaan. Mahalnya keadilan disebabkan perilaku manusia yang memperdagangkan hukum sesuai dengan selera mereka. Keadilan hanya terbatas pada orang-orang yang mampu, sekalipun yang dilakukan adalah kemungkaran dan kejahatan sekalipun. Hal ini sangat merugikan.

Konsep keadilan dalam hukum adalah keadilan yang dapat mewujudkan ketenteraman, kebahagiaan dan ketenangan secara wajar bagi masyarakat.

Bagaimana keadilan dalam hukum ini dapat dilihat secara nyata dalam praktek pelaksanaan hukum, antara lain apabila keputusan hukum yang dijatuhkan oleh aparat penegak hukum telah mampu memberikan rasa ketenteraman, kebahagiaan dan ketenangan bagi masyarakat dan mampu menumbuhkan opini masyarakat bahwa hukum yang dijatuhkan sudah adil dan wajar.

Dalam penegakkan keadilan bukan saja hanya hakim yang dituntut untuk menjatuhkan putusan yang adil, tetapi undang-undang itu sendiri (hukum) haruslah yang mengandung rasa keadilan sekaligus hukum yang dapat merubah keadaan social seperti hukum yang memungkinkan rakyat kecil siapapun pencari keadilan akan memperoleh peluang yang sama untuk mencapai kehormatan yang lebih baik. Bukan sebaliknya hukum hanya berpihak kepada kelompok tertentu yang menguntungkan bagi penegak hukum sendiri.

Ada tiga komponen yang memungkinkan ditegakkannya hukum dan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Pertama, diperlukan adanya peraturan hukum yang sesuai dengan aspirasi masyarakat. Kedua, adanya aparat penegak hukum yang profesional dan memiliki integritas moral yang terpuji. Ketiga, adanya kesadaran hukum masyarakat yang memungkinkan dilaksanakannya penegakkan hukum secara konsisten.

Keadilan, bagi sebagian masyarakat berarti kesempatan berusaha, memperoleh pendidikan yang layak dan melaksanakan ajaran agama. Oleh karena itu alangkah baiknya kita cermati Fatwa Umar bin Khattab RA. Yang menyatakan ada sepuluh perkara yang tidak akan menjadi baik sebelum dibarengi dengan sepuluh perkara lainnya, antara lain: Akal tidak akan menjadi baik tanpa dibarengi sikap warra’ amal. Amal perbuatan tidak akan menjadi baik tanpa dibarengi dengan ilmu pengetahuan. Keuntungan tidak akan membawa kebaikan tanpa dibarengi dengan takwa kepada Allah Swt. Kekuasaan tidak akan membawa kebaikan tanpa dibarengi dengan keadilan. Tidak ada reputasi (nilai baik) atau derajat tinggi yang membawa kebaikan bila tidak dibarengi dengan akhlak yang mulia. Kesenangan tidak akan enak tanpa dibarengi keamanan. Orang kaya tidak akan menjadi baik tanpa dibarengi rasa belas kasihan (dermawan). Orang fakir tidak akan bisa menjadi baik tanpa dibarengi sifat qana’ah. Ketinggian derajat keturunan tidak akan membawa kebaikan tanpa dibarengi dengan sikap tawadhu’. Orang yang berjuang tidak akan membawa kebaikan tanpa dibarengi taufiq dari Allah Swt.

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag, adalah Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s