KEPALA DAERAH DAN MASALAH KRUSIAL DI DAERAH

KEPALA DAERAH DAN MASALAH KRUSIAL DI DAERAH

oleh Muhammad ulijanto

Geliat persaingan menuju kursi kepala daerah semakin hangat, berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mendekati konstituen terjadi dimana-mana, berbagai forum dimasuki sebagai wahana untuk memperkenalkan diri dan unjuk profil diri agar lebih dikenal. Minimal masyarakat tahu dulu wajahnya, agar pada saat pemungutan suara pandangan pertama surat suara akan mempengaruhi pilihan yang akan dijatuhkan. Keterlambatan untuk melakukan sosialisasi berimplikasi kepada minimnya dukungan dan akhirnya mengkandaskan keinginan meraih kursi kepala daerah.

Jabatan kepala daerah menjadi menarik ketika niatan kembali ke kampung halaman untuk membaktikan diri setelah berkiprah lama di negri rauntau membawa pencerahan baru. Dimana diharapkan wawasan dan pengalaman perantau yang akan menjagokan sebagai kepala daerah tidak hanya ingin menikmati masa tua dengan nostalgia di masa kecil di kampung halaman, tetapi lebih pada pengabdian dan penuangan visi, misi, dan gagasan serta pendayagunaan semua potensi guna memajukan daerah. Niatan yang harus didukung oleh semua pihak khususnya rakyat di daerah.

Fenomena pulang kampung hendaknya tidak hanya sekedar jargon sebagaimana mimpi ini pernah dituangkan menjadi kerangka visi misi dan program kerja gubernur Bibit Waluyo yang berpasangan dengan Rustriningsih Bali Ndeso Mabngun Deso pada Pemilihan Umum Gubernur Jawa Tengah 2008 yang lalu. Namun harus dibuktikan dengan kerja keras. Kampung bukan tempat untuk leha-leha mengisi hari tua dengan berbagai tunjangan jabatan yang membuat rakyat ngiler. Tetapi kerja keras dan siap prihatin karena hingga sekarang rata-rata daerah sedang menghadapi masalah keuangan yang akut.

Coba lihat saja dalam setiap pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) selalu muncul adanya deficit anggaran yang tidak mencukupi untuk memenuhi segala kebutuhan rakyat dalam sector pembangunan. Bahkan yang lebih melambung bukan kembali kepada rakyat tetapi anggaran lebih banyak terserap untuk belanja gaji pegawai sementara sector yang memenuhi hajat hidup rakyat daerah alokasinya minim. Kini lagi-lagi rakyat harus gigit jati.

Boyolali terancam bangrut tahun 2011, sebab krisis anggaran dalam penyusunan APBD terus terjadi, tiga tahun terakhir. Kalau tidak segera dibenahi bisa menjadi ancaman pembangunan infrastruktur di Boyolali tidak bakal tuntas. Bila dibiarkan masalah kemiskinan, pengangguran dan pembangunan infrastruktur jalan menjadi masalah.

Selama tiga tahun terakhir anggaran belanja langsung mengalami penurunan. Jika diprosentase tahun 2008 turun sebesar 37,93 persen dari total anggaran langsung sekitar Rp 282,6 miliar dan tak langsung sekitar Rp 500,2 miliar. Lantas mengalami turun lagi pada tahun 2009 menjadi 27,45 % dari belanja langsung Rp 225,3 miliar dan tak langsung Rp 659,7 miliar. Pada pembahasan tahun 2010 turun lagi menjadi 24,17 % dari belanja langsung Rp 200 miliar dan tak langsung Rp 670,4 miliar (Solopos, 5/10/2009).

Tidak hanya Boyolali yang mengalami deficit anggaran. Berdasarkan RAPBD Kabupaten Wonogiri deficit anggaran tahun 2009 sebesar Rp 16 miliar. Sementara tahun 2010 Wonogiri akan menggelar Pilbup. Demikian Kabupaten Sukoharjo dalam penetapan RAPBD Tahun 2009 mengalami deficit Rp 36 miliar.

Demokrasi yang seharusnya bisa menyejahterakan rakyat masih merupakan utopia khayalan negri langit yang sulit diwujudkan. Oleh karena itu kekuasaan harus selalu diawasi agar tidak arogan, tidak korup, tidak peduli, tidak represif. Sekalipun pengawasan baik secara internal maupun didatangkan dari pengawas independent dari luar sekalipun kekuasaan masih berani melakukan penyimpangan, apalagi kalau sama sekali tidak diawasi. Bakal bangrut negri ini.

Lihat saja berbagai penyimpangan, kasus-kasus hukum yang dahulunya tidak pernah ada penindakan kini satu-persatu terungkap secara transparan di hadapan publik. Bahkan menyita perhatian publik yang luar biasa. Masyarakat rindu akan penegakkan hukum yang adil dan memenuhi rasa keadilan yang tidak hanya dari sisi legalitas hukum formal tetapi juga pada subtansi persoalan rasa keadilan hukumnya.

Tahun 2010 adalah tahun pemilihan kepala daerah (pilkada) untuk 246 Kabupaten/Kota di Indonesia. Para bakal calon kepala daerah bersaing untuk mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya dari konstituen yang mencalonkan diri.

Yang menjadi persoalan mampukah balon kepala daerah mampu merumuskan kebutuhan apa yang menjadi prioritas dari masing-masing daerah keluar dari masalah yang dihadapi, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat rakyatnya dari masalah kemiskinan, pengangguran, keterbelakangan dan penyelenggaraan pemerintahan good dan responsible government

Pekerjaan rumah bagi bakal calon kepala daerah adalah mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat di daerah. Pemilihan kepala daerah secara langsung tahun 2005 telah memberikan bukti kepada rakyat sejauhmana kinerja kepala daerah terpilih dan tingkat pencapaian hasil yang dapat dirasakan oleh rakyat di daerah. Bila dievaluasi belum ada daerah dengan kepala daerahnya yang mampu mengangkat persoalan kemiskinan secara signifikan. Data terakhir menunjukkan masih dalamnya jurang kemiskinan yang kita rasakan. Apa yang harus saudara lakukan guna mewujudkan pemerintahan daerah yang efektif, efisien, mampu mewujudkan hartapan rakyat, berpegang teguh pada komitmen amanat penderitaan rakyat, sekalipun kontrak politik ketika kampanye nanti tidak ada yang mewakili secara langsung dengan dokumen resmi sebagaimana dalam perjanjian-perjanjian keperdataan, yang sewaktu-waktu kepala daerah wanprestasi tidak menepati janji bisa digugat rakyat konstituennya. Selamat berkompetisi untuk wujudkan kesejahteraan rakyat daerah.

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag. adalah peminat masalah sosial politik, dosen Civic Education STAIN Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s