MOVE, MAKA KAMU SEJAHTERA

MOVE, MAKA KAMU SEJAHTERA

Oleh Muhammad Julijanto

Seiring dengan perjalanan waktu tahun baru Hijriyah bertemu kembali. Kalender Hijriyah pertama kali dilakukan oleh  Umar bin Khaththab penanda awal bulan Islam. Bulan Muharram sebagai momentum berbagai peristiwa besar dalam perjalanan sejarah kehidupan manusia. Hijrah menjadi dasar pertimbangan tahun Hijriyah adalah merupakan kepindahan Nabi Muhammad Saw dari Makkah ke Madinah dalam rangka dakwah Islam. Dalam konteks yang lebih luas hijrah adalah segala bentuk kepindahan pada suatu keadaan yang lebih baik (dengan kriteria agama).

Etos hijrah adalah upaya untuk meningkatkan segala bentuk kekurangan, keterbelakangan, kemiskinan, kebodohan, kemaksiatan menuju kualitas hidup yang lebih berarti, beradab dan sejahtera, tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan fisik. Tetapi nuasa ruhaniah tetap terjaga, sehingga makna spiritual mampu memacu semangat untuk mendekatkan diri kehadirat Allah Swt. Dengan semangat hijrah dunia akan dicerahkan dari segala bentuk keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, maupun kesenjangan kehidupan.

Filosofi hijrah, bergeraklah maka kamu sejahtera sangat tepat, karena dengan bergerak dari pulau satu ke pulau lain, dari Negara satu ke Negara lain akan ada pertukaran baik barang maupun jasa, yang berakibat seseorang yang melakukan proses hijrah, maka akan meningkat kesejahteraannya. Dalam filosofisi Jawa dikatakan bergeraklah, nek obah koe iso mamah-jika kamu bergerak, maka kamu bisa makan, maka kamu akan sejahtera. Kepergian yang dilakukan dalam berbagai usaha dari daerah satu ke daerah lain dilandasi niatan tulus meningkatkan derajat kesejahteraan.

Bagaimana budaya merantau bisa menyebabkan seseorang menjadi sejahtera? Apa filosofi dari hijrah bagi suatu keutuhan bangsa? Syarat apa agar seseorang dapat survive di tempat perantauan? Apa kendala yang dihadapi sehingga dia bisa eksis di negeri orang?

Bergerak

Hidup manusia penuh dengan dinamika, gejolak dan kompetisi. Sebaik-baik kompetisi adalah dalam hal kebaikan dan kebenaran-fastabiqul khairat. Hidup adalah gerak. Jika tidak bergerak, maka akan mati, akan tertinggal. Gerak adalah wujud kehidupan. Siapa yang tidak bergerak, maka dia akan tertinggal.

Allah Swt berfirman dalam surat An Nisaa’ [4]: 100 yang berbunyi: Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang ditujuan), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dari ayat ini, memberi tuntunan kepada manusia, bahwa kalau keluar rumah, harus dengan niat yang baik, untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat dan syukur dalam rangka mencari penghidupan yang lebih layak. Jangan sampai keluar rumah justru untuk melakukan kemaksiatan, sekalipun tetangga, teman-teman, saudara-saudara dan keluarga tidak ada yang tahu, tapi sesungghuhnya Allah Maha tahu.

Dalam tafsir Al Ghazali karya Muhammad Al Ghazali (2004: 108) dijelaskan bahwa hijrah dengan membawa akidah adalah jalan yang aman menuju kemenangan dan pintu menuju hari esok yang lebih baik dan lebih bahagia. Di sana tidak ada yang lebih rendah dari orang-orang yang menerima kehinaan dalam agama dan dunianya, karena kelengketannya dengan tanah kelahirannya. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang berhijrah, masa depan yang lebih baik dan kebaikan yang banyak di dunia maupun di akherat.

Pada kenyataannya, selain kita telah bergerak di permukaan bumi ini lalu menjelajah dan memilikinya, lalu meninggalkan bahasa dan akidahnya pada daerah tersebut. Dan kaum muslim lebih utama untuk berpindah dan menyebar di muka bumi Allah ini agar mereka dapat memperluas risalah dan menjalin hubungan antarhamba dengan penciptanya.

Tradisi merantau dan tradisi mudik dalam wilayah Indonesia menjadi fenomena social yang menarik untuk dicermati, lihatlah bangsa-bangsa di dunia yang bisa sejahtera mereka yang dapat bergerak dari benua satu ke benua lain, dari Negara satu ke Negara lain, dari pulau satu ke pulau yang lain, dari daerah satu ke daerah lain. Sebagaimana program pemerintah pada masa Orde Baru dengan transmigrasi adalah sesuatu yang luar biasa kalau mengambil filosofi hijrah. Hanya persoalannya hijrah yang dilakukan oleh tenaga kerja Indonesia ke luar negeri kurang dibekali dengan keterampilan dan keahlian yang dapat bertahan dan berkompetisi di pasar global. Sehingga menyebabkan tenaga kerja Indonesia mendapat salary yang lebih rendah dari bangsa lain karena ada perbedaan advantage komparatif yaitu keahlian dan keterampilan yang dimiliki sang tenaga kerja.

Makna Hijrah

Kalaulah TKI yang merantau ke negeri orang itu hanya berbekal keterampilan minimal, maka mereka juga tetap bisa sejahtera. Sebab filosofi hijrah bergerak move menyebabkan seseorang lebih sejahtera. Hanya persoalannya adalah perlindungan TKI di luar negeri menjadi tanggung jawab Negara untuk melindungi warganya. Di sinilah peran Departemen Luar Negeri yang bertugas melayani dan melindungi kepentingan nasional termasuk warga Negara kita yang ada di luar negeri. Perlindungan hukum perlu diberikan kepada para calon TKI sehingga di pasar global dia dapat mempertahankan haknya secara legal formal, ketika kewajiban telah dijalankan dengan baik dan benar, maka hak-hak yang seharusnya mereka dapatkan juga setipal dengan apa yang telah mereka curahkan dalam menjalankan tugas. Kita sangat sedih dengan adanya berita media yang mengungkap tenaga kerja kita disiksa majikan, diperlakukan dengan melanggar HAM di negeri orang. Ini berarti perlindungan hukum kepada TKI sangat rendah. Oleh Karena itu harus ada upaya kongkrit meminimalisir dan bahkan menghilangkan kasus tersebut dengan cara sebelum berangkat TKI dibekali pengetahuan hukum perburuhan internasional dan Hak Asasi Manusia, agar dia tidak diperlakukan secara sewenang-wenang oleh majikan maupun di mana dia bekerja.

Pergerakan manusia, barang dan jasa yang terjadi dalam sejarah merupakan upaya untuk meningkatkan kesejahteraannya. Terbukti saudagar yang singggah ke tanah air atau para petualang seperti Maccopolo mendrat di nusantara dalam rangka mencari kesejahteraan yaitu sebagai pengepul rempah-rempah. Tetapi lama kelamaan terjadi kolonialisme sebagaimana dilakukan oleh VOC dengan kekuatan ekonomi merambah kepada kekuatan politik yang berkahir dengan penguasaan suatu negeri secara ekonomi dan politik. Sedangkan hukum yang berlaku dalam rangka untuk mempertahankan status quo memberikan legitimasi terhap penguasaan negeri setempat.

Oleh karena itu dalam persoalan dunia usaha Islam sangat mengajurkan umat manusia mendayagunakan segala potensinya guna kemakmuran masyarakat. Sehingga Allah Swt memberi rerezeki kepada hamba-Nya yang mau berusaha dengan sungguh-sungguh sesuai dengan sunnatullah yang berlaku. Rezeki tidak akan dating dengan berpangku tangan. Namun rezeki harus diupayakan dengan kerja keras. Sebab jika rezeki itu dating tanpa diusahakan, akan mengakibatkan kerusakan di muka bumi. Karena tidak sesuai dengan hukum keseimbangan sunnatullah.

Hakikat manusia adalah bergerak, maka jika pikiran manusia kosong dan tidak punya aktivitas dia akan berusaha untuk mencari kesibukan. Kesibukan inilah yang akan menentukan apakah kesibukannya itu untuk kebaikan (hal yang produktif) atau sebaliknya membuat kemaksiatan atau kejahatan (hal yang destruktif). Hal tersebut sangat tergantung pada mentalitas dan moralitas pribadinya.

Oleh karena itu manusia membutuhkan kerja. Bekerja itu sebetulnya keperluan manusia untuk menopang hidupnya. Dengan bekerja manusia akan berarti, hidup dan penuh dengan makna. Maka gelombang PHK yang terjadi akibat krisis global perlu diantisipasi. Terutama dengan proyek padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya.

Banyak orang silau dengan harta. Seolah-olah bangkitnya umat ini dimulai dari harta. Padahal kebangkitan Islam dimulai dari ilmu

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag adalah Dosen STAIN Surakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s