POTENSI ZAKAT VS KEMISKINAN

POTENSI ZAKAT VS KEMISKINAN

Oleh Muhammad Julijanto, M. Ag.

Kemiskinan di Indonesia menjadi masalah serius dan tidak hanya terjadi di kota-kota besar bahkan menjalar hingga di pelosok negeri. Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok masih menjadi barang mewah bagi kelompok masyarakat miskin. Mereka sudah bekerja keras mengeluarkan semua potensi dan kemampuannya untuk mencari sumber-sumber penghidupan, seperti berdagangan, menjadi pengasong, menjadi pemulung, menjadi kusir, tukang becak, kuli bangunan, pembantu rumah tangga dan berbagai kegiatan ekonomi sektor informal.

Bagi kelompok masyakat kelas bawah fasilitas seperti pendidikan, layanan kesehatan adalah jauh api dari panggang. Sekalipun program pemerintah melalui askeskin (jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin), pendidikan wajib sembilan tahun gratis, tetapi kebutuhan yang lain seperti sarana yang dapat mendukung kegiatan tidak bisa mereka miliki, sehingga mereka berada pada lingkaran kemiskinan yang tidak pernah putus.

Upaya pemerintah untuk mengangkat harkat dan martabat mereka menjadi kelas ekonomi yang mampu berdikari (mampu berdiri sendiri) masih hanya program charitas-belas kasihan, yang memberikan bantuan berhenti pada konsumsi sesaat seperti bantuan langsung tunai (BLT). Sebaliknya justru  pemerintah membuat program padat karya yang bisa menampung dan memberikan lapangan pekerjaan kepada kelompok masyarakat rentan ini, sehingga mereka tidak hanya sekedar menerima uang tanpa adanya kerja keras dengan kegiatan ekonomi produktif. Dengan demikian ada aktivitas warga baik secara koletif maupun sendiri-sendiri yang mampu menghasilkan produk maupun jasa.

Seperti halnya rencana program yang dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Wonogiri melalui program Proyek Kerja Darurat (PKD) dimana sebanyak 100.000 penganggur bisa terserap dalam program ini. Sementara sekitar 60.000 orang diharapkan terentaskan dari pengangguran karena dilatih dan dibekali untuk menjadi kelompok usaha mandiri (Solopos, 26/8/2009).  

Sejak tahun 1998 terus terjadi pengurangan angka kemiskinan dari 49,50 juta atau 24,23 persen (1998) hingga 35,10 juta atau 15,97 persen (2005). Penduduk miskin bertambah empat juta orang yang tercatat pada Februari 2005 terdapat 11 juta orang pengangguran. Namun pada Maret 2006 terjadi peningkatan angka kemiskinan menjadi 39,05 juta (17,75 persen) (Sensus 2006) (Kompas, 27/2/2007). Sedangkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir 2 Juli 2007 jumlah penduduk miskin Indonesia tahun 2007 mencapai 37,17 juta atau 16,58 persen dari total penduduk.

Bulan berkah

Seiring dengan datangnya bulan suci Ramadan kelompok masyarakat miskin juga mendapatkan berkah, tentu karena di bulan penuh berkah ini para orang kaya (aghniya) dan yang mampu lebih banyak berderma, dimana sedekah yang dia keluarkan mempunyai nilai pahala yang lebih besar dibanding di luar bulan suci.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh kelompok masyarakat entah karena kondisi ekonominya maupun kemampuan untuk membaca peluang, sehingga menjadi pengemis menjanjikan bahkan bisa menjadi profesi musiman. Jika ini menjadi kelompok yang besar dan meresahkan, memang perlu adanya sebuah fatwa yang melarang orang untuk menjadi pengemis.

Namun kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan dan krisis berkempanjangan, sehingga dinilai oleh Majelsi Ulama Indonesia (MUI) belum saatnya MUI mengeluarkan fatwa mengemis itu haram. Secara doktrin banyak ayat Al Quran dan Hadits yang memberikan motivasi kepada umat Islam agar bekerja keras membanting tulang mengeluarkan segala potensi untuk bekerja, sebab bekerja merupakan fitrah manusia, jika tidak bekerja maka terasa hampa dalam dirinya. Tangan yang di atas lebih mulia daripada tangan yang dibawah, memberi lebih utama dari pada menermia.

Apabila telah selesai shalat (Jumat) maka bertebaranlah di bumi dan carilah fadhl (kelebihan) dari Allah (Qs Al Jum’ah [62]: 10). Buknalah Allah telah mendapatimu miskin kemudian Dia menganugerahkan kepadamu kecukupan ( Qs. Adh Dhuna [93]: 8). Tiada dosa bagi kamu untuk mencari fadhl (kelebihan dari Allah) (di musim haji) (Qs. Al Baqarah [2]: 198).

Hampir saja kekafiran menjadi kekufuran, karena itu Nabi Muhammad Saw berdoa Ya Allah, Aku Berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran (HR Abu Dawud). Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan dan kehinaan, dan aku berlindung pula dari menganiaya dan dianiaya (HR Ibnu Majah dan Al Hkim).

Oleh karena itu upaya mengatasi kemiskinan adalah dengan kerja dan usaha. Dari ayat-ayat Al Quran memerintahkan dan memberi isyarat kemuliaan bekerja. Segala pekerjaan dan usaha halal dipujinya, sedangkan segala bentuk penggangguran dikecam dan dicelanya. Apabila engkau telah menyesaikan satu pekerjaan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (pekerjaan yang lain, agar jangan mengganggur) dan hanya kepada Tuhanmu sajalah hendaknya kamu mengharap (Qs. Alam Nasyrah [94]: 7-8). Salah seorang di antara kamu mengambil tali, kamudian membawa seikat kayu bakar di atas punggungnya lalu dijualnya, sehingga ditutup Allah air mukanya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang, baik ia diberi maupun ditolak (HR Bukhari).

Bila di tempat domisili tidak ada akses lapangan pekerjaan yang bisa menampung potensi masyarakat, Al Quran menganjurkan untuk berhijrah atau merantau, transmigrasi, migrasi dan lain-lain sebagaimana yang terjadi setiap musim lebaran menjadi surganya para perantau pulang kampung. Karena di tempat yang baru akan terbuka lapangan pekerjaan dan tempat perlindungan. Barangsiapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya mereka mendapatkan di muka bumi tempat yang luas lagi rezeki yang banyak (An Nisaa’ [4]: 100).

Sistem jaminan sosial atau pendekatan charitas-belas kasih yang sifatnya bantuan tunai untuk memenuhi kebutuhan merupakan kewajiban orang lain yang tercermin pada jaminan satu rumpun keluarga, dan jaminan sosial dalam bentuk zakat dan sedekah wajib. Dalam harta mereka ada hak untuk (orang miskin yang meminta) dan yang tidak berkecukupan (walaupun tidak meminta) (Qs. Al Dzariyat [51]: 19).

Potensi zakat

Potensi zakat masyarakat Indonesia mencapai  Rp 7,2 trilyun per tahun. Berdasar hasil survey UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tentang potensi zakat masyarakat Indonesia sebesar Rp 19, 3 trilyun per tahun. Dr. Anggito Abimayu memprediksi potensi zakat masyarakat Indonesia Rp 7, 4 trilyun setiap tahun dengan catatan 100 % wajib zakat di Indonesia patuh untuk membayarnya.

Sedangkan potensi zakat perusahaan BUMN mencapai Rp 14,3 trilyun, potensi zakat profesi Rp 19,3 trilyun, dari potensi zakat perusahaan 50 perusahaan yang kini masuk ke Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sebesar Rp 5 milyar.

UU Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan wajib melakukan corporate social responsibility (CSR) sebagai bentuk good governance perusahaan. Oleh karena itu harus ada mach antara Departemen Agama, Depkeu, dan Depsos. CSR harus sinergi dengan zakat, dalam persaingan modern, paradigma yang menyatakan bahwa zakat sebagai factor pengurangan harus dihilangkan diganti dengan zakat sebagai factor penambah. Demkian juga melalui UU tentang pajak dan UU perbankan syariah yang merupakan tonggak sejarah pemberlakuan zakat dalam pembiayaan fakir miskin di Indonesia.

Jumlah warga miskin di Indonesia tercatat sebanyak 34,9 juta atau 15 % total penduduk Indonesia. Sementara pemerintah hanya dapat mengurangi kemiskinan secara bertahap dengan berbagai program yang telah ditelorkan sekitar 5 % warga miskin dan dibutuhkan dana Rp 180 triliun.  Potensi zakat masyarakat Indonesia mencapai Rp 7, 4 Triliun dari wajib pajak masyarakat Indonesia, dipredikasi dapat menurunkan angka kemiskinan antara 1 hingga 2 %. (Republika, 24 Juli 2008). Berapapun kemampuan potensi zakat sebagai pengurang kemiskinan harus didukung oleh semua komponen bangsa termasuk perusahaan, apalagi telah difatwakan oleh MUI tentang Zakat Perusahaan wajib.

Muhammad Julijanto, M. Ag. adalah Dosen Hukum Zakat, Infaq dan Shadaqah STAIN Surakarta.

Solopos, 11 September 2009, hlm. 4

2 thoughts on “POTENSI ZAKAT VS KEMISKINAN

  1. Haris Istanto mengatakan:

    Posting yang menarik, salam kompak dan semoga sukses.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru kami berjudul : “Pompa Turbin pertama di Kabupaten Sikka”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan mohon diberi komentar. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s