Membara dalam Semangat

Oleh Muhammad Julijanto

Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu (Ali imran [3]: 26).

Ada orang-orang yang dengan mudah selalu diberi kemudahan dalam lapangan mencari rizki sekalipun dengan berpangku tangan dan andalkan pikiran dan otaknya. Namun juga ada orang-orang yang banting tulang siang malam bekerja, pikiran dan fisiknya hanya untuk mendapatkan sesuap nasi yang dapat dimakan hari itu juga.
Allah Swt hamparkan rizki itu bertebaran di muka bumi baik terdapat di darat maupun yang melimpah ruah di lautan yang luas, baik yang terhampar di atas bumi maupun yang terkadung di dalam perut bumi berupa barang tambang yang melimpah ruah.

Berjuang dan terus berjuang adalah kata bijak yang harus membara dalam semangat hidup. Semakin gagal seseorang mewujudkan cita-cita harapannya, semakin kuat perjuangannya, sakin tekun dalam menyusun strategi agar mendapatkan apa yang diharapkan, semakin tekun dalam ikhtiarnya, semakin khusuk dalam berdoa dan mendekat melalui dzkikir , ibadah dan ikhtiar yang dilakukan.
Perjuangan hidup orang beriman akan berpangkal pada totalitas dan berserah diri kepada Allah Swt. Apa yang ditakdirkan merupakan hasil ikhtiar maksimal yang terbaik dan terindah baginya. Sebelum takdir itu terjadi manusia wajib berusaha, berikhtiar tergantung seberapa dalam penghayatan dan pengemalan terhadap nilai-nilai ajaran agamanya.

Manusia dapat mengupayakan takdir yang terbaik dengan ikhtiar. Apabila usaha, ikhtiar dan doa telah dilakukan apa yang diharapkan tidak sesuai dengan yang dicita-citakan, maka berserah diri dan tawakal adalah obat pencerahan, bersabar adalah wujud totalitas atas usaha yang dilakukan manusia tidak berhak menentukan hasil, wilayah manusia adalah berusaha. Hasil akhir diserahkan pada kuasaNya.

Bagi orang yang senantiasa bersandar kepada Allah Swt dengan ikhlas, ia akan menjadi pribadi yang terang. Hati dan pikirannya selalu diliputi cahaya ketuhanan. Kebeningan hati membuat segala yang ada di sekelilingnya menjadi pranata atau jalan untuk sampai kepadaNya orang yang bersandar kepada Allah senantiasa menganggap jabatan sebagai amanat, sehingga harus dijaga dan dipertanggungjawabkan (Bisri M Djaelani, 2008: 4).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s