MERINDUKAN MORAL DAN KEBENARAN


Oleh Muhammad Julijanto

Masalah moral masalah akhlak biar kami cari sendiri, urus saja moralmu, urus saja akhlakmu, peraturan yang baik yang kami mau.

Sepenggal syair Iwan Fals menginspirasi kita bahwa masalah moral dan akhlak menjadi modal dasar pembangunan suatu bangsa. Bila moralitas anak bangsa kacau, maka akan berakibat pada hancurnya tatanan sosial kenegaraan. Sebaliknya moralitas anak bangsa berkualitas, maka pembangunan akan semakin terasa kesejahteraannya.

Moralitas aparat penegak hukum kini sedang dipertanyakan publik? Bagaimana mengatasi dekadensi moral, apa yang harus dilakukan, bagaimana kita memulihkan masalah moralitas, apakah melalui dunia pendidikan, atau peningkatan kesejahteraan aparatur pemerintah agar mereka tidak korupsi lagi?

Ujian terhadap moralitas bangsa hampir tidak pernah usai, berbagai peristiwa nasional yang menyelimuti kawasan khatulistiwa ini selalu mengundang pertanyaan dan gugatan nurani mau dikemanakan moralitas anak bangsa ini?, sehingga masalah birokrasi pemerintahan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang menyebabkan tingkat kepercayaan public kepada jajaran birokrasi pemerintahan menurun.

Gelombang pasang penyimpangan moral dan kebenaran selalu dalam posisi tercancam untuk tenggelam. Penyimpangan-penyimpangan moral selalu berusaha menjauhi dan mengingkari kebenaran. Konflik antarlembaga hukum yang seharus menjadi motor penggerak pemberantasan tindak pidana, pelanggaran maupun kejahatan justru tersandra oleh kasus yang mereka hadapi.

Sementara moral merupakan pusat orientasi sikap dan perilaku manusia, manusia diposisikan sebagai subyek yang bergerak, beraktualisasi dan bereksistensi melalui berbagai peran sosialnya, inti dari seluruh dinamika manusia adalah moral. Karena itu tinggi rendahnya tanggung jawab moral seseorang akan menentukan tingi rendahnya kualitas kepribadian sebagai manusia.

Politik berurusan dengan taktik dan strategi untuk memperoleh atau mempertahankan kekuasaan. Sedangkan moral berurusan dengan baik-buruknya watak dan perilaku seseorang. Bisnis punya logika keuntungan; mengeluarkan uang sedikit untuk mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya. Sedangkan moral berurusan dengan baik-buruknya seseorang sebagai manusia dalam relasi social. Moral mewajibkan kita untuk memanusiakan manusia. Ketika kita tergelincir untuk mengingkari moral merupakan salah satu pilar penting kebenaran.

Kebenaran merupakan nilai yang dapat diterima oleh logika umum (bersifat universal). Sesuatu dapat dianggap sebagai kebenaran jika ia dapat diterima oleh akal sehat (command sense). Logika kekuasaan yang memutlakkan kebenaran sepihak. Main kuasa adalah bagian dari bentuk kekerasan budaya yang melukai rasa etis. Mengingkari hati nurani rakyat. Akal sehat dibangun oleh fakta empiris (melalui pembuktian yang akurat atau sahih) dan fakta psikologis (melalui pembuktian teoritis). Akal sehat mengandung kekuatan roh (kebenaran universal) yang tidak dapat disentuh (dikuasai, disuap) dan direkayasa, melalui skenario sandiwara yang canggih sekalipun.

Akal sehat tidak dapat dikalahkan oleh kekuatan apapun. Manusia hanyalah pegawai dan pemakai akal sehat. Prosedur perawatan akal sehat adalah membangun basis nilai moral dan basis nilai etika melalui ketaatan terhadap norma-normanya, meletakkan setiap persoalan dalam logika dan argumentasi kebenaran.

Kebenaran akan tampak, terasa dan kokoh serta teraktualisasi dalam kehidupan sosial jika ada basis logika yang comprehensif dan basis moral serta basis etika yang kokoh. Moralitas, sikap etis dan akal sehat selalu menagih tanggung jawab kita (sebagai manusia) atas kebenaran dalam menjalankan peran sosial. Kebenaran itu akan selalu menagih, melalui rasa bersalah yang dijeratkan oleh hati nurani kita, di saat sunyi, saat kita melepaskan berbagai atribut, predikat, profesi dan peranan yang kita bawakan.

Agama

Ajaran agama memberikan kerangka moralitas yang sangat padat, dan itu sifatnya sangat personal dalam aplikasinya dan bersifat sosial implikasinya. Karena masalah moral sangat tergantung bagaimana individu mencermati dan meresapi apa yang seharusnya dilaksanakan dan apa yang seharusnya dihindari atau dicegah agar tidak terjadi penyimpangan moral yang akumulatif.

Dalam konteks kenegaraan sebagai contoh pemimpin seharusnya ikut merasakan bagaimana penderitaan yang dialami oleh masyarakat bawah ditengah kehidupan dan persaingan yang sulit, terutama dalam suasana krisis keuangan, namun para pemimpin dengan teganya berfoya-foya bahkan meningkatkan fasiltas jabatan dan pendapatannya yang sangat berlebihan sementara sebagian rakyatnya begitu sulit untuk mencapai kehidupan layak.

Belum lagi moralitas pemimpin yang lebih dahsyat melakukan manipulasi dan korupsi-kolusi menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan dirinya atau kelompoknya, merengguk keuntungan pribadi yang berlebihan tanpa mengindahkan nasib rakyatnya yang kelaparan dan kesulitan sandang, pangan dan papan serta menghadapi musibah yang silih berganti.

Sementara pembangunan-reformasi dengan berbagai konsepnya hingga kini, masih terus diupayakan untuk merubah keadaan masyarakat dari terbelakang secara pengetahuan, miskin secara materi menuju pencerahan secara moral, intelektual, pengentasan kemiskinan, merubah keadaan alam yang terbengkalai tanpa bermanfaat sepenuhnya untuk mencapai kemakmuran penduduk dunia ini, bukan hanya pasrah terhadap alam yang melimpah, hanya menunggu uluran tangan bantuan orang lain, maupun bangsa lain, tanpa ada upaya dan usaha yang produktif mengerahkan kreatifitas, merubah keadaan menjadi lebih baik.

Dengan mempertanyakan moralitas dan kebenaran kita diharapkan bisa menggugah para pengambil kebijakan agar tetap konsisten pada reformasi. Sehingga percepatan menuju Indonesia yang berkualitas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s