SPIRITUALITAS YANG MENCERAHKAN

Oleh Muhammad Julijanto

John Naisbit seorang futurology pernah meramalkan, bahwa gejala yang muncul di masa mendatang adalah menguatnya spiritual. Hal ini muncul karena dalam masyarakat yang mencapai kemajuan tinggi di bidang ekonomi maupun teknologi membuat masyarakat mengalami tekanan-tekanan psikologi yang berat.

Manusia semakin bersikap hedonis, konsumtif menuntut pemenuhan-pemenuhan yang tidak bisa diabaikan. Masyarakat makin materialistic, segala sesuatu diukur dengan kebendaan, berpartispasi dalam pemilu harus ada uang, mengurus sesuatu harus pakai uang pelicin, tiada uang urusan tidak selesai, sehingga proses hidup ini dijalani sekedar untuk memenuhi kebutuhan materi. Karenanya setiap individu memiliki semangat luar biasa untuk menggapainya. Persaingan untuk mendapatkan akses material terjadi di semua aspek kehidupan. Materi telah menjadi Tuhan baru atau Tuhan kedua bagi manusia, maka jika tidak mampu mendapatkannya dia beranggapan bahwa dunia itu hampa, tidak berarti. Endapan masalah ini menjadi tekanan yang semakin memberatkan jika tidak ada solusinya.

Kecenderungan itu telah memicu manusia untuk mencari kompensasi kepada kekuatan lain, yaitu sesuatu yang berada di luar dirinya yang dirasa memberikan ketenangan dan ketenteraman jiwa. Aspek spiritual adalah pelarian bagi manusia-manusia yang stress berat. Spiritual yang dimaksud belum tentu agama, namun sesuatu apapun yang bisa menenteramkan. Maka patut kita sayangkan bila spiritual yang dicari adalah penyimpangan dari agama baku yang telah dihayati ribuan tahun dan membuat ritual baru yang menyimpang dan akhirnya menjadi aliran sesat.

Munculnya berbagai layanan penguatan rohani seperti program spiritual question, majelis taklim, dzikir akbar, dan kelompok aliran kepercayaan dll adalah fenomena yang dapat menggambarkan bahwa manusia butuh namanya ruang spiritual yang dapat memenuhi kebutuhan rohaninya. Hanya persoalan yang muncul berkaitan ritual baku dan segala pernak perniknya yang menyimpang ajaran pokok suatu agama.

Seperti Satria Piningit Weteng Buwono pimpinan Agus Imam Solichin, Ahmadiyah, Liya Eden, Ahmad Sadek dll, sebagai suatu fenomena yang perlu dicermati, mengapa bahaya laten aliran sesat silih berganti dari satu kelompok muncul, meresahkan masyarakat lalu dibubarkan, muncul kelompok lain lagi.

Penyelewengan pengamalan ajaran agama yang dilakukan oleh sebagian kelompok orang, kemudian dibubarkan karena meresahkan masyarakat. Sebuah kegelisahan yang pantas kita teliti apa yang menjadi penyebab begitu mudah orang menyewengkan aliran agama yang baku untuk kepentingan pribadi atau mengaku tuhan dengan seperangkat ritual yang telah baku dirumuskan oleh agama terdahulu dan membuat ritual sendiri yang berdasarkan reka dayanya sendiri.

Perlu kita renungkan dengan silih bergantinya muncul fenomena aliran sesat yang keluar dari ajaran baku yang sudah ribuan tahun yang lalu berkembang, kini orang tertentu dengan segala keterbatasannya mampu merumuskan dan seakan mendapatkan wangsit-wahyu untuk mendirikan dan menyebarkan ajaran keyakinannya kepada orang lain, mengaku sebagai nabi dan bahkan yang konyol adalah mengaku sebagai Tuhan, sungguh suatu yang lucu di tengah rasionalitas manusia yang semakin mendewakan materialisme sebagai tolok ukur dan keberhasilan rasional semakin dewasa dalam mencerna pemikiran dan buah peradaban, tetapi masih ada sebagian orang yang begitu mudah dan percaya untuk mengikuti suatu aliran atau kepercayaan yang merupakan hasil reka daya manusia. Karena telah mencurahkan pemikiran dan pendapatnya yang seakan-akan mendapat wangsit untuk menyebarkan dan mengembangkan keyakinan yang diyakini sebagai suatu sistem kepercayaan.

Kalau kepercayaan itu sebagai suatu agama paling tidak ada standar baku kepercayaan itu sebagai agama, antara lain adanya Tuhan, adanya sistem keimanan, adanya akidah, adanya syariah, adanya wahyu adanya penyebar atau nabi dan umat pengikut yang mengikuti sebagai sebuah ajaran agama.

Sejak Indonesia merdeka dapat kita petakan berbagai aliran agama atau sempalan agama bertubi-tubi muncul laksana jamur di musim semi. Hal ini menandakan bahwa sebagian manusia telah jenuh dengan agama yang ada dan hilang kepercayaan kepada agama formal sehingga dia dengan rekadaya akal pikirannya mencoba menerjemahkan apa yang menjadi keyakinannya sebagai sebuah system kepercayaan yang seakan menjadi ajaran agama yang baru yang disebut sebagai ajaran agama sempalan. Ahmadiyah, lemkari, ingkar as sunnah, Islam Jama’ah (Darul Hadits, Lemkari), Arqom, Syi’ah,

Apabila dipetakan munculnya aliran sesat atau aliran sempalan, paling tidak ada beberapa sebab, antara lain; pertama, kurangnya dakwah yang menyetuh semua lapisan masyarakat dari adanya organisasi masyarakat besar seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, Al Irsad, PERSIS, MUI, DDII, MTA, Jamaah Tabligh, kedua, kurangnya komunikasi antara ormas keagamaan dalam pembinaan umat, ketiga, adanya perbedaan persepsi, keempat, kurangnya kepeduliaan kepada kelompok pinggiran yang tersisih dari sisi ekonomi maupun akses politik, kelima, perbedaan pemahaman dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah. Keenam, pengaruh perkembangan kebebasan beragama menyebakan munculnya aliran baru yang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Ketujuh adanya kekurang mampuan masyarakat mendapatkan pendidikan agama yang baik, redahnya efektifitas dan efisiensi pelayanan keagamaan.

Upaya-upaya langkah dan peluang

Upaya yang perlu dilakukan oleh masyarakat, pertama, meningkatkan kepeduliaan terhadap kepompok masyarakat marginal, baik secara ekonomi, akses politik maupun akses dakwah islamiyah maupun missi agama yang ada. Kedua, tingkatkan ukhuwah islamiyah yang dapat menyentuh pada persoalan yang dibutuhkan masyarakat secara mendasar tidak hanya berkutat pada masalah furu’iyah tetapi sampai pada substansi pengamalan ajaran agama dalam bidang pemberdayaan ekonomi umat dan pengentasan dari kemiskinan, pemenuhan kebutuhan spiritual. Ketiga, kembali kepada ajaran sumber yaitu Al Qur’;an dan Hadits sebagai rujukan dalam kehidupan bermasyarakat, beragama sehingga akan mendapatkan tuntunan hidup yang sesuai dengan sumber ajaran Islam tersebut, jika sudah keluar dari dua sumber tersebut kemungkinan tersesat sangat besar. Keempat, perlu adanya upaya untuk selalu menyamakan persepsi terhadap masalah teologi maupun dalam aksi social kemanusiaan, sehingga setiap ada masalah akan segera diatasi bersama dalam rangka menjaga dinamika dan iklim harmoni di tengah masyarakat. Kelima, sudah saatnya setiap ormas keagamaan jangan merasa lebih dari ormas lain sehingga bertindak arogan dan berusaha meniadakan yang lain tanpa adanya tabayun dan saling menjelaskan – klarifikasi.

Selama ini sikap pemerintah terhadap adanya aliran sempalan atau aliran sesat adalah menitik beratkan pada aspek social politik dan keamanan, bukan aspek akidahnya. Padahal persoalan yang dihadapi umat adalah persoalan akidah yang menyebabkan keresahan masyarakat. Munculnya aliran sesat merupakan tanda bahwa dakwah yang dilakukan oleh beberapa ormas keagamaan dan kemasyarakat gagal dalam membina umat. Ketidakmampuan organisasi masyarakat keagamaan untuk membina basic need kebutuhan dasar akan kesejahteraan anggota maupun masyarakat.

Ifdhal Kasim Ketua Komnas HAM dalam artikelnya ”Penghayat Kepercayaan Dianaktirikan”, (Solopos, 25/7/2009, hlm. 4). Dapat disimpulkan bahwa selama ini penghayat kepercayaan tidak mendapatkan perhatian yang seimbang oleh pemerintah dibanding dengan saudara-saudara yang menganut agama formal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun persoalannya adalah bagi saudara kita yang mencoba menyelewengkan ajaran agama formal yang sudah baku. Itulah yang menjadi picu terhadap keresahan penganut agama tersebut yang merasa dinodai. Saya sepakat bahwa keimanan merupakan hak asasi manusia yang mendasar. Harus dilindungi selama tidak menyimpangkan ajaran agama yang sudah ada. Sebab ketika menodai ajaran agama yang sudah ada berarti juga merupakan pelanggaran HAM bagi penganut agama tersebut.

Semoga keberagamaan dan kepercayaan yang kita anut bukan menjadi problem sosial, namun sebaliknya sebagai suatu solusi dari kebutuhan manusia akan spiritualitas dan pencerahan rohani. Sebagai kebutuhan manusia modern yang sibuk dengan urusan meteri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s