Idul Fitri Momen Perbaiki Diri dan Bangsa

Oleh Muhammad Julijanto

 

Umat Islam sedunia merayakan kemenangan setelah satu bulan penuh menunaikan puasa Ramadhan. berat berpisah karena dengan Ramadhan ibadah seberat apapun menjadi mudah dan nikmat.

Kita merasakan betul manisnya iman-khalawatul iman, yang diharapkan puncaknya adalah alumni Ramadhan la’allakum tattaquun-semoga kamu sekalian menjadi pribadi yang bertaqwa. Suatu pribadi yang penuh dengan semangat pengabdian, pribadi paripurna, dimana segala perilaku dan keberadaannya di tengah masyarakat selalu membawa manfaat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain.

Seiring dengan berakhirnya bulan suci Ramadhan di mana berbagai amaliyah dari puasa Ramadhan, amaliyah tilawatil qur’an, shalat Tarwih berjamaah, menunaikan kewajiban membayar zakat maal (sebagai penyuci harta yang kita miliki) dan zakat fitrah (sebagai penyuci jiwa orang-orang yang berpuasa), I’tikaf (berdiam di masjid dengan niat ibadah), dzikir dan doa-doa yang kita panjatkan serta berbagai amaliyah Ramadhan yang baik dan mendatangkan manfaat yang dilakukan dengan Imanan wah tisaban (dengan ikhlas) serta dedikasi semata-mata mengharap Rahmah, Maghfirah (ampunan) dan Itqun minan naar  (terbebas dari siksa api neraka). Maka Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa yang berpuasa ramadhan dengan iman dan ikhlas semata mengharap ridha Allah swt, Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu.

Sebaliknya jika amaliyah Ramadhan yang kita lakukan tidak produktif, bahkan merusak sendi sosial kemasyarakatan maupun ibadah yang kita lakukan maka sinyalemen Rasulullah Saw sebagai berikut: Banyak sekali orang yang berpuasa, tetapi tidak ada yang diperolehnya dari puasanya kecuali hanya lapar dan dahaga saja (yakni pahalanya lenyap sama sekali) (HR. An Nasa’i dan Ibnu Majah).

Ramadhan juga mengajarkan pentingnya solidaritas (kebersamaan) lewat Shalat misalnya, yang tidak membedakan orang dari golongan strata sosialnya, kaya atau miskin, pengusaha atau karyawan-buruh, pedagang atau petani, pejabat atau rakyat. Sehingga merupakan cermin solidaritas ukhuwah Islamiyah, kemudian diharapkan mengkerucut kepada ukhuwah insaniyah. Dimana merupakan bukti bahwa Islam mengharamkan tindakan-tindakan destruktif terror yang merugikan diri sendiri maupun orang lain dan justru mengajarkan untuk mewujudkan keshalehan pribadi dan keshalehan sosial.

Jika tujuan puasa adalah taqwa, maka kedua bentuk kesalihan tersebut sebagai jalan menuju kearah taqwa. Demikianlah Allah Swt melalui Ramadhan mengkondisikan mental, moral, spiritual perilaku muslim untuk selalu peka terhadap kehidupan masyarakat. Orang Jawa mengatakan hidup bermasyarakat harus “tepo seliro”, yaitu perasaan senasib supaya tidak terjadi permusuhan, benci, iri dan dengki, dendam dan sebagainya, maka harus ada (empati sosial) yaitu kemauan untuk merasakan apa yang dialami dan diderita oleh anggota masyarakat sekitarnya.

Keadaan bangsa Indonesia sekarang masih dalam duka karena Bencana silih berganti:Gunung meletus, Tsunami, Gempa bumi, Banjir bandang, banjir lumpur di Sidoarjo Jawa Timur, Kebakaran hutan dan hujan asap, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kereta api, kecelakan pesawat terbang, kecelakaan kapal laut dan lain-lain.

Wabah penyakit menular: Aids (penyakit kelamin, akibat seks bebas yang tidak diikat dalam ikatan perkawinan yang sah menurut syari’at Islam), Flu burung, Demam berdarah, cikumunya, SARS, dan gizi buruk yang menimpa saudara kita di beberapa daerah.

Penyakit sosial: perjudian dengan berbagai bentuknya, minum-minuman yang memabukkan dengan berbagai merek, molimo: madat (narkoba), maling (mencuri-merampok), mendem (Minum-minuman memabukkan), medok (berzina, prostitusi-perselingkuhan), dan main (berjudi). Allah Swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji dari perbuatan syetan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan (90).

Sesungguhnya syetan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran miminum khamar dan berjudi diantara kamu dari mangingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu dari mengerjakan perkerjaan itu (Al Maidah:  90-91).

Keadaan umat Islam merupakan representasi dari keadaan bangsa Indonesia pada umumnya. Sebab umat Islam merupakan kelompok warga negara Republik Indonesia mayoritas, oleh karena itu membangun Indonesia adalah membangun umat Islam.

Data populasi dan perkembangan umat Islam. Pew Forum on Religion and Public Life merilis populasi umat Islam hasilnya. Satu dari empat pendudukan dunia adalah beragama Islam dan dua dari tiga orang di Asia adalah muslim. Jumlah umat Islam di dunia mencapai sekitar 1,57 miliar atau 23 persen dari populasi dunia sekitar 6,8 miliar jiwa. Jumlah penganut Kristen masih terbesar yaitu 2,25 miliar (World Religions Database), disusul penganut agama lain (Republika, 12/10/2009, hlm. 4).

Kondisi umat Islam masih mengalami kemiskinan, kebodohan tingkat kesehatannya rendah. Umat Islam belum maksimal dalam memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia. Banyak umat Islam yang belum menggunakan ajaran Islam sebagai laku kehidupan, sebagai life style – gaya hidup yang sesuai dengan syar’i.

Perbaikan Diri

Masih banyak umat Islam yang mengaku Islam tapi belum mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupannya. Sebagai contoh, kemuslimannya masih bersifat formal sebatas Kartu Tanda Penduduk (KTP), yaitu kegiatan kehidupan yang menguntungkan dirinya saja yang dipakai. Mereka menganggap berIslam mempersulit hidupnya. Sikap jujur dalam kegiatan usaha dan aktivitasnya belum menjadi gaya hidup, justru sebaliknya ketidakjujuran, keserakahan, ketidakadilan, kebejadan moral, ketidakdisplinan, ketidak pedulian melingkupi umat Islam.

Padahal kehidupan Islami mengantarkan tata kehidupan yang indah, damai, cinta kasih, kesejahteraan, ketentraman, saling tolong menolong dalam kebenaran dan taqwa. Saling menghormati, kerja keras, toleransi –tasyamuh, berorientasi pada prestasi, proses dan hasil dilaluinya dengan baik, jujur dan benar.

Ajaran Islam syarat dengan nilai-nilai akhlakul karimah, akhlak budi pekerti yang utama. Sebab kehadiran Islam dengan Rasulullah Muhammad Saw sebagai pembawa risalah dalam rangka menyempurnakan akhlak budi pekerti yang luhur. Antara lain: membina persatuan dan kesatuan, menciptakan perdamaian, menepati janji dan menyampaikan amanat, bermurah hati, sabar dalam menghadapi cobaan dan ridha menerima takdir, menjauhi barang yang haram, menghormati tetangga, larangan menghina sesama, menghindari mengadu domba, tolong-menolong, menyambung tali silaturrahmi, meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat, amar ma’rufmengajak kepada kebaikan dan nahi mungkar-mencegah kejelekan-kejahatan, perilaku yang baik, menuntut ilmu-meningkatkan keterampilan untuk bekal kehidupan, tidak berputus asa dalam usaha, jujur, berbuat adil dalam mengambil keputusan baik dalam bidang hukum amupun dalam lapangan ekonomi dan sosial.

Akhlak moralitas menjadi misi yang diperjuangkan oleh RasulullahMuhammad Saw, sebab jatuhnya akhlak moral bangsa adalah hancurnya manusia pada umumnya. Jika akhlak warga negara baik, maka bangsa akan menjadi maju. Sebaliknya jika moral anak bangsa itu rusak, maka rusaklah bangsa tersebut.Bangsa Indonesia akan menjadi  bangsa yang besar dengan kekayaan sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Jika moralitas anak bangsa berikhtiar melakukan nilai-nilai luhur-akhlakul karimah, yaitu akhlak yang terpuji, moral yang luhur.

Sebagian anak bangsa kita seharusnya pandai bersyukur dengan tanah air Indonesia yang gemah ripah loh jinawi. Syukur kita diwujudkan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Apa saja perintah Allah, menjalankan ibadah sebagai tugas hidup manusia. Bertauhid hanya kepada Allah kita menyembah hanya kepada Allahlah kita mohon pertolongan. Seperti ibadah maghdhah antara lain lima rukun Islam syahadat, shalat, puasa Ramdhan, zakat dan pergi haji. Ibadah ghairu maghdhah antara lain aktivitas kehidupan manusia yang diniatkan mengharap ridha Allah, bekerja, belajar, berbisnis, berdagang, bertani ruang lingkup ibadah ini adalah seluas kegiatan manusia dari bagun tidur sampai tidur kembali yang diniatkan semata-mata mengharap ridha Allah Swt.

Sedangkan larangan Allah antara lain: menyekutukan Allah dengan sesembahan yang lain, memakan makanan yang haram, berzina-berselingkuh-homosksual-lesbian, minum-minuman yang memabukkan-narkoba, berjudi-mengundi nasib, menghardik anak yatim (memakan hartanya-menelantarkan), durhaka kepada orang tua, maksiat kepada Allah, akhlak tercela, kikir, iri, dengki, sombong, hasut, menganiaya diri sendiri dan lain-lain kebaikan. Allah Swt berfirman:

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang salih maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan (QS. Al Jaatsiyah 45: 15). Oleh karena itulah Rasulullah bersabda: Bertaqwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik dan bergaullah dengan sesama manusia dengan budi pekerti yang luhur.

Perbaikan bangsa

Arus reformasi saat ini merupakan pintu gerbang bagi kita untuk menelaah kembali perjalanan panjang bangsa ini untuk menuju cita-cita ideal sebagai bangsa beradab di dunia. Dengan munculnya euforia reformasi-kebebasan  secara politis, ekonomi, dan sosial telah membuka berbagai peluang terhadap dinamika partisipasi masyarakat secara umum dalam wacana pembangunan.

Setiap profesi di tengah kehidupan masyarakat dan dalam menjalankan profesinya mempunyai kode etik, tetapi lebih banyak yang melanggar kode etik, jika suatu profesi anggotanya banyak yang melanggar kode etik yang mengatur aktivitas usahanya, maka hancurlah nama baik profesi tersebut.

Setiap orang mempunyai masa lalu, baik masa lalu yang jelek maupun masa lalu yang baik. Semuanya dievaluasi, yang baik ditingkatkan yang jelek ditinggalkan dan bertaubat, tidak mengulangi lagi. Bertaubat harus dilakukan oleh siapa saja yang telah terjerumus kepada perbuatan keji dan mungkar, baik rakyat maupun pemimpin, baik pengusaha maupun karyawan-buruh, apalagi pemimpin umat yang berada di pundaknya amanat peneritaan rakyat dan umat guna mengawal kemakmuran.

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali Imran [3]: 133).

Allah akan membukakan pintu barkokah dari langit kepada suatu bangsa apabila bangsa tersebut beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt dan tidak menyekutukan. Sebaliknya jika penduduk suatu bangsa itu semakin ingkar atas nikmat yang telah dianugerahklan kepada mereka, maka tunggu peringatan Allah akan datang dengan bentuk kesukaran, bala bencana bahkan sampai pada azab kepada bangsa tersebut. Hal tersebut dapat kita ambil pelajaran dari bangsa Saba’ yang dahulunya negerinya gemah ripah loh jinawibaldatun toyyibatun wa rabun ghafur, kemudian dikirim bala bencana banjir besar-saiul arim dengan ambrolnya bendungan Ma’rib dan akhirnya bangsa tersebut kembali kekeringan dan menderita. Karena mengingkari anugerah Allah yang dikaruniakan kepada mereka, bukan semakin syukur, tetapi malah kufur terhadap Allah Swt. Allah Swt berfirman dalam surat An Nahl [16]: 112:

Allah telah membuat satu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduknya) kufur (tidak bersyukur atau tidak bekerja untuk menampakkan) nikmat-nikmat Allah (yang terpendam). Oleh karena itu. Allah menjadikan mereka mengenakan pakaian kelaparan dan katakutan disebabkan oleh perbuatan (ulah) yang selalu mereka lakukan.

Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka disebabkan kekufuran (keengganan bersyukur) mereka. Kami tidak menjatuhkan siksa yang demikian kecuali kepada orang-orang yang kufur (Saba’ [34]: 17).

Makna yang dapat diambil dari pelajaran serangkaian peristiwa di tanah air yang berhubungan dengan tindak kriminal, kerusuhan, kerawanan sosial dan bencana. Pertama, Mengembangkan sikap pluralitas tasamuh-toleransi dalam masyarakat dengan mengedepankan kepentingan kebangsaan di atas kepentingan pribadi dan golongan sebagai paradigma berpikir dan bersikap dalam kehidupan berbangsa. Kedua, mengokohkan kembali semangat kebangsaan. Ketiga, Mencari perekat persatuan bangsa yang bersumber dari nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat bangsa Indonesia terutama dengan kearifan lokal. Keempat, memperbaiki moral anak bangsa dengan akhlakul karimah

Sebagai penutup marilah kita perbaiki akhlak anak bangsa, memperbanyak bersyukur atas nikmat dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, bekerja keras, sabar, tawakal dalam menghadapi kehidupan dan selalu waspada dengan pengaruh negatif, belajar dari umat terdahulu.

Dengan puasa Ramadhan kita dapat kendalikan hawa nafsu, dengan zakat fitrah kita sucikan jiwa, dengan zakat maal kita sucikan harta kita dari hak orang lain. Melalui Ramadhan kita diajarkan merasakan penderitaan dan kepedihan orang yang lapar dan miskin. Mudah-mudahan dengan kesabaran, ketekunan, kebersamaan, dan kepedulian kepada sesama cobaan yang diberikan oleh Allah Swt dapat kita lalui dengan sebaik-baiknya dan gelar taqwa kita raih.

Dengan momentum Idul Fitri kita perbaiki diri dan kita perbaiki bangsa dengan semakin bersyukur, melaksanakan perintah menjauhi larangan, insya allah Allah Swt akan membukakan pintu barokah kepada kita semua.

Akhirnya marilah kita mohon kepada Allah, agar masyarakat kita, bangsa kita menjadi bangsa yang pandai bersyukur, sehingga Allah limpahkan barokah nikmat yang berlimpah-limpah, dijauhkan dari segala bentuk kesulitan maupun bala bencana-goda rencana, dikokohkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, dilapangkan rizkinya, diridhai segala ikhtiarnya dalam rangka memakmurkan kehidupan kini dan masa depan. Taqabbalallahu minna wa minkum minal ‘aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s