KONTRIBUSI AGAMA DALAM MENCIPTA PERDAMAIAN

Oleh Muhammad Julijanto

Arus reformasi merupakan pintu gerbang bagi bangsa Indonesia untuk menelaah kembali perjalanan panjang sejarah bangsa menuju cita sebagai bangsa beradab dan bermartabat di mata rakyatnya dalam percaturan regional maupun internasional. Sebab euforia reformasi tidak memberi makna yang positif, jika tingkat daya hidup bangsa semakin rendah dan daya saing semakin tidak berarti. Apalagi tingkat keamanan, kedamaian dan kesejahteraan tidak dapat berjalan dengan baik.

Apa yang menjadi persoalan dalam bidang kebudayaan dan perdamaian yang menjadi agenda bersama. Perdamaian adalah dambaan semua orang, tidak mengenal struktur sosial. Sebab kehidupan yang damai dan tenteram merupakan kebutuhan naluri manusia untuk mencapainya. Goresan sejarah kemanusiaan sering tercoreng dengan munculnya beraneka konflik yang terjadi di tengah masyarakat. Apapun penyebab konflik yang terjadi. Hal tersebut harus diminimalisir dan dihindari oleh semua kelompok maupun komponen bangsa.

Semakin plural dan kompleknya masyarakat, maka tingkat konflik akan semakin tinggi peluangnya, sebab persinggungan berbagai kepentingan akan terjadi dengan intensitas dan kualitas yang lebih tinggi. Masyarakat kota akan lebih tinggi tingkat konfliknya dibanding dengan masyarakat desa yang lebih homogen penduduknya. Bagi bangsa maju konflik dapat terkendali dengan baik sebagai unsur dinamika masyarakat sebaliknya bangsa berkembang konflik bisa sebagai ancaman dan mengahambat kemajuan yang tidak kunjung didapat.

Dari sinilah kita dituntut untuk memahami pluralitas, konflik, perdamaian dan rekonsiliasi secara arif. Persoalan pluralitas dalam konteks masyarakat modern harus dimaknai sebagai suatu hukum keharusan sosial. Sebab keragaman dalam masyarakat adalah sunatullah yang harus terjadi di tengah kehidupan manusia. Pluralitas merasuk ke semua lini kehidupan manusia, seperti; pluralitas dalam keluarga, pluralitas beragama (teologi-kepercayaan), kebudayaan, ideologi politik, maupun pandangan politik serta paradigma yang digunakan dalam melihat realitas sosial, pandangan politik , pluralitas bangsa dan negara dan lain sebagainya.

 

Konflik dan Ketegangan

 

Peristiwa konflik sosial yang mengemuka di tengah masyarakat sering dikonotasikan sebagai gerakan keagamaan, harus diteliti secara cermat latar belakang serta faktor yang minimbulkannya secara obyektif. Berapa kadar prosentase faktor keagamaan dibanding faktor-faktor yang lain. Libanon misalnya, yang terdapat konflik antara Kristen, Syiah dan Sunni. Adalah bersumber dari perbedaan suku-suku yang sudah ada sebelumnya yang akhirnya di balut dengan ambisi kekuasaan serta interest ekonomi. Kini konflik Israel vs Libanon berkaitan dengan konflik Timur Tengah yang selalu pasang surut begitu ada pemicu ketegangan mudah terjadi. Konflik di Ambon yang bermula dari orang mabuk semestinya tidak berkembang menjadi konflik agama. Begitu juga di Irlandia Utara, dengan maksud mengembangkan ekspansinya kerajaan Inggris masuk wilayah ini. Irlandia Utara yang beragama Katolik mengukuhkan identitas agamanya untuk menghadapi Inggris yang kebetulan beragama Kristen Protestan.

Jadi agama hanya sebagai faktor yang mengintegrasikan solidaritas bangsa Irlandia Utara. Kasus perang Iran vs Irak dilihat dari kerangka ini pula. Faktor nasionalisme ras, sosial dan ekonomi akan lebih menonjol dibandingkan faktor perbedaan faham Syiah dan Sunni. Dengan menggunakan kerangka pikir ini Indonesia tidak perlu banyak merasa bersalah karena adanya beberapa gerakan memakai nama agama (Kuntowijoyo, 1986: 8).

Geertz mengidentifikasi ada beberapa faktor yang mempertajam konflik dan faktor yang dapat mengurangi konflik. Faktor-faktor yang mempertajam konflik antara lain; konflik ideologis yang mendasar karena rasa tidak senang terhadap nilai-nilai kelompok lain, sistem stratifikasi sosial yang berubah dan mobilitas status yang cenderung untuk memaksakan adanya kontak di antara individu-individu dan kelompok-kelompok yang secara sosial dulunya sedikit banyak terpisah, perjuangan mencapai kekuasaan politik yang semakin tajam untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pemerintah kolonial, yang cenderung mencampur-aduk perbedaan-perbedaan agama dengan kepentingan politik. Kebutuhan mencari kambing hitam untuk memusatkan ketegangan akibat perubahan sosial yang begitu cepat.

Sedangkan faktor yang mengurangi konflik antara lain; memiliki rasa kebudayaan yang sama, yang meliputi tumbuhnya rasa nasionalisme yang tinggi, yang menekankan apa yang oleh semua orang Jawa telah dimiliki daripada menekankan perbedaan-perbedaan. Adanya fakta bahwa pola-pola keagamaan tidak muncul dalam bentuk-bentuk sosial yang bersifat langsung, murni dan sederhana, tetapi dalam bentuk-bentuk kesalehan tertentu, sehingga komitmen keagamaan dan komitmen-komitmen lainnya dapat saling mengimbangi dan melengkapi. Adanya toleransi umum yang didasarkan atas suatu “relativisme kontekstual” yang menganggap nilai-nilai tertentu sesuai dengan konteksnya dan dengan demikian memperkecil “misionisasi”. Pertumbuhan mekanisme sosial yang mantap menuju kepada bentuk-bentuk integrasi sosial yang majemuk dan nonsinkretis yang di dalamnya orang-orang yang memiliki berbagai pandangan sosial dan nilai-nilai dasar yang satu sama lain untuk menjaga agar masyarakat tetap berfungsi (Geertz dalam Robertson, 1995 : 208).

 

Budaya kekerasan

 

Konflik tidak menjadi masalah, jika konflik mampu dikelola sebagai unsur dinamika dalam mengembangkan kelompok secara intern maupun eksteren selama tidak menjadi bumerang bagi komunitas maupun sistem sosial yang sudah terjalin dengan baik. Konflik sering kali sangat tipis perbedaannya dengan silang pendapat, perbedaan kepentingan, sehingga dapat menimbulkan tindak kekerasan, penganiayaan, rasa permusuhan dan menggumpalnya semangat kanibalisme terhadap keberadaan kelompok lain. Dalam konteks ini konflik cenderung destruktif.

Managemen modern kini mulai mengembangkan bagaimana suatu konflik dapat dikelola sebagai unsur dinamika dalam kelompok secara mandiri maupun dalam komunitas yang disebut sebagai negara. Konflik yang berakhir dengan kekerasan sangat membahayakan keutuhan suatu komunitas, jika konflik menyeret massa untuk melakukan tindak kekerasan, maka pangkal dari kekerasan yang besar adalah disintegrasi sosial.

 

Perdamaian dan rekonsiliasi

 

Agama pada dasarnya berfungsi integrative pemersatu bagi suatu komunitas masyarakat maupun bangsa tertentu. Tetapi ia juga bersifat disintegratif pemecah belah apabila tidak dikelola oleh para elit agama dan pemeluknya secara baik dan benar. Geertz menyatakan bahwa agama sebagai sebuah symbol yang berfungsi untuk membangun perasaan dan motivasi yang penuh kekuatan, pervasive dan tanpa akhir dalam diri manusia dengan merumuskan konsep-konsep ini dengan suatu aura faktualitas sehingga perasaan dan motivasi di atas secara unik nampak realistis.

Sejarah sosial masyarakat agama di berbagai belahan dunia tidak pernah lepas dari konflik, baik yang bersumber dari perbedaan agama, pemahaman keagamaan maupun yang disebabkan oleh faktor non keagamaan seperti etnis, politik dalam negeri, politik internasional ekonomi, budaya dan lain sebagainya.

Cara pandang sosiologis menempatkan agama sebagai salah satu variable pembentuk konflik. Sementara cara pandang teologis mengatakan bahwa semua agama yang dibawa oleh para utusan Tuhan ke muka bumi pada hakikatnya berada dalam misi universal yang sama, yaitu; memberi afirmasi terhadap kebutuhan spiritual manusia, yang bersifat universal karena didasari oleh struktur apriori yang esensial, yaitu sensus religious, kepekaan terhadap segala sesuatu yang bersifat illahiah. Kedua, agama diharapkan mampu mewadahi bagi terimplementasikannya amal-amal sosial dan kemanusiaan. Kedekatan dengan Tuhan tidak hanya dapat dibangun melalui ritus-ritus atau upacara-upacara keagamaan yang ketat, melainkan juga bisa dicapai melalui penciptaan harmoni sosial, pembelaan terhadap keadilan dan penindasan (kelompok mustad’afin) ataupun pengentasan sesama manusia dari keterbelakangan, kemiskinan. Agama kemudian mengemban misi penyelamatan (the salvation of man) di dunia fisik dan dunia metafisik (Syamsul Arifin, 1997: 4).

Secara teologis pula agama mempunyai peran mengupayakan perdamaian, oleh karena itu Hans Kung mengusulkan adanya etik global. Etik global yang bersumber dari doktrin agama-agama. Menurut Kung doktrin, dogma dan agama-agama biasanya memiliki perbedaan yang amat mendasar, tetapi dalam aspek etika dan perilaku, agama-agama memiliki banyak aspek yang sama. Etika global dibutuhkan agar manusia dapat hidup dan bekerja sama dalam melindungi terutama kemanusiaan dan lingkungannya. Namun etika global sama sekali bukan untuk mereduksi (etika-etika) agama ke level yang semata-mata bersifat moral atau manusiawi. Tetapi etik global bersifat antroposentris dan cosmoantroposentris (St. Sunardi dalam Th. Sumartan, t.t. : 90)

Etik global mempunyai tujuan ganda; yaitu untuk menjalin perdamaian di antara agama-agama dan untuk mengobati dunia yang mengalami krisis makna, nilai, norma dan krisis keadilan dan perdamaian dunia. Semua agama mempunyai tanggung jawab yang sama dalam menciptakan perdamaian. Sarananya melalui media dialog secara terus-menerus dalam upaya mencari konsesus moral di antara agama-agama dunia. Bassam Tibbi menyebut etik global dengan moralitas internasional, dimana moralitas tersebut harus berdasarkan pada hak asasi manusia. Hak asasi manusia tidaklah hanya terbatas pada satu komunitas agama tertentu, tetapi merambah semua agama dan semua komunitas. Tidak memandang siapa yang mampu menguasai dunia maka sah untuk menindas yang lain, tetapi persamaan dalam mencapai kesejahteraan.

Konflik harus diiringi dengan semangat rekonsiliasi dari berbagai element, adapun bentuk rekonsiliasi adalah mengembangkan sikap toleransi, penyamaan persepsi berbagai pihak yang terlibat konflik. Sedangkan konflik yang terjadi menggunakan issue agama, maka bentuk rekonsiliasinya dengan dialog antaragama, dialog harus tetap dilakukan sebagai upaya mencari kesepahaman, dan mencari aksi bersama yang dapat menyentuh segala kepentingan serta  menghilangkan kecuriagaan yang selalu timbul tenggelam.

Tawaran solusi yang lain guna mencegah timbulnya kekerasan di masyarakat adalah rekonsiliasi. Upaya rekonsiliasi yang mampu menjawab persoalan bangsa ini berdasarkan pada karakteristik budaya lokal setempat. Yaitu rekonsiliasi yang memanfaatkan budaya lokal sangat memungkinkan untuk dilaksanakan, mengingat era otonomi daerah memberikan kebebasan dalam mengekspresikan budaya daerah. Sebab rekonsiliasi dengan menggunakan budaya lokal akan lebih mudah dipahami oleh masyarakat lapis bawah dan lebih sesuai dengan kondisi lingkungannya (Soedarmono, 2001: 1-7).

Setiap daerah mempunyai potensi dan sumber daya yang berbeda-beda, sehingga dengan memanfaatkan potensi daerah model rekonsiliasi konflik dapat disesuaikan, seperti halnya di Surakarta rekonsiliasi dalam bentuk perkampungan. Model penataan kota Projo Kejawen dengan penataan kota kolonial, rekonsiliasi antara model abangan dengan Islam, rekonsiliasi antara etnis Cina-Jawa (kampung Balong dan Pasar Ghede), rekonsiliasi antara etnis Arab-Jawa (kampung Pasar Kliwon dan Pasar Klewer). Selain itu juga silang antar etnis, silang antar agama, silang antar status social (kampung Kemlayan) juga terdapat di kota Surakarta. Masih banyak lagi model kampung yang merupakan bentuk rekonsiliasi. Hal itu menunjukkan bahwa seluruh bangunan dan komunitas masyarakat selalu memperhatikan sentuhan-sentuhan rekonsiliasi.

Selain itu, di tingkat warga masyarakat sendiri sebenarnya telah terbangun pola relasi yang mereka ciptakan untuk menjembatani komunikasi antar kelompok yang berbeda. Komunitas itu misalnya, munculnya Forum Suari Hati Kebersamaan Bangsa (lintas agama dan lintas etnis), Perkumpulan Teng Lang (asimilasi etnis Ciina-Jawa), atau organisasi lain yang tidak memiliki nama. Pada umumnya berbagai komunitas itu lintas sektoral, lintas agama, lintas etnis dan lintas golongan.

Agenda persoalan keamanan, kedamaian dan kesejahteraan merupakan ending dari segala solusi untuk dirujuk. Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bersama; Pertama, meminimalisir konflik sedemikian rupa, sehingga ketahanan masyarakat dan persatuannya dapat terjaga dengan benar. Pemahaman bahwa konflik bukan suatu ancaman terhadap keutuhan, tetapi sebagai suatu mekanisme sosial untuk melakukan kontrol dan kanalisasi dari kebekuan sosial maupun politik termasuk masalah ekonomi.

 

Kedua, mencari unsur perekat bersama yang mampu mengikat semua kepentingan yang lebih luas, yaitu kemanusiaan, kemerdekaan, keadilan dan persatuan, inilah nasionalisme yang dapat mengikat semua warga bangsa tanpa kecuali. Unsur perekat yang lain menjadi unsur dinamis antara lain; solidaritas sosial, rasa senasib, etnis dan primordial agama. Ketiga, agama dapat dijadikan sebagai pendorong keamanan, kedamaian, kesejahteraan dan solidaritas sebagai perekat umat, jika pemahaman keagamaan yang dikedepankan adalah sikap inklusif dan positif dalam menjalankan ajaran agama. Sehingga teologi yang dibangun adalah teologi pluralisme. Keempat, dari semangat agama-agama membangun konsesus moral guna merumuskan etika global yang dapat diaplikasikan secara mendunia. Kelima, setiap konflik harus diiringi kesadaran rekonsiliasi, sehingga tidak berlarut-larus menjadi disintegrasi social.

Akhirnya tidak ada upaya yang sia-sia bagi anak bangsa dalam memperjuangkan idealisme perjuangan menuju kehidupan bangsa gemah ripah loh jinawi tata tentrem tata raharja sebagaimana tergambarkan dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua agama mengajarkan kedamaian dan kesejahteraan bagi sesama. Tidak ada agama yang mengajarkan konflik dan permusuhan. Kesejahteraan dan kedamaian adalah semangat sejati agama. Hanya kesadaran kemanusiaan yang beradablah yang dapat mengatar bangsa ini menjadi bangsa yang besar dalam percaturan regional maupun internasional diperhitungkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s