KEARIFAN LINGKUNGAN

Oleh Muhammad Julijanto

الْحَمْدُ ِللهِ اَّلذِّى اَمَرَنَا بِمُرَاعَاتِ اْلاَمْوَالِ وَ اْلعِقَارِ اْلمَمْلُوْكَاتِ وَ اْلاَوْلاَدِ اْلبَنِيْنَ وَاْلبَنَاتِ وَاَنْ نُرَبِيَهُمْ بِاْلاَخْلاَقِ وَاْلحَسَنَاتِ. وَنُبْعِدَهُمْ عَنِ اْلمَعَاصِى وَاْلمُنْكَرَاتِ. أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ خَالِقُ اْلاَرْضِ وَ السَّمَاوَاتِ. أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَفْضَلُ اْلخَلْقِ وَاْلمَخْلُوْقَاتِ. أَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَمْجَادِ. أَمَّابَعْدُ. فَيَاعِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْمُبِيْنَ. فَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. وَاتَّقُوْنِى يَأُولِى اْلأَلْبَابِ.

 

Jama’ah jum’ah tamu undangan Allah yang berbahagia

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah Swt atas segala nikmat dan karunia yang tak terhingga. Nikmat Allah terbesar dan sempurna kepada hambaNya, maka bagi orang-orang yang diberi rizki pertolongan semacam itu haruslah benar-benar menjaganya, memperhatikannya dan melindunginya dari berbagai hal yang dapat menghancurkan keberadaannya.

Rasulullah Saw bersabda: Dua nikmat yang sering tidak diperhatikan oleh kebanyakan manusia, yakni kesehatan dan waktu luang. (HR Bukhari).

Oleh karena itu kita manfaatkan nikmat tersebut untuk kehidupan yang lebih baik dan selamat. Yaitu keselamatan dunia dan akherat bersama-sama. Kebaikan hamba di dunia tidaklah sempurna tanpa didasari keyakinan dan keselamatan. Sebab keyakinan yang benar akan menghindarkan dari siksa akhirat dan keselamatan yang akan menghindarkan dari berbagai penyakit dunia: penyakit hati dan penyakit badan. 

Shalawat serta salam tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad Saw sang pencerah kehidupan, pembawa obor kebanaran yang menerangi carut marutnya orientasi manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan. Ajarannyalah yang kita yakini bisa membawa kondisi alam dan lingkungan semakin baik untuk hunian manusia. Sebaliknya meninggalkan ajarannya semakin menghancurkan keberadaan alam sekitar yang menyebabkan kerusakan dan kehancuran

Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt dengan cara mengamalkan perintahnya, menjauhi larangannya, melanjutkan misi kenabian Rasulullah Muhammad Saw dengan berakhlak al karimah-akhlak yang terpuji. Sebab dengan akhlak al karimah insya Allah kehidupan dunia ini akan semakin tertib, semakin damai dan sejahtera.

 

Jamaah jum’ah yang dirahkamati Allah

Ijinkan melalui khutbah ini membahas Kearifan Lingkungan. Persoalan lingkungan adalah berkurangnya  daya dukung alam untuk kehidupan. Krisis lingkungan telah diakui sebagai fenomena global dan telah sampai pada tingkat yang sangat membahayakan keselamatan manusia di bumi. Krisis lingkungan bukan merupakan  persoalan suatu bangsa, ras, agama atau kelompok tertentu.

Ia menjadi masalah bersama dan memerlukan kerjasama global untuk mengatasinya terlepas dari sekat-sekat besar umat manusia dituntut memberikan kontribusinya dalam tindakan bersama atasi krisis lingkungan. Hal demikian, karena usaha-usaha politik dan hukum  sekuler dianggap tak memadai lagi dalam menyelesaikan tragedi-tragedi lingkungan yang dewasa ini telah mengancam kepunahan ras manusia di bumi.

Apa yang menyebabkan kerusakan lingkungan, dan apa akibat dari kerusakan lingkungan? Bagaimana ajaran agama memberikan pedoman dan tuntunan dalam pengelolaan lingkungan sustainable bagi kelangsungan generasi manusia?

Jamaah yang berhagia

Konservasi alam bukan saja dilakukan melakukan aktivitas-aktivitas fisik dan teknologi, tetapi juga melalui keterlibatan non-fisik, yakni kearifan. Kearifan sangat terkait dengan dimensi batin, kesadarn, doktrin, dan spiritual. Ia berasal dari nilai-nilai ajaran agama. Itu sebabnya, krisis lingkungan yang terus berlangsung secara sistemik harus dicegah melalui cara-cara yang tidak biasa dan menusuk ke inti persoalan, yakni menyembuhkan krisis spiritual. Karena krisis lingkungan merupakan cermin krisis spiritual.

Tauhid adalah acuan seluruh tindakan manusia terhadap Tuhan dan alam. Karena memancarkan aspek khalifataullah fil ‘ardh yang secara bertanggungjawab mengelola dan memanfaatkan sumber daya-sumber daya alam secara baik serta seimbang. Pengelolan lingkungan dilakukan sebagai sikap hormat dan syukur atas Sang Pencipta dan bentuk belas kasih rahmatan lil’alamiin kepada alam lingkungan.

Operasi dan implementasi tauhid, syukur, khalifatullah, dan sikap belas kasih adalah manifestasi dari amanat serta sikap ihsan.

Allah telah mengajari manusia apa yang belum mereka ketahui. Dia juga menundukkan untuk manusia kekuatan alam yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kemudian menyediakan pula modal dasar bagi perkembangan teknologi, elektronika, serta biologi, yang mampu mengantarkan setiap khalayan menjadi kenyataan. Namun manusia belum membalas segala nikmat tersebut dengan ekspresi kesyukuran yang layak. Mereka pun belum memanfaatkannya untuk beramal di jalan yang disukai dan diridhai Allah. Bahkan sebaliknya, mereka cenderung menggunakan semua itu di jalan yang dibenci Allah. Maka karunia Allah yang semula berupa nikmat diubah menjadi bencana. Dan ilmu pengetahuan berikut pengembangannya menjelma sebagai alat untuk menghancurkan, bahkan sebagai alat untuk membangun dan berproduksi.

Allah Swt berfirman dalam surat At Taghabun 11: Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia memberi petunjuk kepada hatinya.

Iman yang mantap akan menumbuhkan sikap mawas diri serta kesadaran yang hidup, sehingga manusia lebih mampu mengontrol dirinya sendiri, dan takut kepada Allah melebihi rasa takutnya kepada sesama manusia. Begitupun, ia akan mendahulukan perbuatan-perbuatan yang diridhai oleh Allah daripada perbuatan yang disukai manusia.

Iman adalah komitmen yang tumbuh dalam diri manusia, mengarahkannya kepada kebajikan, menjauhkannya dari angakara murka, serta mampu menyucikan jiwanya. Allah berfiman dalam surat Asy Syamsu 9-10:

Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.

Persoalan lingkungan pada dasarnya adalah persoalan moral. Dan solusi yang paling efektif ternyata bergantung pada moralitas manusia, yaitu dengan cara revitalisasi nilai-nilai moral, keadilan, kebaikan, kasih-sayang, keramahan, sikap tidak sewenang-wenang, dan seterusnya.

Allah Swt berfirman dalamasurat Al Maaidah: 15-16:

15. Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan[408].  

 

16. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Al Quran dan sunnah secara bersama-sama telah memberikan perhatian yang mendalam terhadap masalah lingkungan. Perhatian ini tentu  sangat menarik untuk diketahui oleh para peneliti yang obyektif.

Al Quran berkali-kali melarang manusia agar tidak merusak ciptaan Allah di bumi. Sebab semua itu dijadikan bukan hanya untuk mereka, tetapi juga untuk generasi-generasi selanjutnya, agar mereka dapat memanfaatkannya. Allah tidak senang pada perusakan dan pelakunya; baik perusakan berupa pengotoran, ketidakadilan, ataupun penyalahgunaan lingkungan dari tujuan penciptaannya. Perbuatan tersebut merupakan salah satu bentuk sikap kufur nikmat yang bisa mendatangkan siksa-Nya.

Sebagaimana contoh peristiwa yang pernah menimpa kaum ‘Ad, kaum Tsamud, dan kaum-kaum lain setelahnya, “yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, mereka banyak menimbulkan kerusakan karena itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi (Al Fajr : 11-14)

Di antara siksa Allah yang pernah menimpa mereka adalah hukuman yang diterima oleh penduduk negeri Saba’. Negeri ini dihuni oleh kaum yang tidak mau melaksanakan hak-hak tanahnya yang subur, air yang segar, dan kebun yang menghijau yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka. Mereka berpaling, membiarkan, dan tidak memanfaatkan sumber-sumber kenikmatan, Allah berfirman (Saba’ : 15-17).

 

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsi dan pohon sidr. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu) melainkan hanya kepada orang yang sangat kafir.

Perhatian Islam terhadap lingkungan luar biasa. Ketika jamaah haji melakukan ihram haji, supaya menghormati hewan dan tumbuhan yang ada di lingkungan mereka. Karena itu mereka dilarang membunuh binatang buruan dan memotong kayu yang ada di tempat tersebut. Allah berfirman:

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram.

Konteks hukum haram yang diberilakukan di kota Makkah (lingkungan yang dilindungi) juga berlaku untuk penduduk-penduduk lain. Karena itu mereka juga tidak dibenarkan membunuh hewan kecuali yang berbahaya dan tidak boleh memotong tanaman kecuali tanaman yang berbahaya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jabir RA bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa di antara orang Islam yang menanam tanaman maka hasil tanamannya yang dimakan akan menjadi sedekahnya, dan hasil tanaman yang dicuri akan menjadi sedekah. Dan barangsiapa yang merusak tanamannya, maka akan menjadi sedekahnya sampai Hari Kiamat (HR Muslim).

Oleh karena itu tanggungjawab seseorang tidak hanya terbatas kepada masyarakat manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk yang bernyawa. Bahkan meliputi pemeliharaan dan penjagaan benda-benda mati.

Berbagai macam bencana yang muncul seakan merupakan peringatan Allah Swt, bahwa kita sebagai hamba telah mulai meninggalkan-Nya, kita mulai asyik dengan kehidupan duniawi, melupakan atau menyepelekan kewajiban-kewajiban sebagai makhluk ciptaan-Nya. Bahkan bukan saja melupakan kewajiban, tetapi kita sudah berani terang-terangan menentang berbagai syari’at-Nya.

Berbagai penyimpangan dan kejahatan mewarnai perjalanan tahun ini. Mulai dari kasus korupsi, pembalakan liar, penggundulan hutan, pornografi, dekadensi moral, dan lain-lain. Berbagai penyimpangan itulah yang semakin menjauhkan negeri kita dari keberkahan.

Oleh karena itu marilah kita jaga lingkungan agar tetap memberikan daya dukung kehidupann dan terhindar dari bencana karena kerusakan lingkungan. Dengan mengamlakan ajaran islam secara baik dan benar. Melanjutkan misi perjuangan Rasulullah muhammad Saw dengan akhlakul karimah.

Jama’ah jum’ah yang dirahmati Allah

Sebagai kesimpulan khutbah di atas, antara lain:

 

Pertama, Bencana yang terjadi merupakan ujian dari Allah Swt kepada manusia untuk menguji sejauhmana keimanan kita kepadaNya, apakah kita tetap tabah, istiqamah, bersyukur, atau kufur, dan berbuat maksiat kepada-Nya.

 

Kedua, ibadah haji dan Ibadah kurban sebagai manifestasi iman dan ketaatan kepada Allah Swt. Kita sembelih nafsu-nafsu hewaniyah yang ada pada diri kita dan kita ganti dengan nafsu mutmainnah. Agar kita cenderung kepada kebaikan dan kebenaran.

 

Ketiga, Sebagai solusi masalah bangsa dan masyarakat, dengan beriman secara benar, bertaubat dari segala bentuk kemaksiatan yang telah kita lakukan, senantiasa bersyukur atas segala anugerah, secara sosial kita tingkatkan kepedulian dan solidaritas sosial, senantiasa berakhlakul karimah, selalu menjaga kelestarian lingkungan hidup, sehingga masyarakat akan damai, sejahtera dan selalu dalam lindungan Allah Swt.

Akhirnya marilah kita mohon kepada Allah Swt agar apa yang kita lakukan senantiasa membawa kemanfaatan, mendapatkan kebaikan dan keselamatan, semoga saudara kita yang menunaikan ibadah haji dari persiapan berangkat, pelaksanaan rukun, wajib dan sunnah haji dengan tertib lancar dan sehat serta sekembalinya dari tanah suci menjadi haji mabrur, membawa kemanfaatan bagi diri maupun masyarakat. Bagi saudara kita yang sudah penah menunaikan ibadah haji bisa mempertahankan kemabrurannya dengan menjadi suriteladan di tengah masyarakat memakmurkan kehidupan keagamaan, memberikan kemanfaatan yang lebih terhadap masyarakat bangsa dan negara. Bagi kita yang belum menunaikan ibadah haji dilapangkan rizkinya dan dimudahkan dalam segala usahanya, sehingga pada waktunya dipanggil Allah Swt untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, dan bagi saudara kita yang menghadapi musibah diberi ketabahan, kesabaran dan dimudahkan dalam usahanya untuk bangkit dan kembali berkarya untuk memenuhi hajad hidupnya secara normal, dan semoga kita dijauhkan dari segala musibah dan bala bencana.

اَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم  

  بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِى وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَ الذِكْرِ اْلحِكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْ كُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ  

 

Khutbah Kedua

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِى اَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَائِيْتَاءِذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لِيُخْرِجَنَا مِنَ الضُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ وَيَجْعَلَنَا مِنْ خَيْرٍ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهِ وَاحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ, اَفْضَلِ الْخَلْقِ وَ الْمَخْلُوْقَاتِ. اَمَّابَعْدُ.

فَيَااَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ حَيْثُ مَاكُنْتَ وَاتْبِعُوا السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقُوا النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّا بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَضِيْمِ: اِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا اَيُّهَا الْذِيْنَ اَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمُ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَاجْعَلْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُّوَافِ نِعَامَهُ وَيُكَافِ مَزِيْدَ يَارَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَايَنْبَغِ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَضِيْمُ السُّلْطَانِ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ َاْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبُ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَاقَضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكَ الْكَفَارَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا جَمْعًا مَغْفُوْرًا وَتَفَرُقَنَا بَعْدَ هَذَا تَفَرُقًا مَرْحُومًا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمِنَا هَذَا أَوَّلُهُ صَلاَحًا وَأَوْسَطُهُ فَلاَحًا وَاَخِرُهُ نَجَاحًا بَاهِرًا بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ ارْزُقْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَشَأْيًا مَشْكُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَتِجَارَةً لَمْ تَبُوْر. اَللَّهُمَّ بَلَغْنَا زِيَارَةَ الْحَرَمَيْنِ. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَخَسُّوعَنَا وَجَمِيْعِ عِبَاذَتَنَا وَتَمِّمُ تَكْثِيْرَنَا يَاالله. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةَ حَسَنَةً وَقِنَا عَدَابَ النَّارِ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s