Tradisi Intelektual Mahasiswa Tantangan Kaderisasi HMI

Oleh Muhammad Julijanto

 Menarik penyataan Ketua Umum DPP Partai Demokrak Anas Urbaningrum yang juga mantan Ketua Umum PB HMI “Tradisi menulis harus dipaksa untuk bisa dilakukan semua kader. Menurutnya, tradisi menulis ini tidak perlu diganti dengan tradisi menulis SMS. “Menulis status di Facebook dan twitter penting, tetapi jangan sampai menggeser tradisi menulis,” (Republika, 6/11)

Kemampuan menulis akan memudahkan mahasiswa untuk mengerjakan tugas akhir yaitu menulis skripsi, tesis hingga disertasi untuk mahasiswa program doktor. Terbukti banyak mahasiswa yang karya tulisnya skripsi, tesis maupun disetrasinya macet dan terseok-seok karena kesulitan untuk merumuskan pokok-pokok pikirannya secara tertulis. Ada satu kecenderungan yang meningkat dari putaran informasi dan hubungannya dengan tradisi menulis mahasiswa melalui media masa. Meksipun data ini belum dapat dikatakan valid, tetapi dapat meberikan prospek baru bagi mahasiswa yang mengembangkan tradisi menulis artikel, essai, cerpen, maupun puisi. Salah satu faktor yang dapat mengatrol pertumbuhan ini adalah terbukanya media masa dari harian umum hingga jurnal-jurnal ilmiah yang serius meberikan raung yang positif bagi wacana pemikiran mahasiswa melalui rubrik tersendiri maupun rubrik umum tetapi tulisan mahasiswa kontribusinya lebih luas, sehingga menempati artikel utama dalam opini media masa baik lokal maupun nasional. Bisa disandingkan pemikiran mahasiswa dengan para pakar dan ahli, bahkan para guru dan dosen mereka. Menumbuhkan motovasi menulis beraneka, namun salah satu yang bisa mengatrol adalah motivasi material bisa membangun kultur menulis mahasiswa secara lebih realistis. Karena mereka butuh buku-buku baru yang harus mereka beli dan tidak mungkin sepenuhnya disediakan oleh orang tua mereka masing-masing. Dengan cara menulis dan mengembangkan potensinya, maka secara tidak langsung sesungguhnya sedang membantu orang tua. Dan secara otomatis akan meningkatkan minat dalam belajar dan membaca serta mengurangi penggunaan waktu yang tidak efektif, lebih baik membaca dari melakukan kegiatan yang tidak berguna.

Gerakan mahasiswa Gerakan mahasiswa (GM) tahun 1970-an muncul dengan basis kelompok studi, sehingga dapur intelektual mahasiswa mampu menopang daya tahan gerakan mahasiswa dalam memberikan kontribusi kepada kemajuan masyarakat. Kelompok studi mahasiswa inilah yang memberikan ruang yang cukup bagi mahasiswa untuk mempertajam aktualisasi pemikiran melalui ketajaman menulis dan berdiskusi. Untuk menjalankan kedua kreativitas tersebut, maka kemampuan membaca merupakan kebutuhan dasar dalam rangka menopang penggalian gagasan-gagasan cemerlang developmentalisme. GM juga semakin kokoh dengan deinamika pers mahasiswa atau dengan istilah lain dikenal sebagai pers kampus. Dimana semua unsur pengelola berasal dari elemen mahasiswa baik intra kampus maupun ekstra kampus. Mereka mempunyai kemampuan jurnalistik yang baik termasuk di dalamnya kemampuan profesional dalam menulis artikel, melakukan liputan khusus, hingga mengisi semua halaman yang mereka disain sesuai dengan kreativitas dan selera mahasiswa. Pers mahasiswa/pers kampus mampu memberikan kontribusi terhadap bangunan tradisi intelektual termasuk dalam budaya menulis sangat besar.

Sebab totalitas managemen yang bertumpu pada sumber daya manusia mahasiswa tanpa intervensi pihak kampus atau rektorat. Pasang surut dan jatuh bangunnya pers mahasiswa seirama dengan pasang surut tradisi intelektual yang berkembang di kalangan pers mahasiswa. Pada tahun 1970-1980-an pers kampus muncul sebagai kekuatan yang cukup ampuh memberikan kontrol terhadap kekuasaan yang korup dan otoriter yang berimplikasi pada diberangusnya (di¬bredel) pers kampus tersebut, sebut saja seperti majalah Arena yang dipunggawai oleh mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dll. Apa yang dapat ditangkap dari fenomena pers mahsiswa, yaitu munculnya sikap kritis dan tradisi intelektual yang kokoh dalam membangun peradaban, maka dengan fakta sejarah itu tugas pokok rektoral juga sangat besar kontribusinya terhadap motivasi mengembangkan budaya menulis di kalangan mahsiswa dengan menyediakan alokasi dana khusus bagi penerbitan mahasiswa yang berkualitas. Dengan demikian secara otomatis mampu menyediakan tempat yang tersedia bagi tumbuhnya generasi sumber daya manusia yang peduli terhadap nasib bangsa dan rakyatnya. Membangun tradisi menulis mahasiswa bukan pekerjaan pada saat mahasiswa belajar di perguruan tinggi an sich, tetapi sangat didukung oleh pendidikan sebelumnya, yaitu tingkat pendidikan dasar dan menengahnya (SD hingga SMA/MA). Bagaimana wacana budaya berpendapat dan menuangkan gagasan secara tertulis sudah dilatih sejak dini dengan pelajaran mengarang secara khusus atau menjadi suplemen dalam pelajaran bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa asing yang diajarkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa berkualitasnya mahasiswa di pendidikan selanjutnya tergantung pada kultur pendidikan yang pernah dijalani yaitu pembelajaran di sekolah. Sedangkan di tingkat perguruan tinggi adalah mengembangkan serta memaksimalkan potensi yang sudah ada agar bisa berkontribusi yang lebih positif. Demikian juga hubungan majalah sekolah menempati peran strategis mengawali persinggungan siswa yang selanjutnya tumbuh melanjutkan studi di perguruan tinggi mengenal dunia jurnalistik. Maka peran sekolah cukup besar mengantarkan peserta didik yang berbakat mengembangkan bakat-minat serta keterampilan dengan bidang pers dan jurnalistik. Mengenalkan siswa dengan profesi penulis termasuk wartawan merupakan usaha dan upaya mencerdasakan bangsa, sehingga profesi wartawan bukan saja layak disebut sebagai guru? Yakni guru bagi bangsa dan masyarakatnya, mendidik melalui media massa.

Mengembangkan tradisi menulis di kalangan mahasiswa merupakan perwujudan tri darma perguruan tinggi menyebarkan ilmu dan memajukan masyarakat, dengan sikap kritis intelektual yang mereka peroleh dari proses selama bergelut di dunia kampus, jelas mempunyai nilai lebih menjadi advantage comparatis di masa yang akan datang. Sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia harus mengakui bahwa bentuk pilihan pertama dan digeluti secara sadar adalah bentuk gerakan mahasiswa dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai sarananya. Bentuk kedua yang dipilih mahasiswa adalah gerakan kelompok studi sebagai sarana penempa kemampuan intelektual. Jika bentuk LSM dilarikan pada terjun dan praktek langsung bersama problem masyarakat riil pada skala mikro untuk memperbaiki keadaan, maka kelompok studi lebih merupakan usaha reflektif dan analisis keadaan untuk selanjutnya dijadikan bekal guna melemparkan gagasan perubahan yang diusungnya. Gerakan kelompok studi lebih menguatkan basis ide dan kemantapan intelektual dibandingkan dengan gerakan LSM yang lebih menguatkan pada skill mengkomunikasikan gagasan perubahan secara langsung kepada masyarakat, sehingga pendekatannya lebih pada Participation Action Research (PAR)-penelitian untuk aksi. Dalam konteks inilah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sedang berkongres saat ini bisa memainkan peran keduanya yang bercorak keintelektualan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s