BERBUAT ADILLAH KAMU ?

Oleh Muhammad Julijanto
Berbuat adillah kamu sekalian, adil itu adalah paling mendekati takwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui dengan segala apa yang kamu lakukan”. (Al Maidah [5]: 8).

Berbicara penguasa yang adil dapat kami tampilkan Firman Allah dalam surat Al An’am [6]ayat 165 yang berbunyi sebagai berikut: Dan dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini memberi isyarat bahwa umat Islam akan menjadi penguasa-penguasa di muka bumi dengan melihat bentuk jamaknya yaitu khalaif, dan juga disebut bahwa beberapa derajat, maka sebagian kamu atas sebagian yang lain beberapa derajat, maka yang dituju di sini adalah umat manusia umumnya. Mereka itu berlomba-lomba untuk bisa memperoleh kekuasaan, dan yang satu mungkin lebih unggul dari pada yang lain.

Dawud AS dijadikan Allah sebagai raja Israil kepadanya diperintahkan agar mempergunakan kekuasaannya untuk memerintah umatnya secara adil. Disini kita bisa mengambil suatu makna bahwa asas pertama kekuasaan adalah keadilan, sebuah kekuasaan harus didasarkan atas keadilan. Kekuasaan harus dijalankan secara adil. Kekuasaan berfungsi untuk menegakkan keadilan.

Makna khalifah adalah Adam AS yang merupakan simbol manusia sehingga kita dapat mengambil kesimpulan bahwa manusia berfungsi sebagai khalifah dalam kehidupan. Khalifah yang berarti generasi penerus atau generasi pengganti.

Di tengah masyarak berkembang system pengangkatan pemimpin. Ada yang dipilih langsung oleh rakyatnya, ada yang merupakan warisan dari nenek moyangnya dari garis keturunan sang pemimpin. Memang sistem pemilu seperti dikenal sekarang dimana semua warga negara yang memenuhi syarat berdasarkan undang-undang, bisa ikut serta memberikan suara mereka secara langsung atau melalui partai politik, dalam memilih kepala negara atau kepala pemerintahan belum dikenal pada masa yang dulu. Tetapi proses pengangkatan seorang khalifah di masa itu terjadi melalui proses seleksi di antara orang-orang yang memenuhi syarat, dan bukan diwariskan secara turun menurun. Musyawarah adalah konsep kunci dalam proses itu.

Oleh karena itu setelah seseorang mencapai kekuasaan langkah berikutnya amanah yang berupa kekuasaan harus dikelola dan dijalankan dalam rangka menegakkan keadilan. Rasulullah Saw bersabda yang artinya, bahwa salah satu orang yang akan mendapatkan perlindungan disisi Allah ketika tidak ada perlindungan kecuali amal baktinya dahulu waktu di dunia adalah pemimpin yang adil, pemimpin yang dapat menempatkan amanah kepemimpinannya guna mencapai kemakmuran warganya.

Allah Swt berfirman dalam surat al A’raf [7] ayat 29 Katakanlah: “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”. dan (katakanlah): “Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. sebagaimana dia Telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)”.

Demikian juga setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas bagaimana anamah kepemimpinan itu dijalankan, apakah untuk kemakmuran dirinya atau kesejahteraan rakyatnya. Memang mewujudkan keadilan sangat sulit dan itu banyak tantangan dan hambatan, tetapi bukan tidak mungkin untuk dijalankan, selama pemimpin istiqamah dan membaktikan dirinya untuk masyarakat. Sekalipun pemimpin sudah berbuat adil harus disadari tidak semua orang merasa bahwa keadilan yang ditegakkan sama rasa sama rata, sehingga pemimpin juga siap menerima kritikan, masukan, saran, koreksi bahwa cacian dan makian dari rakyat yang dipimpinnya, maka sifat kepemimpinan yang legawa dan siap menanggung resiko yang terjadi dan lapang dada atas apa yang didarmakan untuk masyarakat.
Kita sadar bahwa manusia hanya bisa berikhtiar berusaha sekuat potensi dan dedikasi yang dimilikinya, sedangkan hasil akhir adalah hak mutlak dari Allah Swt mentakdirkannya. Rasulullah Muhammad Saw Bersabda : Orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah mereka berada di atas mimbar (panggung) yang terbuat dari cahaya yang gemerlapan, berada di sebelah kanan Allah. Padahal kedua tangan Allah adalah kanan (mulia). Mereka adalah orang-orang yang berbuat adil dalam memberikan hukum, berbuat adil kepada keluarga (istri-istrinya), dan adil terhadap apa yang menjadi kekuasannya (HR Muslim dan lainnya).

Akhirnya marilah kita mohon petunjuk kepada Allah Swt agar dimudahkan dalam menegakkan keadilan ditengah masyarakat, sehingga yang benar, nampak benar dan mudah untuk menjalankan, yang salah nampak salah dan ringan kita untuk menghindari, sehingga kepemimpinan yang berkeadilan dan adil dalam kemakmuran dapat terwujud dalam khasanah kehidupan di dunia dan selamat kelak di akherat nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s