SALAH BOLEH TETAPI BERBOHONG TIDAK BOLEH

Oleh Muhammad Julijanto

Beberapa waktu yang lalu tokoh lintas agama berkumpul dan mengeluarkan pernyataan bersama tentang kebohongan publik rezim Presiden SBY ? (Senin, 10/1/2011).

Satu ungkapan yang berbunyi al insanu mahalul khata’ wan nisyan- manusia adalah tempat salah dan lupa. Maka ada ungkapan juga pejabat kita banyak yang mengindap penyakit amnesia ketika sedang menjabat-mudah lupa terhadap janji-janji waktu kampanye dulu. Rakyat tidak menghujat, tetapi hanya memberikan kritik dan saran agar kata-kata kampanye direkam kembali dan ditayangkan kembali, sehingga sangat jelas apa yang mereka katakan, bagaimana hasil yang telah dicapai untuk mewujudkan pernyataannya dahulu. Bagaimana mewujudkan sisa masa jabatannya bisa memenuhi apa yang pernah mereka janjikan kepada rakyat. Supaya tidak ada kebohongan publik. Sehingga terlihat betul, mana yang bohongan saja, dan mana yang realitas atau faktanya demikian.

Kata-kata bohong kini sedang naik daun, seiring dengan ketidakberdayaan masyarakat mengontrol jalannya pemerintahan dalam menangani berbagai kasus hukum terutama yang berhubungan dengan korupsi, mafia hukum, mafia pajak, hingga persoalan moral semakin parah menjangkiti sistem birokrasi. Kebijakan satu lahir dari kebohongan yang dibuat untuk memproduksi kebohongan berikutnya.

Banyak kebohongan dalam penyelenggaraan negara, dimana banyak kasus hukum yang sudah pada tahap sidang di pengadilan tetapi tidak ada putusan yang menyatakan bersalah padahal benar-benar orang yang bersangkutan adalah melakukan kesalahan. Mengapa banyak kebohongan terjadi di sekitar kita bahkan hingga merambah pada penyelenggaraan negara?

Kasus korupsi yang menimpa para pejabat dari pusat hingga daerah adalah wujud dari kebohongan yang melanda negeri katulistiwa ini. Dengan bahasa lain manipulasi, Markup, Penyelewengan, Penyunatan, Penggelapan, Proyek fiktif, Gratifikasi (Solopos, 9/12/2010 hlm. 1) dll. merupakan bentuk kebohongan dalam laporan keuangan.. Dimana birokrasi tidak melakukan kebohongan. Disitulah yang tidak mungkin dilakukan. Sehingga kebohongan menjadi kewajaran yang menyebabkan akumulasi yang kronis di tengah masyarakat.

Bohong secara leksikal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yg sebenarnya. Secara psikologi kebohongan berakibat pada kebohongan berikutnya. Semakin orang mampu menyembunyikan kebohongannya, akan semakin sering orang tersebut akan berbuat bohong berikutnya. Dalam ungkapan lain dosa kecil yang tidak segera ditutupi dengan berlaku benar dan baik-taubat, akan mengakibatkan perbuatan jelek berikutnya. Akumulasi dosa kecil yang bertumpuk-tumpuk akan menyebabkan seseorang semakin nekat untuk melakukan dosa besar berikutnya. Kemampuan mencegah dan mengontrol diri adalah obat yang paling baik. Namun kontrol diri sangat tergantung kekuatan iman yang menghunjam dalam sanubari yang terdalam. Oleh karena itu dibutuhkan kontrol eksternal dari kalangan masyarakat yang berperan sebagai kelompok masyarakat sipil atau masyarakat madani yang peduli terhadap nasib bangsanya.

Pengakuan seseorang yang melakukan kejahatan dan bertaubat jauh lebih baik daripada mempertahankan kebenaran di atas kebohongan, yang suatu saat bila lupa dalam mempertahankan kebohongannya akan terungkap secara alamiah, karena kebohongan tidak akan langgeng, karena tidak mungkin orang selamanya akan berbohong. Karena sekali berbohong, orang harus konsisten dengan kebohongannya, sampai batas kemampuan mempertahankan kebohongan tersebut. Sebab jika orang tidak konsisten dengan kebohongannya, justru akan terbongkar kedoknya. Bohong adalah ketidakwajaran dari perilaku manusia, dan itu adalah perbuatan yang menyimpang, perbuatan yang salah dan mengandung bahaya.

Orang berbohong memakan energi yang lebih banyak daripada orang yang berlaku jujur, memang orang yang jujur awalnya berat banyak tantangan dan hambatan namun enak di akhirnya. Sebaliknya berbohong mungkin awalnya enak, nikmat, gagah dan terpandang namun pada hakikatnya justru sebaliknya berat dikemudian harinya. Dia akan menyerang dirinya sendiri-menjadi bumerang, karena kerapuhan manusia.

Sejarah telah membuktikan banyak orang jatuh karena kebohongan yang dibangunnya. Seperti ungkapan sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga. Kesalahan kecil yang selalu ditoleransi bisa menjadi sebab kegagalan. Kesalahan boleh terjadi asal dalam batas wajar, tetapi jika kesalahan dilakukan karena kebohongan menyebabkan kerusakan sistem yang hancur. Berimplikasi kacaunya masyarakat-chaos. Karena peran yang dimainkan hanyalah sekedar kamulfase-tipuan belaka, atau kebohongan belaka. Hanya permainan angka, hanya suatu rekayasa agar sesuai nalar, bukan berdasarkan kebenaran sejati. Suatu kenyataan bisa direkayasa agar bisa dinalar dan dilogika, tetapi kebenaran tidak bisa hanya direkasaya seakan-akan benar adanya, seperti halnya dalam konteks suatu dokumen itu benar, tetapi sejatinya adalah palsu, asli tapi palsu.

Dusta-Bohong dalam tinjauan Islam

Berkata dusta dan bersumpah palsu adalah merupakan dosa yang amat buruk dan cela yang sangat menyolok. Rasulullah Saw bersabda : Takultah kamu semua akan berkata dusta, sebab dusta itu sama dengan kecurangan dan keduanya ada di dalam neraka (HR Ibnu Majah dan Nasai). Nabi Saw bersabda : Sesungguhnya berdusta itu adalah salah satu pintu dari beberapa pintu kemunafikan (HR Ibnu ‘Adiy). Nabi Saw bersabda: Amat besarlah pengkhianatannya jikalau engkau mengatakan suatu percakapan kepada saudaramu yang ia dapat mempercayai kata-katamu itu, sedang engkau sendiri berdusta padanya dalam kata-katamu tadi (HR Bukhari).

Sebuah lagi sabda Rasulullah Saw. yaitu pesannya kepada Mu’adz bin Jabal: Saya berwasiat padamu agar tetap bertaqwa kepada Allah, benar dalam berkata-kata, menunaikan amanat, menepati janji, menyedekahkan makanan dan merendahkan diri (HR Abu Na’im).

Imam Al Ghazali pernah berkata: “Seyogyanya senantiasa mengadakan penelitian dalam segala urusan mu’amalatnya dengan setiap orang yang berhubungan dengannya. Ingatlah bahwa setiap orang itu pasti selalu diamat-amati oleh Allah Ta’ala dan akan diperhitungkan segala langkahnya. Oleh karena itu baiklah seseorang itu menyiapkan pertanggungan jawabnya untuk persediaan pada hari hisab, hari perhitungan alam yakni hari kiamat nanti”. (Muhammad Jamaluddin Alqasimi Addimasyqi, 1975: 315).

Bagaimana seorang pemimpin berdusta kepada rakyatnya. Dusta pada dasarnya perbuatan yang jelek dan dilarang agama, namun ada kalanya dusta juga dibolehkan dalam batas tertentu. Sebagai contoh berdusta sebabnya diharamkan, karena menyebabkan adanya kemadharatan pada orang yang diberitahu atau kepada orang lain. Tetapi ada juga dusta yang didalamnya mengandung kemaslahatan. Oleh sebab itu diizinkan. Bahkan dusta itu kadang-kadang menjadi wajib hukumnya, sekiranya dengan berkata benar, maka akan menyebabkan tertumpahnya darah seseorang. Misalnya orang yang sedang bersembunyi dari kejaran orang dzalim yang hendak berbuat aniaya kepadanya.

Sahabat Tsauban berkata: Dusta itu semuanya berdosa, kecuali dusta yang dimaksudkan untuk memberikan kemanfaatan kepada seorang muslim atau yang ditujukan untuk menolak suatu bahaya yang akan datang. Golongan salaf shalih menerangkan bahwa membelokkan kata itu dibolehkan untuk menghindarkan berkata dusta. Apabila seseorang terpaksa sekali harus berdusta, tetapi karena takut berdusta lalu dihindarinya dengan ucapan yang membelokkan. Jadi sekiranya tidak sangat terpaksa dan tidak ada kepentingan apa-apa, maka tidak bolehlah cara membelokkan ini ditempuh dan tidak boleh pula terang-terangan.

Oleh karena itu kebohongan harus dihentikan, apalagi kebohongan itu menjadi kebohongan publik.

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag adalah Sekretaris LBH Perisai Kebenaran, Wonogiri, Dosen IAIN Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s