REVITALISASI HMI SEBAGAI KADER UMAT DAN BANGSA

Oleh Muhammad Julijanto
(Ketua Umum Komisariat Walisongo IAIN Walisongo Semarang di Surakarta 1996-1997, Ketua HMI Cabang Surakarta 1997-1998, Ketua Umum LPLK HMI Cabang Surakarta 1998-1999, KAHMI Surakarta).

5 Februari adalah diperingati sebagai hari kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kini sudah 64 tahun dari tahun 1947 silam. Setiap ulang tahun harus ada refleksi, harus ada evaluasi, sehingga akan diketahui semangat zaman yang selalu membaru seiring dengan dinamika masyarakat.

Di tengah dinamika masyarakat akan terlihat sebuah organisasi mahasiswa dan gerakan mahasiswa apakah berjalan sesuai dengan visi, misinya yang telah terpatri dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga sebagai pendoman dan sebagai cermin dari derevasi program-program yang dilakuan dapatkah menyentuh subtansi atau hanya sekedar berjalan ala kadarnya tanpa adanya progres report.

Ulang tahun untuk mengukur sejauhmana kiprah dan sepakterjang organisasi dalam dinamika masyarakat, apakah yang dapat ditampilkan dengan pengembangan visi misi dan programnya. Jika HMI bisa mereposisi-merevitalisasi perannya dan selalu melakukan pembaharuan semangat maka revitalisasi visi, misi menjadi semangat yang terus membara dalam diri kader untuk meningkatkan peran dan pengembangan potensinya sebagai bagian dari pengembangan diri mahasiswa Indonesia, bila peran itu belum dilakukan oleh HMI berarti ada apa dengan HMI selama ini. Apa yang mereka kerjakan dan bagaimana tanggung jawabnya untuk menyediakan dan menyiapkan kader bangsa yang berkualitas baik secara akademik, insan pengabdi maupun insan spiritual.

Keislaman, keindonesiaan dan kebangsaan seharusnya menjadi tolok ukur apa yang telah dilakukan dalam rangka menyiapkan diri menjadi penyedia sumber daya manusia yang siap dengan kemandiriannya di tengah arus zaman yang makin material.

Gerakan intelektual yang dilakukan oleh HMI sejauhmana, siapa kader-kader bangsa yang berprestasi di pentas nasional menjadi mahasiswa yang akademik oriented dan mahasiswa yang haus akan kekuasaan sebagai kader politik dari partai politik yang setelah sebagai mahasiswa akan menerjunkan diri dalam dunia politk sebagai bagian dari anggota partai politik, apa sebagai bagian masyarakat yang menjadi insan pengabdi dengan sumber daya yang dimiliki berkiprah dalam bidang dunia kewirausahaan sebagai pengusaha yang handal dan jago dalam mengembangan ekonomi umat.

Gerakan pengkaderan yang dilakukan HMI dapat dilihat dari sejauhmana jumlah mahasiswa Indonesia yang terserap dan aktif sebagai aktivis mahasiswa dan berapa jumlahnya dari prosentase mahasiswa yang berkiprah dalam organisasi dengan jumlah mahasiswa yang hanya asik belajar dan studi di kampus tanpa tahu apa yang harus mereka perbuat untuk berpartisapsi sebagai organisasi mahasiswa.

Adalah factor historis yang mendorong lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam lintasan sejarah keormasyannya, yaitu visi keislaman. Islam yang dipahami oleh kelompok mahasiswa yang tergabung dalam wadah HMI telah mengokohkan pemahaman terhadap Islam, sehingga Islam sebagai salah satu sumber wacana yang tidak pernah kering dari nilai-nilai kemanusiaan dan sumber berbagai idea pembaharuan yang telah dipancangkan sebagai visi kedepan gerakan mahasiswa yang mencoba menggagas keberagamaan masyarakat bangsa Indonesia. Namun distorsi zaman telah meluluhkan wacana ini bergeser ke wacana politik yang terlepas dari visi humanismenya nilai yang coba ditawarkan melalui nilai Islam yang sarat dengan moralitas politik dan etika humanitas.

HMI yang dulunya sangat komit terhadap sosialisasi nilai-nilai keislaman kini telah luntur dan lepas dari predikat yang harus mereka pertaruhkan demi mencapai karier pribadi yang hanya sesaat dan kepentingan temporer, namun regenerasi yang mereka transfer pengetahuannya dan nilai yang harus mereka dapatkan dari seniornya, malah sesuatu yang lain dari kemahiran dalam berdebat an sich.

Kader Umat
Dalam khitahnya HMI menggariskan ada tiga wacana yang dikembangkan, antara lain; wacana keislaman, wacana kemahasiswaan dan wacana keindonesiaan. Pertama, wacana keislaman, bagaimana wacana keislaman dikembangkan sebagai semangat atau spirit bagi organisasi dalam menegakkan kebenaran Islam yang rahmatan lil’alamiin mampu diimplemantasikan dalam diri setiap kader HMI atau hanya sekedar lipstick dan pemanis mulut dalam bertutur kata tanpa menjadi laku yang konkrit dalam kehidupan social masyarakat. Ada sesuatu yang telah hilang dari wacana keislaman, yaitu antara pengembangan nalar dan dzikir dalam pertumbuhannya kurang seimbang pada hal kajian Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai nilai identitas kader telah dijelaskan bahwa kerja manusia adalah keterpaduan antara iman, ilmu dan amal secara totalitas dalam keseimbangan peran kemanusiaannya. Integritas seorang kader sama saja dengan integritas siapa saja berpangkal dari kesadarannya tentang apa makna hidup dan tujuan hidupnya.

Kedua, wacana kemahasiswaan, HMI yang basik masanya di perguruan tinggi, maka hubungan yang harmonis dengan kampus merupakan keharusan mutlak, agar HMI tidak ditinggal wadah dan sumber kadernya. Dalam konteks ini HMI harus mampu menangkap dan menganalisa akar masalah dari pendidikan tinggi, sehingga mampu memberikan masukan yang berarti bagi pendidikan di Indonesia yang lebih berkualitas. HMI mempunyai tugas berat dalam mengembangkan gerakan mahasiswa yang lebih konstruktif untuk menatap bangsa Indonesia kontemporer lebih canggih dan mempunyai berbagai keunggulan komulatif di tengah kemajemukan.

Ketiga, wacana keindonesiaan, sepak terjang HMI dalam wacana ini telah teruji dengan para politisi dan kadernya yang terserap dalam struktur birokrasi Negara, demikian hingga konteks ini sering menimbulkan berbagai kritik yang pedas terhadap kemandirian HMI.

Makna dalam konteks organisasi sangat dibutuhkan berbagai perangkat yang mendukung konsep kaderiasasi yang efektif dan multi fungsional dalam aplikasinya di masyarakat; oleh karena itu dibutuhkan konsep pengembangan organisasi yang lebih kondusif bagi penyemaian kader secara nasional dalam pengembangan organisasi perlu memenuhi kriteria sebagai berikut:

Pertama, pengembangan organisasi sangat terkait dengan perencanaan strategis yang membawa perubahan di dalam organisasi, menyangkut tujuan dan spesifikasi obyektif berdasarkan suatu diagnosa problematika yang melingkupi organisasi.

Kedua, bahwa pengembangan organisasi berimplikasi pada perubahan perilaku anggota, yang diarahkan pada pola kerja sama partisipatif, sehingga organisasi dapat mencapai efektifitas yang tinggi.

Ketiga, program pengembangan diarahkan pada pola kinerja hingga mana anggota organisasi berlomba mencapai prestasi terbaiknya (fastabiqul khairat), mampu berperan dalam dinamika zaman, termasuk memperbaiki eksternal bersama gerakan mahasiswa lainnya menjadi agen kontrol perubahan baik yang berkaitan dengan kekuasaan negara maupun realitas sosial lainnya.

Keempat, pengembangan organisasi harus merupakan suatu kumpulan nilai manusiawi, baik mengenai masyarakat, anggota organisasi, sehingga organisasi dapat membuka peluang bagi pengembangan potensi sumber daya manusia. Struktur organisasi dapat menjadi enerji bagi kaderisasi, karena kader yang terserap dalam struktur kepengurusan akan secara otomatis terkader dari sisi leadershipnya.

Kelima, pengembangan organisasi merupakan representasi dari pendekatan sub sistem yang menyangkut hubungan berbagai divisi, departemen, kelompok dan individu-individu yang saling bergantungan dalam sub-sistem organsisiasi dan di dalam organisasi secara menyeluruh.

Tantangan HMI
Tantangan HMI pertama, hilanganya supremasi sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa yang dapat mengandalkan proses kaderisasi ala HMI telah dilakukan oleh banyak organisasi lain. Gagasan HMI harus melakukan metamorposes dalam wacana kontemporer dengan nuansa yang baru dan visi ke depan yang cerdas.

Kedua mengembalikan wacana intelektual sebagai basis nilai tambah HMI. Ketiga, harus ada sebagian anggota HMI yang bertekun-tekun mempertajam visi intelektualnya. Jangan seluruhnya terkonstrasi ke dunia politik. Gerakan intelektualisme mengatarkan pada ketercerahan manusia dalam menghadapi persoalan-persoalan kehidupannya dengan melakukan pengayaan dan pengembangan potensi.

Kualitas Kader
Awal berdirinya HMI merupakan sinergi antara kekuatan politik praktis sebagai lahan perjuangan dan kualitas intelektual sebagai lahan pengabdian. Kembali ke khitah harus lebih mengembangkan orientasi perkaderan yang lebih mengedepankan nilai-nilai profesionalitas keilmuan dan tetap terampil sebagai kekuatan moral.

Sebagai kekuatan moral praktis HMI harus mempertahankan dan menjaga independensi. Independensi bisa diwujudkan apabila HMI menjadi lembaga profesional dan tidak tergantung kekuatan politik maupun kekuatan ekonomi. Sehingga keperpihakannya pada nilai yang dibawa oleh masing-masing stakeholder. Bukan berpihak kepada orang atau lembaga, namun lebih pada nilai-nilai yang diperjuangkan.
Profesionalisme secara kelembagaan tidak berarti harus didukung oleh banyak anggota sebagai sumber insani pembangunan, namun berapun secara kuantitas bukan menjadi halangan mengembangkan dan mengoptimalkan potensi generasi muda. Kelompok kecil yang profesional jauh lebih efektif pengaruhnya dalam percaturan organisasi pada masa yang akan datang.

Oleh karena itu bagaimana format gerakan HMI di masa yang akan datang? Paling tidak HMI harus melakukan langkah-langkah revitalisasi HMI sebagai strategi pengembangan visi perjuangan yang tidak boleh meninggalkan subtansi visi yang selama ini. Visi yang harus dikembangkan lebih ditujukan kepada kualitas kader. Hal ini sejalan dengan HMI tampil sebagai gerakan kultural.

Posisi gerakan kultural juga sesuai dengan tugas utama HMI sebagai organisasi perkaderan yang tugas utamanya mencetak manusia berkualitas akademis yang bernafaskan Islam. Artinya seorang kader yang tidak hanya cerdas namun juga mempunyai komitmen moralitas yang tinggi sesuai dengan ajaran Islam. Nilai-nilai moralitas itulah yang sangat dibutuhkan di masa depan.

Krisis kebangsaan berpangkal dari tercerabutnya moralitas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sehingga menjamurnya aneka penyelewenangan birokrasi hingga pemanfaatan politik hanya untuk kepentingan kekuasaan belaka yang jauh dari nilai-nilai pemberdayaan dan berpegang pada etika profesional.

Sebagai kader umat dan kader bangsa HMI mampu memainkan peran transformatif masyarakat Indonesia, dengan semangat etis dan daya profetis Islam HMI mampu menyumbangkan yang terbaik bagi umat, sebagai anak umat Islam, mestinya HMI memperkaya khasanah pemikiran-pemikiran konseptual dan upaya-upaya operasional dalam upaya memperjuangkan syiar Islam secara substansial maupun universal di negeri Pancasila ini.

Pada tahapan ini HMI punya tanggung jawab besar untuk menerjemahkan ajaran Islam yang universal dan kosmopolitian menjadi kenyataan sejarah dalam pergaulan hidup masyarakat. Sehingga HMI mampu menjadi kader umat dan kader bangsa. Dirgahayu HMI.

2 thoughts on “REVITALISASI HMI SEBAGAI KADER UMAT DAN BANGSA

  1. supatno mengatakan:

    mohon bimbingan untuk mendata alumni HMI di wonogiri. YAKIN USAHA SAMPAI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s