PERAN MASYARAKAT DI TENGAH ANOMALI PENEGAKAN HUKUM

PERAN MASYARAKAT DI TENGAH ANOMALI PENEGAKAN HUKUM
Oleh Muhammad Julijanto

Anomali (ketidaknormalan; penyimpangan dari normal) dalam penegakkan hukum telah membuka mata kita bahwa memang sungguh bobrok penegakan hukum kita. Aturan sudah dibuat dengan kata-kata yang indah dan memberikan jaminan. Namun pelaksanaan pasal-pasal aturan tersebut menciderai rasa keadilan rakyat.
Apa yang tercantum dalam pasal hanya diterapkan yang menguntungkan, bahkan tidak segan-segan pasal tinggal pasal dan penegakkannya nyaris tidak ada.
Kisah yang muncul dari Lembaga Pemasyarakatan Bojonegoro, Jawa Timur, 27 Desember 2010 dimana ada joki yang dapat menggantikan narapidana di penjara. Seorang terpidana yang seharusnya tinggal di sel, Ny Kasiem, bahkan diketahui membayar Karni Rp 10 juta untuk menggantikannya menjalani hukuman (Solopos, 6/1/2011). Belum lagi seorang Gayun Hp Tambunan yang sedang dalam proses hukum bisa keluar masuk dari penjara dan melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan penyelesaian proses hukum. Belum lagi kepala daerah terpilih Jefferson Rumajar dalam pilkada sebagai status terdakwa dilantik dan bisa mengambil sumpah pejabat eselon tiga di rumah tahanan.
Peran Masyarakat Sipil
Tiga kejadian tersebut mempertontonkan bahwa uang bisa membeli segalanya. Aparat seakan takluk kepada kekuatan uang. Kejadian itu terungkap bukan karena mekanisme pengawasan aparat, melainkan karena peranan warga negara yang melakukan kontrol sosial. Warga negara yang melakukan kontrol sosial seyogyanya diberi perlindungan oleh negara di tengah lemahnya mekanisme pengawasan pemerintah.
Peran masyarakat tersebut dalam istilah Aristoteles (384-322 SM) menyebut kolonia politike sebuah komunitas politik tempat dimana warga dapat terlibat secara langsung dalam berbagai percaturan ekonomi-politik dan pengambilan keputusan. Sebuah masyarakat politis dan etis, yang warga negara berkedudukan sama di depan hukum. Entitas yang terdiri dari komunitas sosial, politik, dan perangkat hukum.
Perbedaan antara civil society dan masyarakat madani? Civil society berasal dari konsep dan tradisi Barat, dibangun diatas landasan ideologi liberalisme, individualisme dan sistem ekonominya kapitalis, konsep ini diusung oleh kaum tradisionalis. Sedangkan masyarakat madani dibangun dari konsepsi masyarakat yang dibangun dalam tradisi dan kehidupan Rasulullah Muhammad Saw ketika bermukim di Madinah. Realitas masyarakatnya plural, beragam dari berbagai kelompok, etnis, budaya, dan keyakinan agama, tetapi mereka mempunyai satu tujuan untuk membangun sistem sosial yang lebih beradab, menghargai perbedaan, menghargai nilai-nilai kemanusiaan, menjaga harmoni sosial bersadarkan keadilan, mengedepankan musyawarah dalam pengambilan keputusan dan kebijakan. Memberdayakan ekonomi masyarakat yang adil dan sejahtera, penegakan hukum tidak hanya formalitas, namun lebih pada bagaimana subtansi keadilan dapat terpenuhi secara adil tanpa diskriminasi, masyarakat yang dibangun diatas landasan moralitas dan spiritualitas yang utama. Secara singkat dapat diungkapkan suatu cita masyarakat yang bal datun thoyibatun wa rabun ghafur suatu negara yang baik tentram damai, beradab yang sejahtera lahir dan batin. Rakyatnya dari semua element sosial selalu mendapatkan perlindungan dan pengayoman yang nyata. Masyarakat madani diusung secara konseptual oleh kaum modernis. Moderat, akomodatif, dekat dan bahkan merupakan bagian dari kekuasaan, dalam konteks di Indonesia di Zaman Orde Baru era 1990-an.
Masyarakat sipil dilansir oleh kaum tradisionalis, dimaknai sebagai kekuatan masyarakat vis-a-vis negara (pemerintahan, kekuasaan), tanpa berpretensi mengaitkannya dengan nilai-nilai, basis, tradisi, dan cita-cita Islam (Marzuki Wahid, 2004 : 183-184). Artinya masyarakat sipil adalah penguatan masyarakat secara umum melampaui berbagai “baju”, sektarianisme, dan primordialisme. Demokrasi hanya bisa diperjuangkan dan hanya ada jika masyarakat sipil kuat, sehingga mampu mengimbangi dan mengontrol negara (kekuasaan, pemerintahan, militer) yang cenderung korup dan otoriter.
Masyarakat madani diusung oleh kaum modernis, mencoba menerjemahkan civil society sebagai kekuatan masyarakat dalam konteks nilai, tradisi dan budaya Islam(i). Mereka mencoba merekonstruksi sejarah masyarakat di zaman Rasulullah Muhammad Saw dengan konsep piagam madinah. Piagam Madinah merupakan cermin konstruk masyarakat civil versi Islam(i) dari civil society. Dalam konsep masyarakat madani-berbeda dengan konsep masyarakat sipil – kekuatan masyarakat tidak dihadapkan dengan (pemerintah, kekuasaan) melainkan saling bekerjasama untuk membangun dan mewujudkan hal-hal yang luhur, entah itu bernama keadilan, kesejahteraan, demokrasi dan seterusnya.
Masyarakat madani tidak terbentuk secara sendiri, berati ada beberapa faktor, masyarakat madani bisa diciptakan? Mengapa kasus pelanggaran HAM bisa mengawali berkembangnya masyarakat madani di Indonesia? Masyarakat madani berfungsi untuk memberikan kontrol meluruskan yang menyimpang, dan memberikan terapi terhadap tatanan sosial yang kurang baik menuju tatanan sosial yang lebih baik dan maju. Masyarakat madani memberikan terapi yang jitu terhadap tata kehidupan yang lebih baik. Masyarakat madani tidak datang dengan sendirinya, yang tidak bebas, tidak krtitis, dan masyarakat yang tidak mau menegakkan demokrasi, kemudian berkembang mereka semakin sadar akan partisipasi dan dukungan mereka untuk mencapai tata kehidupan yang lebih baik.
Sosial kontrol justru mendapat perlakuan kriminalisasi. Semua bagian masyarakan mempunyai tanggung jawab bersama. Pers, mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil. Masyarakat sipil harus mempunyai data yang cukup untuk memberikan kritik dan meluruskan keadaan. Pers mempunyai fungsi kontrol terhadap tatanan sosial yang lebih baik, penegakan hukum. Kontrol pers terhadap penegakan hukum dapat dilakukan dari tahap pemeriksaan hingga pelaksanaan putusan pengadilan Pemimpin benar-benar bertanggung jawab terhadap warga negaranya, terwujudnya tatanan yang lebih baik. Kalau ada penyimpangan pemimpin bertanggung jawab dalam menangani masalah tersebut. Sesuai dengan hirarki kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki.
Kenyataan tersebut berbeda dalam penegakan hukum. Karena setiap ada penyimpangan selalu yang menjadi korban atau yang dikrobankan adalah aparatur tingkat bahwa atau sahanya sekedar operatir di lapangan, sedangkan komandan atau pemimpin sejati yang berada di balik layar tidak mampu terungkap, sehingga kasus demi kasus akan hanya berkutat pada permukaan saja, tidak sampai pada akarnya.
Demikian juga dalam kasus pembunuhan terhadap pejuang HAM Munir, SH. Hingga kini kasus hanya berhenti pada sang pilot Poli Carpus, masih ada missing link. Akankah kasus hukum yang sudah terbuka di depan publik leyap dan hanya berada pada peri-peri dan tidak menyentuh subtansi keadilan.
Sudah terbukti kinerja aparat penegak hukum tidak maksimal ketika menangani kasus hukum yang melibatkan pemangku kepentingan kekuasaan. Tumpul dalam penanganan. Sebaliknya ketika berhadapan dengan rakyat yang tidak punya power begitu tajam dan cepat dalam menyelesaikan, bahkan putusannya lebih berat. Setiap level penegakan hukum harus selalu dikawal masyarakat terlibat aktif mengawasi kinerja penegak hukum. Mereka sudah bersumpah ketika awal dinobatkan sebagai pemangku kepentingan. Mestinya sumpah selalu terngiang dalam setiap detak penegakan hukum, agar moralitas, keadilan menjadi garda terdepan spirit penegakan hukum. Awasi mereka agar hukum ditegakkan adil.
Oleh karena itu dibutuhkan peran masyarakat sipil agar lebih kuat dalam memberikan kontrol terhadap level penyelenggaraan negara, termasuk dalam penegakan hukum baik di tingkat kepolisian, kejaksaan, KPK, hingga proses pro justisia di Pengadilan hingga eksekusi.
Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag adalah Sekretaris LBH Perisai Kebenaran, Wonogiri, Dosen IAIN Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s