MENGATASI KRISIS EKONOMI KELUARGA

Oleh Muhammad Julijanto
(Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IAIN Surakarta, Sekretaris Majelis Tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah Wonogiri)

Gaya hidup manusia modern tidak lepas dari glamor dan serba mewah. Sekalipun apa yang sesungguhnya tidak mencerminkan apa yang dirasakan. Banyak keluarga yang koleps atau pailit karena tidak adanya kestabilan antara pendapatan dan pengeluaran, sehingga keluarga baru yang akan dibangun sudah menanggung utang, apalagi seiring dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga kemampuan untuk mengembalikan hutang semakin sulit seiring dengan tingkat kebutuhan yang volumenya meningkat drastis.

Oleh karena itu perlu upaya untuk mengatasi krisis ekonomi keluarga, sehingga keluarga bisa bangkit dan hidup normal dan memenuhi semua kebutuhan dan hidup dengan tenang tanpa dihantui oleh hutang.
Memunculkan gagasan ekonomi keluarga agar keluar dari kemelut krisis ekonomi keluarga karena besar pasak daripada tiang. Seharusnya setiap keluarga bisa mengatasi masalah keuangan yang menghimpit. Setiap keluarga harus bisa bangkit dan tumbuh menjadi keluarga yang solid dan punya visi dan misi yang akan datang membangun sumber daya dan menjadi bagian dari perubahan kearah yang lebih baik.

Hidup dengan tidak punya hutang adalah yang terpenting. Hidup tanpa hutang adalah kemerdekaan yang luar biasa. Karena hutang adalah ancaman sekaligus sebagai lecut untuk berusaha keras dan membanting tulang menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tidak ada uang tanpa kerja keras, tidak ada pendapatan tanpa investasi dan investasi membutuhkan dana yang cukup karena dengan investasi uang akan bekerja untuk pemilik uang tersebut, sehingga uang menghasilkan uang kembali, itulah yang disebut investasi. Namun mayoritas keluarga di Indonesia belum bisa mencapai idealisme tersebut, karena kebutuhan dan modal yang dimiliki habis untuk konsumsi, nyaris tidak bisa melakukan investasi. Tetapi dibutuhkan kerja dan modal yang cukup sehingga tidak ada uang yang tidak menghasilkan sesuatu.

Untuk menuju kearah keluarga investasi, setiap keluarga membutuh modal untuk bisa menjadi langkah awal berusaha, atau dengan menjadi karyawan dan tenaga kerja yang tekun. Atau membuka usaha mandiri dengan kreativitas yang dimiliki.

Keluarga Pailit

Fenomena banyaknya suami telantarkan istri berdasarkan data di Pengadilan Agama Kota Surakarta menunjukkan bahwa krisis keuangan keluarga memang bukan persoalan sepele, sebab akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dalam konteks yang luas. Implikasinya pada bagaimana pertumbuhan anak dan harmonisnya setiap rumah tangga.

Pengadilan Agama Surakarta mencatat hingga Agustus 2011 jumlah kasus perceraian yang disebabkan suami menelantarkan anak dan istrinya mencapai 190 kasus. Perkawinan yang rentan perceraian ialah bagi pasangan nikah usia 30-40 tahun. Prahara keluarga rata-rata diajukan oleh istri kepada suaminya alias kasus cerai gugat. Kasus perceraian karena faktor ketidakharmonisan keluarga mencapai 117 kasus. Kasus pemicu perceraian lainnya, yakni adanya faktor orang ketiga yang mencapai 52 kasus. (Koran O, 13/9/2011 hlm. 4).

Bandingkan dengan data Pengadilan Agama tahun 2009 pemicu perceraian berdasarkan disebabkan oleh faktor-faktor: suami tidak bertanggung jawab sebanyak 209 kasus, tidak adanya keharmonisan 84 kasus, ganguan pihak ketiga 60 kasus, krisis akhlak sebanyak 46 kasus, krisis ekonomi sebanyak 46 kasus dan lain-lain penyebab perceraian sebanyak 183 kasus” (Solopos, 3/1/2011 hlm. 5).

Membaca data-data tentang kehidupan rumah tangga, bukan sebagai suatu fenomena yang biasa yang tidak ada implikasi sosial dan politiknya. Justru sebaliknya fenomena tersebut mestinya menjadi bahan kajian dari lembaga atau instansi yang berkaitan dengan upaya peningkatan kesejahteraan keluarga dan pembinaan keluarga sakinah.

Fenomena tersebut merupakan implikasi dari ketidakberhasilan program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah. Akibat maraknya korupsi yang menyebabkan sektor ekonomi lainnya tidak bisa bergerak dengan leluasa, karena dana yang dikorupsi seharusnya sampai kepada masyarakat berhenti pada para pelaku pengambil kebijakan dan tidak menetes kepada masyarakat secara luas melalui berbagai program pemberdayaan. Belum lagi bila kita kaji lebih dalam adanya fenomena banyak program pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah yang juga menjadi obyek korupsi baru. Sepertinya halnya program PNPM, PPK, P2KP, dan lain-lain.

Pailitnya keluarga merupakan imbas dari menimnya pemberdayaan keluarga, program-program pemberdayaan melalui Kantor Urusan Kecamatan (KUA) sebagai contoh hasil kajian sementara belum bisa menyentuh kebutuhan dasar pembinaan keluarga pra sakinah, sakinah 1, sakinah 2 serta sakinah plus.

Keluarga pra sakinah adalah keluarga yang tingkat pemahaman keagamaan dan praktek keagamaannya sangat minim, bahkan nyaris tidak mempunyai pengetahuan agama sebagai dasar pembinaan keluarga, sehingga bila menghadapi konflik dalam rumah tangga rentan sekali terjadinya perceraian khususnya dalam masalah ekonomi. Peringkat ini yang paling banyak di tengah masyarakat. Keluarga sakinah level satu, adalah keluarga yang sudah mulai beranjak mempunyai kualitas pengamalan kehidupan rumah tangganya dalam bidang agama sudah cukup dibanding keluarga pra sakinah, jenis keluarga ini sudah mengamalkan ajaran agama khususnya dalam ibadah-ibadah maghdah seperti shalat lima waktu, puasa, membayar zakat. Profil keluarga sakinah satu ini masih banyak di masyarakat tetapi komposisinya masih dibawah pra sakinah. Sementara keluarga sakinah level dua dan keluarga sakinah plus hanya bisa ditempat oleh segelinitir keluarga yang ada di suatu daerah. Modal keluarga sakinah dua dan sakinah plus merupakan dambaan bangsa Indonesia.

Keluarga sakinah dua merupakan keluarga yang sudah mampu menjalan ajaran agama secara kuantitas dan kualitas, namun masih belum sempurna seratus persen. Anggota keluarga sakinah dua sudah tidak mempersoalkan bagaimana dapur bisa ngebul dalam arti kebutuhan ekonomi rumah tangga tercukupi, bahkan tipe keluarga ini kemiskinan sudah bisa dientaskan, tetapi dalam bidang pengamalan agama dan praktek agamanya masih sekedar hanya untuk kepentingan dirinya, keterlibatan mereka dalam berbagai inven dan kegiatan keagamaan belum optimal. Sedangkan model keluarga sakinah plus adalah keluarga yang secara kuantitas dan kualitas pengamalan ajaran agama dan kegiatan ekonominya sudah sempurna. Inilah profil keluarga muslim Indonesia yang sejahtera jasmani dan rohani. Secara kualitas pengamalan ajaran agama dan pengetahuan agama sudah singkron, kiprah dan partisipasi dalam mendorong masyarakat dalam bidang kegamaan dan sosial sangat kental, seluruh anggota keluarga sakinah plus antusias dalam kehidupan sosial keagamaan. Bahkan secara kuantitas amal sosialnya bisa nampak, seperti lima rukun Islam sudah tertunaikan semuanya, ibadah yang berbasik pada kemampuan ekonomi berjalan dengan baik, seperti haji, zakat, infaq, shadaqah, wakaf. Bahkan wakaf yang berupa tanah untuk kepentingan ibadah sosial semakin hari meningkat.

Pernikahan adalah rahmat yang harus dipelihara dengan baik oleh setiap pasangan, sehingga akan menjadi keluarga yang sakinah, jika keluarga tenteram dan damai, maka akan tercipta generasi dan tatanan sosial yang lebih baik, karena setiap rumah tangga akan mengelola kehidupannya dengan baik pula. Sebaliknya bila keadaan rumah tangga sudah berantakan, kontribusi kepada masyarakat akan terganggu, disebabkan terjadi ketidak harmonisan dalam kehidupan rumah tangga.

Maka untuk menekan angka perceraian di antaranya dengan melalui berbagai upaya seperti; kursus pra nikah, penguatan rumah tangga sakinah yang dilaksanakan oleh stakeholders yang tidak hanya dari kalangan pemerintah tetapi juga ormas keagamaan, lembaga sosial kemasyarakat dan KUA sebagai liding sektornya. Kita berharap rumah tangga Indonesia mempunyai kualitas dan memberikan kontribusi positif terhadap tatanan kehidupan yang lebih baik

artikel ini bersumber dari Suara Muhammadiyah No 23/Th. 69. Edisi 1-15 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s