Tantangan Masyarakat Multikultural Indonesia

Tantangan Masyarakat Multikultural Indonesia

Oleh Muhammad Julijanto

 

Agama berbicara tentang realitas kehidupan. Agama yang tidak mampu menyesuaikan diri akan ditinggalkan oleh umatnya. Apakah dengan demikian agama akan meninggalkan idealisme moralitas yang menjadi misi utamanya bukan hanya sekedar urusan pragmatis yang hanya menguntungkan saat ini saja. Dimensi agama berada pada dua kaki, yaitu problem sosial yang riil harus dihadapi dan harus diselesaikan, sementara dimensi ukhrawiyah yang mempunyai dimensi spiritual lebih menekankan pada aspek religiusitas, moral dan etika dalam kehidupan sosial.

Mengapa agama seakan tidak berfungsi menghadapi sistem yang korup, kekuasaan yang korup, nilai-nilai moral yang korup, dimana sistem sosial yang sudah sedemikian parah, sehingga seseorang akan melakukan sesuatu yang sesuai lebih dari sekedar mencari keuntungan saat ini, mereka berharap apa yang mereka lakukan saat itu harus membuahkan hasil yang utama dapatkan yang dahulu, daripada resiko masa depan yang belum pasti dalam logika berpikir sederhana dan berdimensi teologis?.

Respon Agama

Tantangan agama adalah kaya akan konsep yang ideal, tetapi miskin aplikasi. Di sinilah penganut agama/agamawan, intelektual dan praktisi dakwah harus bisa menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Agama adalah nasehat, setiap ajaran agama mengajarkan kritik sosial yang membangun, karena mengembalikan pemikiran manusia kepada realnya secara utuh, kaidah apa yang harus diikuti dan dijalani dalam rangka menempuh peta kehidupan yang jauh. Setiap nasehat akan menjadi semacam terapi atau obat yang terasa pahit, namun hakikatnya adalah menyembuhkan penyakit yang ada. Kepahitan akan berbuah pada kemanisan dan kenikmatan bila mampu meneruskan dan berlaku sebagaimana norma yang dijalankan, sebaliknya membiarkan penyakit semakin kronis akan membawa kepada kerugian dan kehancuran masyarakat pada masa yang akan datang.

Pemahaman dan kesadaran keberagamaan tidak sama dalam implementasinya di tengah realitas sosial yang ada. Maka wajar jika banyak orang yang pesimis terhadap nilai-nilai kejujuran jika diamalkan. Kepesimisan tersebut mengakar karena kebohongan, kemunafikan dan pengingkaran terhadap nilai-nilai kejujuran sudah sedemikian parah, bahkan bisa dikatakan sebagai suatu kondisi yang sudah kronis, orang yang jujur justru mendapatkan perlakuan yang sebaliknya, sedangkan orang yang curang mendapatkan kemuliaan dan penghargaan. Padahal pola perilaku yang seperti anomali hakikatnya adalah pembunuhan karakter yang akan menghancurkan tatanan sosial yang lebih baik.

Oleh karena itu untuk apa sebuah kejujuran harus diperjuangkan, sementara semua orang ramai-ramai melegalkan kecurangan dan ketidakjujuran. Sedangkan orang yang hidup dengan apa adanya dan mengedepankan kejujuran, justru selalu dalam realitas yang tidak menyenangkan, bahkan menjadi obyek diskriminasi dalam pelayanan.

Nilai-nilai keagamaan merupakan sekumpulan etika, dan bukannya sekumpulan aturan yang ketat dan eksklusif (A. Qodri Azizy dalam Kamdani, 2007: 178-180). Agama diberikan Tuhan untuk manusia, dan bukan manusia untuk agama (Musa Asy’arie, 2005: 178-179). Artinya, agama dalam bentuknya akan bergerak dari individu untuk kemaslahatan masyarakat. Pergerakan nilai-nilai keagamaan itu menunjukkan bahwa agama tidak saja persoalan hati dan iman, tetapi juga merupakan persoalan cognitive content (Muhammad Iqbal, 2008: 4-5). Berpijak pada realitas di atas, eksistensi manusia harus dilihat dari dua sisi, yakni: (1) sisi pemahaman dan realisasi ajaran agama dalam kehidupan, dan (2) sisi nilai-nilai keagamaan yang berperan untuk membela kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan (Musa Asy’arie: 178-179). Dengan demikian, Islam telah memberi ajaran kepada umatnya bahwa umat Muslim harus memiliki kemampuan untuk merumuskan prinsip-prinsip etis dan evaluasi dalam menghadapi kehidupan modern.

Ajaran agama Islam memberikan kerangka moralitas yang sangat padat, dan itu sifatnya sangat personal (pertanggungjawaban perbuatan) dalam aplikasinya bersifat sosial implikasinya. Karena masalah moral sangat tergantung bagaimana individu mencermati dan meresapi apa yang seharusnya dilaksanakan dan apa yang seharusnya dihindari atau dicegah agar tidak terjadi penyimpangan moral yang akumulatif. Dalam konteks kenegaraan seorang pemimpin seharusnya ikut merasakan bagaimana penderitaan yang dialami oleh masyarakat bawah di tengah kehidupan dan persaingan yang sulit, terutama dalam suasana krisis keuangan, namun para pemimpin tega berfoya-foya bahkan meningkatkan fasilitas jabatan dan pendapatannya secara berlebihan, sementara sebagian rakyatnya begitu sulit untuk mencapai kehidupan layak.

Agama mempunyai pengaruh persuasif dalam mengembangkan ketaatan beragama. Mempengaruhi para pengambil keputusan strategis dalam masyarakat. Pemberantasan tindak pidana korupsi dibutuhkan stamina yang cukup. Sebab kekuatan korup akan menggunakan segala daya upayanya untuk melawan, berusaha mencari jalan-celah untuk menutupi perilaku yang menyimpang dalam pada perintah agama sekaligus ketaatan terhadap segala peraturan perundangan sebagai bagian dari ibadah sosial.

Demikian juga masyarakat multikultural bukan suatu hambatan dalam mengembangkan masyarakat Indonesia yang lebih beradab berkemajuan dan berkelanjutan.

 

Muhammad Julijanto, S. Ag., M. Ag adalah Peminat Kajian Keislaman dan Keindonesiaan, Dosen Fakultas Syariah IAIN Surakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s